copying to greatness ( 24 Feb 08 )
Sebab lebih baik satu hari di pelataranMU daripada seribu hari di tempat lain ( Mazmur 84 : 11 )
“Sehebat apapun produk dan jasa yang anda ciptakan, esok pagi pesaing anda sudah mampu menirunya, bahkan lebih hebat lagi. Hanya satu yang tak bisa ditiru : kualitas SDM”. Demikian penulis kutip sekilas dari kata pengantar topik utama majalah SWA beberapa pekan lalu yang membuat reportase mengenai HR Excellence. Divisi SDM dalam suatu struktur organisasi mungkin kurang begitu kentara peranannya bila dibandingkan bagian sales-marketing atau bisa juga dibawah pamor finance-accounting. Bila hendak merekrut orang lagi sebagai calon karyawan, tokh bisa dititipkan prosesnya pada konsultan pencari kerja. Atau bila hendak meng-hire kalangan professional, lebih banyak menggunakan jalan pintas seperti membajak mereka yang sudah berpengalaman dari perusahaan lain ketimbang susah payah membangun jejak karir karyawan internalnya sendiri.
Banyak orang mengidamkan kapan yach perusahaan tempat kita bekerja akan seperti Astra atau Unilever dalam menghargai potensi pegawainya. Suatu benchmark yang tidak salah memang, karena kedua contoh perusahaan yang penulis sebutkan ini tergolong memiliki brand-corporate yang lumayan baik di mata masyarakat. Namun tentunya hal tersebut tidak datang sekonyong-konyong langsung jadi. Ada proses berat dan berliku yang musti dilalui, diantaranya adalah mendidik para karyawan untuk berpikiran dan bersikap maju. Membangun mental entrepreneurship dalam satu perusahaan bukan hal mudah. Shortcut yang sering dipakai tim HRD untuk mem-push karakter karyawan dalam satu visi biasanya berupa pelatihan, training, seminar, motivasi, atau kegiatan outbond. Lalu 3-6 bulan kemudian dilakukan tahap evaluasi untuk melihat progress hasilnya. Tapi itu khan penilaian menurut ukuran HRD, bukan introspeksi personal kita sendiri.
Teladan. Mungkin akan terbetik pemikiran : “bagaimana perusahaan ini bisa sukses bila sosok attitude pemimpinnya saja seperti itu ?”. Namun disisi lain, mungkin anda pernah mengagumi seseorang dalam suatu komunitas, dan terkadang kita melihat diri kita kok tidak seperti mereka yang sukses, populer, ataupun terpandang di pergaulannya. Bukan perasaan minder, tapi lebih pada kekaguman : ach, seandainya saja hidupku seperti dia…
Berapa banyak dari kita yang mengidolakan seseorang, tetapi hanya sebatas kagum. Misalnya : mother Theresa atau Lady Di dikagumi karena aksi sosialnya, tapi apakah itu menjadikan kita langsung ikut terjun melayani juga seperti kedua tokoh tadi. Ketika banyak buku soal kiat sukses memaparkan jatuh bangun sang tokoh dalam membangun bisnisnya, apakah tips dan triknya langsung otomatis diterapkan oleh para pembaca ? Mungkin sempat terbetik dalam pikiran : tapi saya khan bukan dia… Kontradiktif bukan dengan alinea diatas ?
Setiap pribadi diciptakan olehNya unik. Sehebat apapun anda “menjiplak” perilaku orang yang anda hormati, anda tetaplah anda. Namun dalam setiap manusia sebenarnya kita mencerminkan apa yang telah Ia rancangkan sejak awal dunia dijadikan, yakni sebagai gambar Allah sendiri ( Kejadian 1 : 27 ). Bila dalam tiap pribadi ada kesadaran bahwa kehadiran manusia di muka bumi sebagai citra Allah, maka rasanya sulit sekali bagi anda untuk berbuat hal2 yang tidak berkenan di hadiratNya. Sebab seorang “wakil” tentunya merepresentasikan orang yang mengutusnya. Bila Tuhan itu baik, pastinya anda pun menjadi pelaku dan saksi atas kebaikanNya. Jadi takarannya bukan lagi meniru manusia, tetapi “meniru” Tuhan.
Tuhan ingin anda sukses dan itu betul. Sayangnya ukuran kesuksesan kita kadang tidak sama dengan ukuran sukses menurutNya, jadi jangan sungkan untuk belajar dan berharap padaNya. Tidak seperti guru privat atau trainer yang mesti kita bayar tiap kali kunjungan, konsultasi denganNya selalu gratis !
HiMTquote :
Anda tidak mungkin mengagumi seseorang tanpa melihat kemiripan pribadi itu dengan diri anda. ( MTST – Copying to greatness ).