The third wave : Gen Y ( 01/12/03 )
"In 1564, Nostradamus predicted the destruction of personal responsibility in three destructive waves of bommers; in the first waves, boomers got started just after World War II; in the second wave, generation X was pretty much wiped out by boomers 1; and now we are in the most frightening, the third wave generation Y"
Natal 2003. Tema2 yang diusung beberapa koran ibukota untuk memperingari Natal tahun ini tampaknya beragam. Ada yang mengajak untuk kita merenung atas makna "kelahiran" sang Juru Selamat ditengah suasana carut marutnya kehidupan masyarakat pada kala itu dibawah penindasan Herodes lalu menghubungkannya dengan kondisi Indonesia sekarang, ada yang memberi makna bahwa harapan akan kehidupan di masa depan selalu ada meskipun tampaknya dimulai dari sesuatu yang kelihatannya hina di mata manusia, ada pula yang mengambil sudut pandang dari segi astronomi tentang peristiwa bintang besar di kota Betlehem apakah itu cuma penampakan kumpulan besar komet, tabrakan meteor, atau konjungsi Saturnus - Jupiter. Dari sisi spiritual, juga mulai muncul keheranan bahwa Natal dimaknai oleh kalangan pelaku bisnis terutama di mal-mal dan pusat perbelanjaan sebagai hari belanja, kemewahan, dan konsumerisme.
Ada yang bilang bahwa seharusnya perayaan Paskah pun seharusnya diperlakukan sama seperti Natal, dalam pengertian bukankah Paskah juga berarti tanda ajaib bahwa Yesus bangkit mengalahkan maut dan menjadi satu-satunya jalan kembali manusia memperoleh kekudusan. Sebab hanya dalam Kristus, kita boleh dibenarkan di hadapanNya.
Anda heran mengapa dalam kalimat pembuka diatas bukan lagi dikutip ayat dari Alkitab ? Jangan heran, edisi penutup tahun memang kudu nyentrik sedikit, he he he.
Saya tidak tahu apa yach nama generasi saat Yesus terlahir di muka bumi ini. Generasi saat belum ada listrik, computer, handphone, film, radio, tv, mobil, apalagi satelit. Saya sulit membayangkan seandainya Yesus secara fisik terlahir pada zaman sekarang. Pasti sulit sekali kita andaikan sekalipun Yesus dianggap "bersalah" maka hukumannya adalah penyaliban. Zaman hi-tech, orang bilang. Atau Nostradamus membaginya dalam 3 fase, pertama : baby boomer, kedua : gen X, dan ketiga sekaligus terakhir adalah gen Y.
Baby boomer seperti kita tahu terjadi setelah perang dunia kedua berakhir, banyak orang kaya baru dan kalangan selebritis bermunculan dengan cirri-ciri sikap konsumerisme mulai dieksploitasi untuk pembangunan negeri. Meski demikian di kalangan anak2 muda zaman itu muncul pula perlawanan trend yang kita kenal dengan sebutan generasi buinga ( flower generation ), yang mana bentuk "monument" yang paling kentara banget adalah konser "edan" bernama Woodstock.
Gen X terbit sekitar era 80-an, ketika itu peralatan elektronik begitu dahsyat merambah kehidupan rumah tangga kita, mulai dari peralatan audio-visual sampai computer. MTV yang berkibar pada era ini juga menambah deras gejala gen-X yang muncul bahwa trend kawula muda adalah aktualisasi diri, ingin terpandang bukan dari segi kesuksesan materi tetapi juga personality brand.
Gen Y. Fase ini ditandai dengan kehadiran internet. Dunia seolah tanpa batas, kendala waktu bukan lagi tantangan. Kita seolah-oleh tengah membangun menara "babel" yang baru, manakala muka bumi ini disatukan kembali agar tidak terserak. Contohnya : saat terjadi tragedy 911 di WTC, pada detik itu juga semua masyarakat dunia tersentak. Bandingkan dengan peristiwa Pearl Harbour misalnya, untuk kejadian yang sama mungkin masih ada kendala beberapa menit untuk mengabarkan itu semua.
The frightening generation ? Apakah ini fase terakhir sebelum kiamat, saya tidak tahu. Tapi memang, tanda2 zaman akhir sudah dekat cukup jelas. Ketika ciri masyarakatnya makin individualistis, maka kehampaan spiritual makin tampak jelas. Berbagai penemuan teknologi semacam SOHO ( small office home office ) dan mobile-offce, selain memang parktis tetapi juga negatifnya menyebabkan interaksi antar manusia semakin berkurang.
Kesendirian dan kekosongan jati diri ini yang suka mengakibatkan orang kadang tidak tahu bagaimana memuaskan lapar "rohani"-nya. Agama yang tadinya bisa dianggap sebagai sarana pun belakangan malah menampakan banyak bopeng lewat penampilan para pengerjanya. Ngomongnya sich di mimbar kayak mulia banget, tapi pas di lingkungan keluarganya suka main gampar.
Mati satu, tumbuh seribu. Kebangkitan harus didahului oleh kematian terlebih dahulu. Sama seperti biji harus dijatuhkan dulu ke tanah, mati agar dia dapat bertumbuh. Kita menyadari bahwa hidup ini hanya satu kali, tetapi ada satu sosok pribadi yang terus hidup terus dalam sanubari kita, Ia yang memberi terang hidup dan inspirasi segala generasi apapun juga akan jalan yang harus kita tempuh. Namanya agung dan berkuasa, dialah Yesus Kritus Tuhan. Alfa dan Omega.
Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anakKu. ( Wahyu 21 : 7 )