HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

HIMspirit : daftar artikel Jan-Des’08

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 9:03 pm on Monday, December 22, 2008

Pembaca Yth,

Untuk memudahkan navigasi atas tulisan HIMspirit yang anda ingin cari, berikut dibawah ini saya rangkum dalam indeks artikel untuk edisi tahun 2008 di kolom kategori. Terima kasih atas atensinya. God bless you.

 

 

Edisi Januari – Februari 2008

Have I told you lately that I love you :

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. ( Amsal 31 : 23 )

Branding you :

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebuh baik daripada perak dan emas ( Amsal 22 : 1 )

Predicting success :

Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap penuh kepercayaan kepada Tuhan ( Mazmur 112 : ? )

Copying to greatness :

Sebab lebih baik satu hari di pelataranMU daripada seribu hari di tempat lain ( Mazmur 84 : 11 )

 

 

Edisi Maret - April 2008

The light of understanding :

Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan ? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya ? ( Roma 11 : 34 )

Trusted leader :

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tak lebih daripada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat disamakan ? ( Yesaya 2 : 22 )

No matter what :

Karena itu Aku berkata kepadamu : apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. ( Markus 11 : 24 )

I wanna be rich :

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMU dan berkata : Siapa Tuhan itu ? Atau kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. ( Amsal 30 : 8b-9 )

 

 

Edisi Mei - Juni 2008

Measured patience :

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang yang memberi kekuatan kepadaku. ( Filipi 4 : 13 )

What it possible to achieve :

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. ( Markus 12 : 44 )

Reputation :

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya ? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. ( Amsal 22 : 29 )

Becoming your best friend :

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. ( Amsal 17 : 17 )

 

 

Edisi Juli - Agustus 2008

Time changes everything except us :

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan daslam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah Dari awal sampai akhir ( Pengkhotbah 3 : 11 )

Never say never again :

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum ! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. ( Roma 12 : 20 )

Show me the money :

Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10 : 22 )

When you believe :

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ? ( Mazmur 8 : 5 )

 

 

Edisi September - Oktober 2008

Onion effect :

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu. ( Mazmur 119 : 71 )

Doable is the best vision :

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia ( I Korinus 2 : 9 )

How practical are you :

Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ( Amsal 12 : 24 )

The roles we play :

Maka janganlah kau katakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. ( Ulangan 8 : 17 )

 

 

Edisi November - Desember 2008

Crisis is the best reason for change :

Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya. Padahal engkau mampu melakukannya ( Amsal 3 : 27 )

Deciding to be happy :

Berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur ( Matius 5 : 4 )

Leading a new self :

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. ( Amsal 18 : 12 )

Vacation and life :

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur. ( Mazmur 127 : 2 )

 

Vacation and life : 21 Des 08

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:58 pm on Monday, December 22, 2008

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur. ( Mazmur 127 : 2 )

 

Satu hal yang pasti dalam setiap perubahan adalah perubahan itu sendiri. Meskipun banyak orang merasa nyaman dalam area kemapanannya, tapi tokh waktu tidak berhenti untuk disesuaikan menurut standar zaman yang senantiasa bergerak. Sebagai contoh, mari kita tengok era 5-10 tahun lalu dimana teknologi usang yang dulu dianggap canggih kita sudah terbarukan oleh penemuan-penemuan perangkat yang seakan mempermudah proses suatu operasi produksi maupun aplikasi. Disisi lain, mungkin tanpa disadari kita tengah menjebak diri sendiri dengan berbagai piranti gadget yang dimiliki. Ketika berbagai software komunikasi dibenamkan dalam handphone, seolah jalan kehidupan kita sedang dirangkum dalam penjara berbentuk data.

Tak heran anjuran yang sering kita dengar bila seseorang atau sebuah keluarga hendak merencanakan liburan adalah putuskan sejenak dengan dunia luar, nikmati tanpa diganggu oleh berbagai interupsi. Kebetulan pula akhir tahun ini begitu banyak tanggal “kejepit”, jadi dengan cuti 4 hari ( 26, 30, 31 Desember dan 2 Januari 2009 ) praktis bisa mendapatkan libur sebanyak 11 hari, he3…

Maka merayakan liburan seolah menjadi pelepas penat setelah melakukan pekerjaan yang mungkin mayoritas dari kita merasakannya sebagai beban daripada kesenangan dapat bermanfaat bagi perusahaan maupun orang yang kita sayangi. Tugas dianggap sebagai kewajiban yang sebisa mungkin harus dijauhi ketimbang sebagai hak kita untuk berhasil. Namun bukankah dalam episode penciptaan alam semesta, Beliau sendiri telah memberi teladan untuk menghormati apa yang namanya waktu beristirahat bagi manusia ?

 

Bagi penulis pribadi, lembur atau pulang malam demi tuntasnya bukan menunjukkan bahwa kita berdedikasi bagi perusahaan pada pencapaian tugas kita. Mungkin anda pernah mendengar kalimat pilihan dari sebuah iklan produk rokok : kerja malam biar pagi santai atau kerja pagi biar malam santai ? Waduh, pekerjaan kok menjadi sebuah “kutukan”, bersusah payah demi menafkahi pribadi maupun keluarga, sehingga demi materi yang tidak seberapa, banyak orang berpikir jalan pintas dengan melakukan perbuatan yang tidak halal. Seolah Tuhan tidak dipercaya bisa memberikan berkat kekayaan dalam jumlah yang tak terbatas dengan cara ajaib yang tak kita pahami. Maka berdoa dan bersabarlah. Bukankah kita semua tengah menunggunya ?

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Einstein dalam teori relativitasnya mengumpamakan secara sederhana kira2 dalam kalimat begini ( maaf kalau kutipannya nggak pas dengan aslinya ) : “1 jam terasa cepat untuk orang yang tengah bertemu kekasih, tetapi 1 menit akan terasa lama untuk orang yang tengah mengerang kesakitan”. Bila pekerjaan dianggap sebagai hobi, mengeluh bukanlah sebuah beban, tetapi pengharapan bahwa dibalik tekanan itu semua ada janji keberhasilan. Sayangnya, berapa banyak dari kita yang bertahan dengan pekerjaan yang tidak kita sukai, lalu pasrah dengan sebisa mungkin melakukan adaptasi atas apa yang kita lakoni ?

 

Maka liburan menjadi waktu untuk introspeksi diri untuk menghitung pelajaran apa yang kita dapat dari masa yang berlalu. Mencatat kembali resolusi apa yang belum tercapai seiring berjalannya tahun2 melangkah. Kita semua memang dalam posisi menanti, namun bukankah banyak dari kita yang justru merasa masa penantian tersebut terlalu singkat hingga kerap berujar kekurangan waktu untuk menyelesaikan apa yang ada didepan kita.

Menyibukkan diri demi alasan klise “mengejar karir” mungkin sudah hal jamak, namun tak ada salahnya kita pun memiliki tempat persinggahan sejenak untuk berhenti dari segala aktivitas. Seperti terkutip dalam ayat pembuka diatas dan juga masih diamini banyak orang, berikan kesempatan pada Tuhan untuk membuktikan janjiNya bahwa apa yang kita dapat selama ini bukan semata kerja keras yang tidak layak kita banggakan secara berlebihan, namun lebih karena atas perkenanNya. Bersyukurlah atas apapun juga. Happy holiday !

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. ( Yesaya 46 : 4 )

 

HiMTquote :

Yang menempatkan anda dalam posisi kebintangan adalah antisipasi kebaikan dalam pekerjaan, dan penghindaran penyia-nyiaan waktu dalam kekhawatiran dan kemalasan. ( MTST – Vacation &life )

 

Leading a new self ( 07 Des 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:53 pm on Monday, December 22, 2008

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. ( Amsal 18 : 12 )

 

Setiap jelang akhir tahun seperti ini, biasanya banyak orang melakukan introspeksi diri atas hari-hari yang telah dilaluinya selama tahun yang berjalan untuk kemudian mempersiapkan diri menyambut apa yang dituju di tahun berikutnya. Menghitung kembali berapa banyak resolusi yang telah dipatok tahun sebelumnya yang tidak terlaksana untuk kemudian diperbaharui kembali agar bisa terealisasi di tahun selanjutnya.

Di beberapa kesempatan wawancara pekerjaan yang sempat penulis ikuti beberapa tahun silam, seringkali terngiang pertanyaan staf HRD berikut : “Bila anda diterima bekerja disini, apa yang diharapkan dari perusahaan ini bagi anda dalam 5 tahun kedepan ?”. Mungkin beberapa dari kita yang sedang mengisi posisi entry level akan menjawab : minimal jadi manajer dech atau kepala cabang dimana gitu. Terasa janggal sekali kalau ada jawaban : itu terserah kebijaksanaan perusahaan saja. Lho, berarti sang pelamar merasa dirinya tidak bijaksana donk ?!

 

Beberapa iklan sms ngawur di tv mempromosikan bisa memprediksi tentang kecocokan pekerjaan, jodoh, nasib, maupun karir berdasarkan tanggal lahir. Sebagian lainnya masih pakai cara konvensional, tanya ke dukun atau paranormal. Minta diramal bagaimana masa depannya, dan kalau dibilang buruk tak lupa dimintakan apa penangkalnya.

Manusia pada dasarnya tidak suka ketidakpastian. Padahal dalam ketidakpastian segala sesuatu mungkin terjadi. Masalahnya adalah kadang kita tidak mau mengalami kemungkinan terburuk, sebisanya akibat jelek yang mungkin timbul bisa diminimalisir dulu. Dalam perusahaan, muncullah yang namanya pekerjaan membuat anggaran dan manajemen resiko. Ketika nilai dollar terus menguat akhir-akhir ini, mungkin bagian budget mengalami stress, asumsi digonta-ganti terus sehingga kalkulasinya berubah melulu, mana proses hitungnya manual lagi.

 

Omong-omong soal asumsi, mungkin banyak dari kita yang menilai dirinya terlalu ketinggian. Misalnya mengira dirinya sudah bekerja keras bahkan sampai lembur berhari-hari, tapi tidak diperhatikan atasan. Merasa sudah memberikan yang terbaik dari yang bisa dilakukannya, tapi yang mengambil manfaat dari itu semua adalah nama baik bosnya. Lalu dalam setiap doa kita panjatkan : aku telah berbuat yang terbaik, tetapi mengapa belum juga ditemukan oleh orang yang terbaik juga ? Apa yang salah ?

Jebakan yang kerap tidak sadari adalah ungkapan “telah berbuat yang terbaik”, benarkah ? Siapa yang memampukan anda untuk bisa berbuat yang terbaik ? Lha, namanya asumsi khan menurut pandangan kita sendiri, belum tentu orang lain memandangnya demikian. Kadang kita tidak mengenali kemampuan kita sendiri, mungkin di setiap ujian yang ada kita dibuat mengetahui kemampuan pribadi tersebut, lalu berlanjut bagaimana menggunakan kemampuan itu, kemudian meningkatkannya. Atau itu mungkin suatu pemberitahuan bahwa justru kita bisa berbuat lebih baik lagi dalam potensi terpendam yang belum kita sadari sepenuhnya.

 

Pekerjaan yang kita jalani sekarang bukan karena kita pantas mendapatkannya. Karena bila kepantasan posisi jabatan itu ada, kita akan dibuat merasa nyaman dan tidak mau bergerak dinamis. Dari tahun ke tahun, penulis berusaha membuat pekerjaan yang digeluti menjadi jauh dari kepantasannya supaya lekas naik kelas. Namun Beliau dengan lembut memberi rambu-rambu seperti ayat pembuka yang tercantum diatas. Belajar bahwa ada tahapan proses yang harus dilewati. Seperti kerinduan penulis untuk mandiri dengan membuka usaha sendiri, tidak bergantung pada suruhan orang lain. Ini bukan lagi semata soal materi atau harta, tetapi aktualisasi kepemimpinan diri untuk menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Bahwa sungguh tragis bila kita meratapi nasib bergantung penghasilan yang didapat tiap bulannya dari orang lain.

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman : “Aku sekali-kali tidak membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” ( Ibrani 13 : 5 )

 

 

HiMTquote :

Yakinlah, bahwa dia yang melebihkan kebaikan untuk orang lain, akan dilebihkan kebaikan baginya. Sebaliknya, dia yang mengurangkan dari yang menjadi hak orang lain, akan menjadikan dirinya justru semakin terkurangkan oleh kelebihannya. ( MTST – Leading a new self in 2006 )

 

Deciding to be happy ( 24 Nov 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:46 pm on Monday, December 22, 2008

Berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur ( Matius 5 : 4 )

 

Berbahagialah orang miskin, karena tidak ada pilihan selain memampukan dirinya menjadi orang kaya. Terdengar ironis memang, bahkan mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai kalimat penghinaan ketimbang sebagai slogan penyemangat hidup. Bahwa status miskin yang biasanya diolok-olok sebagai miliknya orang susah, secara realitasnya tidak melulu berarti mereka juga tidak berhak merasakan apa yang namanya kebahagiaan. Banyak orang berusaha membeli kebahagiannya dengan datang ke tempat2 yang diharapkan dapat menerima diri apa adanya, namun semua itu hanya semu semata.

Bahagia bukan bicara soal berapa banyaknya materi yang kita miliki. Bahagia adalah soal keputusan dalam menghargai keberadaan kita di muka bumi ini. Belum bosannya penulis mengutip peristiwa umum yang biasanya dialami pekerja kelas bawah, apalagi kalau bukan soal gaji. Anda tidak puas soal gaji, penulis pun mengalaminya. Namun apakah anda bahagia dengan penghasilan yang didapat sekarang ini, itu soal lain lagi. Ketika anda tidak bahagia, secara tak langsung anda tidak bersyukur atas apa yang telah diterima. Mungkin penjelasan seperti ini menjengkelkan, namun sekali lagi ini soal keputusan.

 

Terkadang yang kita anggap suatu karunia adalah sesuatu yang besar, yang mencengangkan, ataupun yang membuat pribadi kita merasa takjub. Bila menang hadiah undian, kita anggap sebagai keajaiban. Jika kita sembuh dari penyakit yang parah, maka itu adalah mukjizat. Tanpa disadari bahwa sesuai slogan artikel : “life is a miracle”. Atau mungkin pembaca lebih familiar dengan ungkapan “life is a gift”, secara sederhananya “ hidup adalah pemberian”. Mungkin karena mentang2 “diberi” maka hidup seolah-olah tidak masalah untuk disia-siakan. Bandingkan bila hidup diberikan bila kita telah berupaya dulu untuk mendapatkannya, seperti kite harus bekerja dulu untuk mendapatkan upah. Makanya penulis lebih suka menulis bahwa kehidupan itu adalah “keajaiban” yang dicurahkan olehNya. Bahwa ditengah nalar dan rasionalitas kita, bukankah ajaib segala yang dijadikan dan diperbuatNya untuk kita selama ini ?

Bila demikian mengapa manusia mesti mengalami penderitaan dan cobaan ? Penulis agak merenung sejenak untuk mencerna istilah “ibunya adalah kesulitan dan bapanya adalah upaya” dalam menatap konsep mengharapkan keajaiban. Bahwa upaya adalah pengubah nasib, tentu sudah banyak yang maklum. Sesuai dengan prinsip “ora et labora”, berdoa tanpa bekerja adalah malas, sedangkan bekerja tanpa berdoa hanyalah kesombongan semata. Tetapi upaya kadang bisa putus ditengah jalan, bila tak disertai dengan yang namanya kesungguhan.

 

Mungkin anda pernah mendapatkan konsep bahwa semakin kita sengsara maka makin kita dekat denganNya. Doa-doa orang yang pilu hati akan cepat didengar olehNya. Tidak salah memang, namun mengapa Beliau menciptakan pula orang-orang kaya yang juga didengar doanya ? Pasti ada yang salah dengan doa permohonan kita. Masalah yang datang disikapi sebagai batu sandungan yang membuat perjalanan kita kerap terpuruk ketimbang dianggap sebagai tumpukan batu yang bisa dipakai untuk berpijak dan melompat lebih tinggi lagi.

Kembali ke tema artikel ini. Ada tips kecil yang mungkin bisa dipraktekkan sehari-hari dalam kehidupan anda sehari-hari. Dalam kesempatan apapun, cobalah sering mengucapkan kata : terima kasih. Entah itu saat anda membayar belanjaan di kasir, diminta atasan mengerjakan tugas yang melebihi jobdesc harian anda, dimarahi rekan kerja, atau doa anda seperti belum dijawab sekalipun. Mungkin saat ini kita belum menemukannya, tapi yakinlah tanpa disadari Ia akan membuat kita menemukannya dengan tak terduga. JanjiNya untuk menghibur dan mendampingi di saat buruk yang tengah kita hadapi masih berlaku bagi kita semua yang senantiasa hanya berharap padaNya. Jadi kalau begitu, adakah alasan untuk berlama-lama dalam meratapi kepedihan ?

Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak. ( Mazmur 37 : 5 )

 

 

HiMTquote :

Orang lain tidak akan mampu membantu anda merasa bahagia, bila anda adalah orang pertama yang meragukan hak anda untuk merasa berbahagia dan menolak apapun yang ada pada anda sebagai alasan untuk bersyukur. ( MTST – Deciding to be happy )

 

crisis is the best reason for change ( 10 Nov 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:29 pm on Monday, December 22, 2008

Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. ( Yohanes 17 : 15 )

 

Harapan. Boleh dibilang inilah benteng pertahanan terakhir manusia untuk bisa memiliki kemampuan bertahan hidup, karena tanpa harapan mungkin kehidupan manusia sudah tamat dari semula. Berapa banyak dari kita yang memendam kekecewaan dan putus asa dengan kondisi perusahaan yang buruk, namun kita masih saja mampu bersabar untuk ada didalamnya ? Bahwa tugas yang dilakoninya sekarang hanyalah bersifat sementara, sebelum waktunya tepat untuk melakukan apa yang sudah lama menjadi impiannya ?

Pertanyaan selanjutnya yang sering terlontar adalah : kapan ? Ya, kapan “kesengsaraan” bersusah payah mengabdi di perusahaan milik orang lain itu berganti menjadi kegembiraan berusaha diatas pijakan kaki sendiri ? Bukan mapan karena bergantung pada keputusan orang lain tempat kita bekerja.

 

Ya, kemapanan bagi banyak orang dapat meninabobokan. Lihat saja berapa banyak orang yang tidak mau berubah hanya karena tidak mau meninggalkan “comfort zone”-nya. Alasan yang sering terlontar : resikonya terlalu besar atau tidak paham apa yang mau dikerjakannya nanti. Bagi para karyawan yang bersiap pensiun, mungkin sudah jamak mendengar istilah post-power-syndrom, secara singkatnya itu istilah untuk menyebut gejala stress yang biasanya muncul karena tidak bekerja lagi. Ternyata bukan hanya bekerja saja yang bisa berpengaruh serius pada efek psikologis, tidak bekerja pun bisa memicu perilaku emosi yang negatif. Padahal menjadi “pengangguran” justru yang paling ditunggu bagi banyak orang untuk melakukan hal produktif menurut lentera jiwanya.

Nasehat yang sering penulis dengar ( tidak perlu sms sambil ketik reg untuk tahu kutipan ini, he3… ) adalah : keraslah pada kehidupan diri anda selagi muda supaya kehidupan tidak memaksa anda bekerja keras kala anda tidak muda lagi. Dari sini penulis terpicu untuk membuktikan semboyan ini bahwa : life begins at 40, maksudnya berencana pensiun paling lambat pada usia 40 tahun ( mudah-mudahan lebih cepat ). Pensiun disini bukan berarti berhenti berkarya, namun sudah memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan apa yang menjadi impian masa kecil. Yang dilakukan bukan karena supaya tiap bulan cukup puas dengan penghasilan yang didapat, tetapi tiap saat bisa memberi penghasilan dan keuntungan juga bagi orang lain.

 

Lha, itu khan baru harapan. Mungkin tergolong tidak realistis, bahkan iseng2 penulis coba menghitung berapa nilai uang yang harus dikumpulkan untuk sampai ke tahapan “bebas secara financial” dalam waktu beberapa tahun kedepan tampaknya masih sulit. Terutama berkompromi dengan masalah tenggat waktu yang ditetapkan. Tapi, hey… mukijizatNya masih berlaku sampai sekarang ini.

Dari sini penulis mengambil kesimpulan, mengapa hukum alam menciptakan “krisis” waktu dan situasi yang seakan tidak bersahabat ini. Bukan karena agar kita berleha-leha karena deadline-nya masih jauh, tetapi justru supaya kita menyegerakan persiapan yang bisa dilakukan dari sekarang. Krisis adalah alasan terbaik untuk berubah, tetapi perubahan tidak perlu menunggu alasan sampai adanya krisis.

 

Tidak ada maksud Tuhan menguji kita, selain daripada untuk memuliakan setiap pribadi yang dikasihiNya. Mungkin pembaca, termasuk penulis sudah merasa tidak sreg lagi dengan kondisi pekerjaan sekarang. Dalam berbagai kesempatan doa, keluhan untuk berganti tempat kerja ( sekalian juga minta naik gaji plus minta ganti atasan, he3… ) mungkin kerap membisik di hati.

Namun dari artikel ( yang “anehnya” ) setiap penulis rangkum ini bisa memberi tambahan semangat untuk melewati problem itu semua, maka penulis mau membagi tips yang bersumber dari kutipan ayat pembuka diatas : “bukan masalahnya yang berusaha kita hindarkan, tetapi agar kita berkesempatan memohon kekuatan dariNya agar memiliki kemampuan berjalan diatas masalah itu”.

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. ( Mazmur 37 : 24 )

 

HiMTquote :

Bila di mata sebuah organisasi – seorang pemimpin tidak berlaku berbeda dari pemimpin mereka yang terdahulu – yang telah memimpin mereka untuk sampai pada masa krisis yang sekarang in; mereka tidak akan memberikan kepercayaan yang dibutuhkan oleh sang pemimpin untuk mendatangkan perubahan. ( MTDB – Crisis is the best reason for change ).

the roles we play ( 26 Oct 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:21 pm on Saturday, October 25, 2008

Maka janganlah kau katakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. ( Ulangan 8 : 17 )

 

The best thing in life are free. Itulah hak istimewa yang dimiliki manusia yang diberikan oleh Tuhan sejak peradaban dimulai. Meski sebenarnya akan ada kontradiksi dengan anggapan bahwa alur kehidupan ini sebenarnya sudah digariskan bahkan sebelum kita diciptakan, lalu apa gunanya manusia memilih. Salahsatunya tentu anda pernah dengar istilah : manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Lalu apakah dengan demikian perbuatan buruk kita selama ini adalah karena telah Dia tentukan, pastinya tidak.

Mungkin pernah terbersit di benak pembaca, untuk apa kita terlahir di dunia ? Terkadang orang yang tengah putus asa dan bertindak nekat untuk mengakhiri hidupnya merasa keberadaannya tidak berarti. Contoh sederhananya tentu saja pernah anda alami ketika ditolak cintanya oleh sang pujaan hati untuk pertama kali. Serasa dunia runtuh dan makna hidupnya di masa depan terlihat kelam untuk sesaat.

 

Demikian juga dalam dunia kerja. Berapa banyak dari kita yang gelisah karena apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan minat ? Waktu kuliah bersusah payah belajar keuangan, eh akhirnya malah mentok ke tugas pemasaran. Merasa beruntung masih mendapat pekerjaan diantara ribuan pengangguran lainnya yang kesulitan menembus lowongan kerja. Coba perkirakan pula berapa banyak dari lulusan perguruan tinggi yang memantapkan diri untuk berwirausaha ketimbang bekerja di perusahaan milik orang lain ?

Status orang kantoran dengan pakaian yang menandakan dirinya sebagai kalangan professional bisa jadi sebenarnya tengah menipu diri sendiri. Selama ini patron yang muncul adalah perusahaan yang memilih kite sebagai karyawannya, bagaimana kalau kita balik posisinya bahwa kitalah yang memilih perusahaan dimana kita boleh berkarir dan hak kita juga untuk memilih hendak dipimpin oleh siapa.

 

Ingatlah hari ini adalah anak masa silam dan bapak masa depan. Kita tak bisa berbuat apapun untuk mengubah masa lalu, tetapi kita dapat mengendalikan masa depan kita dengan cara bertindak benar pada saat ini. Kutipan dari Sri Dhammananda, penulis dapatkan dari kolom psikologi harian KOMPAS beberapa pekan lalu. Mengingatkan bahwa pada akhirnya kita tidak bisa meminta pertanggungjawaban dari orang lain, kualitas pribadi kita sendirilah yang akan menuntut hal tersebut.

Apa cita-cita anda saat masih duduk di sekolah dasar ? Jawaban standar seperti : ingin menjadi dokter, polisi, guru, sampai pengusaha rasanya terdengar lazim. Akan aneh kalau misalnya harapan profesi kita yang terlontar di masa kecil hanya sebatas pegawai atau staf. Boro2 mikirin soal pendapatan, dari nurani anak kecil itu terpancar kejujuran bahwa cita2 yang mereka harapkan karena melihat pekerjaan tersebut berarti bagi orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, ketika pengetahuan makin bertambah, nyatanya tidaklah sesederhana itu.

 

Dalam beberapa peristiwa yang menyesakkan hati, sempat penulis bertanya : sampai kapan ujian ini akan berlalu ? Mengapa orang lain telah mencapai apa yang selama ini hanya menjadi impian semata ? Namun dalam tiap kali kesempatan hikmatMU mengajari untuk tetap setia dan sabar menanggung segala sesuatunya. Bahwa pada akhirnya, bukan karena semata kerja keras atau kepintaran pribadi saja, tetapi niat baik saat melakukan itu semua. Bukan berharap pamrih dari orang yang bisa mengecewakan, namun beriman bahwa segala yang indah telah disediakanNya untuk mereka yang tidak hitung-hitungan dalam memberikan kemampuan terbaiknya di situasi dan peran apapun yang tengah dilakoni.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. ( Kolose 3 : 23 )

 

 

HiMTquote :

Tidak ada orang yang peranannya demikian penting bagi orang lain, sehingga dia berwenang untuk mengecilkan peran orang lain bagi keberhasilannya. ( MTST – The roles we play )

How practical are you ( 12 Oct 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:14 pm on Saturday, October 25, 2008

 

Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ( Amsal 12 : 24 )

 

Mungkin anda pernah mendapati rekan sekantor anda hampir setiap bulan mengulang curhat yang sama, yakni selalu merasa kurang pas tanggal baru menginjak 2 digit ? Gaji selalu dirasa kurang, mengeluh bahwa harga2 barang terus naik, tetapi pendapatan masih saja pas-pasan. Bahkan kerap diimbuhi dengan tagihan hutang ke tetangga yang belum dibayar. Lalu muncullah rasa cemburu kepada orang dari tim lain yang seolah bertabur fasilitas dan tunjangan. Namun ketika dianjurkan, lha kalau begitu mengapa tidak minta dimutasi saja ke bagian yang katanya tajir tersebut, eh dia malah nggak mau. Jadi inginnya, kerjaan beda tapi mau mendapatkan yang sama biar adil karena dianggap kita khan kerja dengan tujuan yang sama. Adilkah ini ?

Dalam sebuah segmen program tv menyambut Lebaran beberapa pekan lalu, sempat terngiang kalimat sederhana yang kurang lebih bunyinya seperti ini : “minta maaf itu mudah, namun sayangnya masih sulit bagi beberapa orang menunjukkan perbuatan pemaafan itu disadarinya”. Dalam analogi yang serupa, berapa banyak dari kita yang menganggap dirinya telah bekerja keras, namun merasa apapun hasilnya tidak sepadan dengan pengorbanannya. Introspeksi dech, mungkin kita sudah memilih pintu yang benar namun dengan anak kunci yang salah atau sebaliknya.

Bagi mereka yang berjiwa super, rajin tidak ditentukan oleh ada tidaknya pengawasan atasan, karena yang mengganjar adalah Yang Maha Melihat ( Kolose 3 : 23 ). Banyak sekali dari kita yang memperhitungkan upah berdasarkan job-desc, sehingga saat atasan memberikan tugas yang bukan kewajibannya akan ditolak. Mungkin sempat terlontar gerutu : “Bikin cape aja, lha wong pekerjaan biasa saja sudah banyak begini kok ditambahkan lagi. ‘ntar kalau salah khan bisa kerja dobel buat ngeberesinnya. Dasar atasan rese…”

 

Siapapun berhak untuk membuat kesalahan, tetapi tidak ada orang yang boleh menyalahi orang lain.

Membuat kesalahan hanya mungkin terjadi pada orang yang sedang mengupayakan yang benar, sehingga melarang atau mengancam orang agar tidak membuat kesalahan - sama dengan melarang orang dari mengupayakan yang benar.

Maka ijinkanlah diri ini untuk menerima kemungkinan kesalahan sebagai bagian alamiah dari upaya untuk mencapai kebaikan.

Bila kesalahan itu datang saat kita mengupayakan kebaikan, maka kesalahan itu adalah keuntungan - bila kita menggunakannya sebagai pijakan untuk mencapai kebaikan yang lebih tinggi.

Tetapi - tidak ada yang bisa disebut keberhasilan, bila keuntungan yang kita dapat - datang dari menyalahi orang lain.

[ Opinion your strongest element by Mario Teguh ] …

 

Sementara ada lagi yang menyikapi kedisiplinan dengan sampai ke kantor berikut pulang dari kantor tepat waktu. Bila masih ada tugas yang keteteran, malah diserahkan kepada teman kerjanya supaya diselesaikan. Bila dimarahi bos karena pekerjaannya tidak tuntas, menyalahkan orang lain yang dianggap mengadu. Dan ketika evaluasi tahunan untuk kenaikan gaji, masih saja berkelit bahwa dia berhak untuk itu karena inflasi harga kebutuhan pokok juga ikutan naik. Lalu soal prestasi kerja ? Dengan dalih bahwa kalau gaji naik baru dech semangat kerja juga naik, hhhmmm… serendah itukah menghargai keberhasilan yang bisa dicapai ? Meremehkan mujizatNya berdasarkan pengharapan atas kenaikan persentase gaji tahunan ?

Penulis sendiri akui masih tidak puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Tapi bila menyimak keadaan sekeliling, lebih besar rasa syukur yang mesti kita panjatkan dengan penuh ketulusan. Yang perlu diyakini adalah gerak kehidupan itu tidak seperti putaran roda, yang katanya kadang diatas kadang dibawah. Jangan kuatir, bertumbuhlah dengan tanpa keraguan bahwa : “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,” ( Ulangan 28 : 13 ).

 

HiMTquote :

Tuntunlah mereka untuk menemukan pembuktian bahwa tindakan-tindakan sederhana adalah penghasil syarat yang ditunggu oleh mereka yang mensyaratkan keadaan menjadi baik, sebelum mereka mulai bekerja. ( MTST – how practical are you )

 

 

Doable is the best vision ( 21 Sept 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:08 pm on Saturday, October 25, 2008

Tetapi seperti ada tertulis : “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”. ( I Korinus 2 : 9 )

 

Mungkin anda pernah mendapatkan imel berantai yang isinya tentang penjungkirbalikkan logika antara orang bodoh dan orang pintar. Salahsatu contohnya adalah kenapa orang bodoh bisa menguasai perusahaan ? Jawabannya karena ia bisa membayar pintar untuk mengerjakannya. Tidak relevan kalau orang pintar mempekerjakan orang bodoh, bisa2 perusahaannya menemui kehancuran. Kalaupun mentok, orang bodoh pastinya akan mengontak konsultan untuk memberesi masalahnya.

Dari sebuah milis keuangan yang penulis ikuti juga ada sebuah peristiwa ironi yang menarik, bahwa disaat posisi orang yang dianggap pintar sedang kolaps, justru orang bodoh tidak terlalu stress memikirkan sampail detail berapa persen duit yang menguap dari nilai investasinya, lha wong manajer investasi yang “pintar2” itu pasti muter otak supaya bisa mengatasi problem tersebut.

 

Sebenarnya penggunaan kata bodoh diatas mungkin terlalu polos, maksudnya tentu bukan bodoh2 amat sampai bisa diperdaya orang lain. Mari kita renungkan, kadang kepintaran yang kita miliki justru membuat kita terlalu berhati-hati dalam memperhitungkan suatu rencana. Tak salah memang, namun coba perhatikan : orang bodoh lebih berani dalam memutuskan segala sesuatu dengan cepat. Resiko kegagalan pastinya selalu ada, namun bukankah bila sebuah kesalahan diketahui dengan cepat maka tindakan perbaikannya pun bisa dilakukan segera ?

Tapi yach, jangan lalu konsep diatas tersebut diseragamkan yach. Misalnya dalam urusan memilih pasangan hidup, maunya sich sesuai standar, tapi kalau yang datang melulu yang tidak sesuai harapan, bukankah itu suatu pertanda bahwa mungkin si dia yang kita impikan bukanlah yang sesuai Beliau rencanakan untuk kehidupan kita ?

 

Jujur saja, penulis kadang suka sebal melihat rekan kerja yang maunya muluk-muluk tapi tidak berusaha memantaskan untuk mendapatkan apa yang dia maui. Dalam penyusunan target penjualan tahun depan misalnya, ketika rekan lain department mematok rata2 salesnya sekitar 20-25%, eh ada satu bagian yang bersikukuh dengan kenaikan maksimal 10%. Ketika ditanya apa masalahnya dan kira2 dukungan sumber daya seperti apa yang diperlukan, berulangkali jawabannya yang terlontar adalah : mau gimana lagi, habis market size di area salesnya hanya mentok segitu. Lho, kok udah nyerah duluan ?

Dalam iklan lowongan kerja, kerapkali kita lihat judul kolomnya berupa kata : “Challenge”. Konotasinya bagi para pelamar awam seperti penulis umumnya bahwa posisi tersebut tampaknya bersifat “kerja bakti”, job-desc kadang tidak berbanding lurus dengan reward-nya, apalagi kalau diimbuhi tambahan semacam syarat dan ketentuan berlaku : siap bekerja di bawah tekanan, walah…

 

Berapa banyak dari anda yang melakoni profesi sekarang yang sesuai dengan cita2 yang pernah dibayangkan ketika masih kecil ? Mungkin banyak dari anda sekarang tidak comfortable dengan (tingkat pendapatan dari) pekerjaan yang tengah dijalani saat ini. Hati kecil memberontak ingin keluar dari jerat rutinitas tugas. Ketika pikiran kita terbelenggu dalam ukuran rasionalitas, beruntunglah sebagai manusia kita diberi bekal dari Maha Pemberi berupa kemampuan berimajinasi alias membayangkan.

Untuk segala sesuatu yang tidak pasti, jangan terlebih dahulu bilang tidak mungkin. Karena bila pikiran itu yang tertancap dalam benak kita, secara tak langsung kita meragukan campur tanganNya yang berkehendak dalam memuliakan kita. Jadi kalau begitu, lakukanlah sampai batas kemampuan kita dan sisanya lihatlah mukjizat yang telah Ia sediakan bagi orang2 yang telah melakukan kualitas terbaik dari dalam dirinya. Karena keberhasilan bukan terjadi dalam alam rencana, melainkan dalam alam tindakan.

Siapakah orang yang takut akan TUHAN ? Kepadanya TUHAN akan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. ( Mazmur 25 : 12 )

 

 

HiMTquote :

Impossible -> Previously unthinkable -> conceivable -> doable ( MTSC – Doable is the best vision )

 

Onion effect ( 07 Sept 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 9:58 pm on Saturday, October 25, 2008

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu. ( Mazmur 119 : 71 )

 

Mungkin seringkali anda mendengar orang untuk memaklumi keadaannya yang buruk dengan berkata : “Ini cobaan dari yang Maha Kuasa”. Cobaan, benarkah Tuhan mencobai manusia ? Dalam contoh sederhana saja, ketika anda masih duduk di bangku sekolah dan hendak naik kelas, apakah tantangan di akhir periode pelajaran yang dihadapi adalah sebuah “cobaan” ? Tidak, kita menamainya sebagai ujian naik kelas. Jadi pemahaman tentang cobaan vs ujian sudah jelas, khan ? Cobaan kerap dimaknai dengan harapan bahwa orang yang “dicoba” menemui kegagalan, sedang orang yang “diuji” justru kita harapkan berhasil. Jadi kalau kita tahu Beliau menghendaki keberhasilan dalam hidup ini, coba perhatikan apakah itu ujian atau cobaan ?

Di satu sisi ada yang memaknai penderitaan sebagai suatu kutukan. Sudah berusaha sana sini kok serasa membentur jalan buntu melulu. Sepertinya ada asal usul yang salah dan mesti diperbaiki dech. Sayangnya pertanyaan tersebut bukannya diajukan kepada Yang Maha Peduli, namun justru dibawa kepada paranormal, dukun, cenayang, orang pintar, atau apalah namanya. Ada pula yang sedikit2 berkata : yach, dari kejadian ini kita ambil hikmahnya saja supaya tidak terulang untuk kedua kalinya.

 

Berhubung artikel ini dibuat pas bulan Ramadhan, mungkin contoh pasnya kita ambil dari beberapa aktivitas puasa yang tergolong universal. Yang paling basic, secara awam kegiatan selama kurang lebih 30 hari tersebut adalah puasa makan dan minum. Bila hendak diartikan secara rohaniah, bukankah itu merupakan latihan “menindas” nafsu kedagingan kita ? Kita diingatkan kembali untuk mensyukuri sesuatu yang seakan adalah hal biasa disaat “normal dan menyadari bahwa masih banyak saudara2 yang termasuk kurang beruntung diluar sana yang perlu kita bantu.

Saat Aa Gym belum redup popularitasnya, dalam salahsatu ceramah radionya sempat tersentil kegundahan : mengapa penduduknya yang dikenal religius, tapi justru terhitung sebagai salahsatu negara terkorup di dunia ? Dimanakah korelasi keimanan seseorang dengan buah perbuatannya ? Dimanakah realitas slogan “satu kata, satu perbuatan” musti ditempatkan sebagai teladan ?

 

Waduh, kok jadi banyak ngomelnya yach ?! Sekedar menggerutu tidak menyelesaikan masalah. Banyak orang memiliki ketertarikan akan sebuah tujuan besar, tapi tidak mau mengubah kebiasaan yang membuatnya layak mendapatkan hasil yang diimpikan tersebut. Contoh sederhana : inginnya hidup sehat, tapi tidak mau berhenti merokok. Komentar yang muncul dari kalangan pecandu tembakau tersebut bisa jadi seperti ini : “puasa makan minum masih mending, tapi puasa “ngebul” kayaknya nggak sanggup dech”.

Bila hasil yang dituju besar, bukankah memerlukan (effort) kebiasaan yang besar pula ? Kebiasaan yang baik timbul dari perilaku yang baik yang berulang. Mengapa kata “diulang” perlu mendapat penekanan disini, karena biasanya kita tidak cukup diajari dalam satu dua kasus saja untuk bisa langsung memahami. Seperti seorang olahragawan yang ingin berprestasi lebih, coba hitung berapa pengulangan latihan yang telah dia lewati untuk menjadi seorang juara ? Ulangi, mengulangi, dan diulangi lagi.

 

Tentu saja pengulangan tersebut bukan berarti menjadi sebuah rutinitas. Masa khan kita terus “tertindas” untuk hal yang sama berkali-kali ? Mencoba memang bisa satu hal yang beresiko, bisa hasilnya salah atau malah benar. Namun tanpa mencoba, kita tidak tahu mana yang salah dan benar. Seandainya hasilnya nanti salah, setidaknya kita telah mendapat pengertian bahwa berarti jalan satunya lagi yang benar.

Jadi terkesan trial error memang, namun bukankah resiko tersebut dapat diminimalkan lagi dengan cara belajar dari orang yang pernah mengalaminya dulu sebelum kita ? Dalam setiap kesulitan, sesungguhnya Beliau tengah mendidik kita untuk pantas menjadi para pemenang kehidupan ini. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. ( Ayub 23 : 10 )

 

HiMTquote :

Jatuh ke bawah adalah kesempatan untuk melantingkan diri lebih tinggi, setelah menyentuh rasa sesal yang terdalam. ( MTST – Onion Effect )

When you believe ( 24 Agt 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:24 am on Monday, August 25, 2008

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ? ( Mazmur 8 : 5 )

Bila anda mempercayai Tuhan Maha Besar, maka mengapa anda masih memintakan sesuatu kepadaNya hal-hal kecil ? Pertanyaan ini sungguh menggugah kesadaran penulis, terutama disaat melihat keadaan orang lain yang menjadi impian kita sekarang. Istilah kerennya, pernahkah kita mem-“benchmark” kehidupan kita dengan orang yang kita jadikan panutan ? Secara awam, mungkin lebih banyak keluhan yang muncul ketimbang rasa syukur yang bisa dipanjatkan. Orang bilang : itu manusiawi, karena kita diberikan rasa tidak puas akan suatu keadaan sehingga ada motivasi untuk menjalani langkah hidup ini. Bandingkan dengan mereka yang merasa masa depannya tidak berpengharapan lagi, kebingungan mengenai apa lagi yang mau dicapai.

Contoh sederhana saja, ketika anda ditolak cintanya oleh sang pujaan hati, serasa dunia tak berarti lagi. Kemudian berkecamuk dalam alam pikirannya, dunia seakan runtuh dan tak sedikit yang lalu mengakhirinya hidupnya. Ada lagi yang berpikiran untuk menenangkan dirinya bahwa : mungkin dia bukan jodohku atau masih banyak kok yang bernasib serupa di luar sana. Mungkin hanya “it’s a matter of time”.

Banyak orang mensyaratkan keinginannya akan terpenuhi berdasarkan apa yang nanti dicapainya. Misalnya: bagi kaum kontraktor ( maksudnya selama ini hampir setahun sekali hunting rumah kontrakan melulu, he3… ) akan disebut berhasil bila telah memiliki rumah sendiri. Lha, dananya dari mana kalau untuk makan sehari-hari pun masih ngutang di warung tetangga ? Mungkin anda sempat mendengar istilah “Tuhan ingin anda kaya”, yang bila kita kontradiksikan secara salahkaprah berarti dalam posisi anda yang lagi kesusahan sekarang ini konotasinya Tuhan sedang tidak “berpihak” pada anda, donk ?! Lalu bagaimana anda menyikapi hidup berlimpah para koruptor yang sering anda lihat di media massa, masakan Tuhan yang Maha Adil kelihatannya membela mereka ? 

Menjadi orang baik itu suatu keberhasilan tersendiri, tentunya bukan baik bagi diri sendiri namun juga bagi sesama. Tetapi kadangkali “baik” saja tidak cukup dimataNya. Ada satu kata penting yang kerap terlupakan : apakah kita juga “berkenan” di hadiratNya ? Dalam suatu perumpamaan dikisahkan ada seorang pemuka agama di depan mimbar berkoar memuji kehidupan ritual keagamaannya yang tidak seperti orang kebanyakan yang lalai menjalankannya. Di sudut ujung ruangan tersebut diceritakan ada seorang rendahan yang meratapi kehidupannya yang penuh dosa, menumpahkan kerisauannya telah membuat hati sang Maha Kasih terluka. Nach, menurut anda siapa yang bakal dibenarkan hidupnya olehNya ?

Dari sini kita bisa mengenal sebuah rahasia yang diberikan sejak zaman purbakala. Pepatah : “manusia yang merencanakan ( dan berusaha ), Tuhan yang menentukan” tentu tidak berlaku untuk mereka para pelaku kejahatan. Mentang2 “berhasil” mencuri hak orang lain lalu menganggap jalan yang salah tersebut sebagai sesuatu yang memang diperbolehkan. Bakal yang lebih ndableg, menganggap hasil curiannya tersebut tokh buat disumbangkan kepada orang tidak mampu atau membangun tempat ibadah. Mencari popularitas pribadi untuk dianggap sebagai orang “baik”, tapi Tuhan tidak bisa ditipu manusia.

Dalam pembukaan UUD 1945 alinea 3, berikut saya kutip 7 kalimat awalnya : “atas berkat rahmat Tuhann Yang Maha Kuasa…”, para pendiri negeri ini telah memberi teladan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan adalah atas campur tanganNya untuk maksud yang baik. Jadi kalau begitu kita pun hidup di negeri ini bukanlah suatu kebetulan. Terinspirasi kutipan ayat diatas tampaknya kita bisa bertanya : “Apakah Indonesia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah bangsa Indonesia, sehingga Engkau mengindahkannya ?”

Indonesia damai sejahtera dan berkeadilan mungkin untuk sekarang masih berupa utopia, tetapi bagi tiap individu yang mempercayakan hidup ini dalam tanganNya, peganglah janji bagi kita pribadi maupun bangsa ini sebagai berikut : Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti. ( Mazmur 37 : 25 )

HiMTquote :

Mempelajari yang benar sebetulnya adalah urutan perilaku bersungguh-sungguh untuk melepaskan ikatan-ikatan yang melumpuhkan. ( MTST – When you believe )

Next Page »