HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

copying to greatness ( 24 Feb 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jan-Feb — himfiles at 12:35 am on Saturday, February 23, 2008

Sebab lebih baik satu hari di pelataranMU daripada seribu hari di tempat lain ( Mazmur 84 : 11 )

Sehebat apapun produk dan jasa yang anda ciptakan, esok pagi pesaing anda sudah mampu menirunya, bahkan lebih hebat lagi. Hanya satu yang tak bisa ditiru : kualitas SDM”. Demikian penulis kutip sekilas dari kata pengantar topik utama majalah SWA beberapa pekan lalu yang membuat reportase mengenai HR Excellence. Divisi SDM dalam suatu struktur organisasi mungkin kurang begitu kentara peranannya bila dibandingkan bagian sales-marketing atau bisa juga dibawah pamor finance-accounting. Bila hendak merekrut orang lagi sebagai calon karyawan, tokh bisa dititipkan prosesnya pada konsultan pencari kerja. Atau bila hendak meng-hire kalangan professional, lebih banyak menggunakan jalan pintas seperti membajak mereka yang sudah berpengalaman dari perusahaan lain ketimbang susah payah membangun jejak karir karyawan internalnya sendiri.

Banyak orang mengidamkan kapan yach perusahaan tempat kita bekerja akan seperti Astra atau Unilever dalam menghargai potensi pegawainya. Suatu benchmark yang tidak salah memang, karena kedua contoh perusahaan yang penulis sebutkan ini tergolong memiliki brand-corporate yang lumayan baik di mata masyarakat. Namun tentunya hal tersebut tidak datang sekonyong-konyong langsung jadi. Ada proses berat dan berliku yang musti dilalui, diantaranya adalah mendidik para karyawan untuk berpikiran dan bersikap maju. Membangun mental entrepreneurship dalam satu perusahaan bukan hal mudah. Shortcut yang sering dipakai tim HRD untuk mem-push karakter karyawan dalam satu visi biasanya berupa pelatihan, training, seminar, motivasi, atau kegiatan outbond. Lalu 3-6 bulan kemudian dilakukan tahap evaluasi untuk melihat progress hasilnya. Tapi itu khan penilaian menurut ukuran HRD, bukan introspeksi personal kita sendiri.

Teladan. Mungkin akan terbetik pemikiran : “bagaimana perusahaan ini bisa sukses bila sosok attitude pemimpinnya saja seperti itu ?”. Namun disisi lain, mungkin anda pernah mengagumi seseorang dalam suatu komunitas, dan terkadang kita melihat diri kita kok tidak seperti mereka yang sukses, populer, ataupun terpandang di pergaulannya. Bukan perasaan minder, tapi lebih pada kekaguman : ach, seandainya saja hidupku seperti dia…

Berapa banyak dari kita yang mengidolakan seseorang, tetapi hanya sebatas kagum. Misalnya : mother Theresa atau Lady Di dikagumi karena aksi sosialnya, tapi apakah itu menjadikan kita langsung ikut terjun melayani juga seperti kedua tokoh tadi. Ketika banyak buku soal kiat sukses memaparkan jatuh bangun sang tokoh dalam membangun bisnisnya, apakah tips dan triknya langsung otomatis diterapkan oleh para pembaca ? Mungkin sempat terbetik dalam pikiran : tapi saya khan bukan dia… Kontradiktif bukan dengan alinea diatas ?

Setiap pribadi diciptakan olehNya unik. Sehebat apapun anda “menjiplak” perilaku orang yang anda hormati, anda tetaplah anda. Namun dalam setiap manusia sebenarnya kita mencerminkan apa yang telah Ia rancangkan sejak awal dunia dijadikan, yakni sebagai gambar Allah sendiri ( Kejadian 1 : 27 ). Bila dalam tiap pribadi ada kesadaran bahwa kehadiran manusia di muka bumi sebagai citra Allah, maka rasanya sulit sekali bagi anda untuk berbuat hal2 yang tidak berkenan di hadiratNya. Sebab seorang “wakil” tentunya merepresentasikan orang yang mengutusnya. Bila Tuhan itu baik, pastinya anda pun menjadi pelaku dan saksi atas kebaikanNya. Jadi takarannya bukan lagi meniru manusia, tetapi “meniru” Tuhan.

Tuhan ingin anda sukses dan itu betul. Sayangnya ukuran kesuksesan kita kadang tidak sama dengan ukuran sukses menurutNya, jadi jangan sungkan untuk belajar dan berharap padaNya. Tidak seperti guru privat atau trainer yang mesti kita bayar tiap kali kunjungan, konsultasi denganNya selalu gratis !

HiMTquote :

Anda tidak mungkin mengagumi seseorang tanpa melihat kemiripan pribadi itu dengan diri anda. ( MTST – Copying to greatness ).

predicting succes ( 9 Feb 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jan-Feb — himfiles at 12:29 am on Saturday, February 23, 2008

Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap penuh kepercayaan kepada Tuhan ( Mazmur 112 : 7 )

Success is my right. Demikian semboyan populer salahsatu motivator di negeri ini. Namun sukses bukanlah suatu bentuk hak yang dengan sendirinya melekat pada diri kita secara langsung seperti halnya hak untuk menganut agama sesuai keyakinannya ataupun hak mengeluarkan pendapat pribadi. Sukses adalah sesuatu yang pantas kita perjuangkan, layaknya seorang pelari yang berlomba dalam lintasan arena untuk meraih kemenangan. Karena bila sukses diberikan olehNya secara percuma, mungkin kita tidak akan mengerti dan menghargai akan sebuah pengertian indahnya kerja keras.

Beberapa tahun yang lalu, slogan “work hard” mulai ditinggalkan dan beralih menjadi “work smart”. Bekerja lebih cerdas, bukan lebih bekerja lebih keras. Namun ada satu prinsip yang tak pernah lekang dimakan usia, pekerjaan apapun yang kita lakukan, kerjakanlah dengan kesungguhan yang sama, baik dalam masalah besar maupun kecil.

Btw, apa sich makna sukses menurut anda ? Biasanya sukses didefinisikan sebagai keinginan pribadi yang sudah tercapai. Sukses tidak semata hanya diukur dari segi materi, status, kejayaan, atau kekuasaan. Namun apalah artinya sebuah kesuksesan bila tidak berimbas positif pula bagi orang2 lain di sekitar kita.

Mungkin selama ini banyak dari kita sebagai karyawan perusahaan yang mengeluh soal minimnya gaji yang diterima tidak sepadan dengan hasil kerja yang sudah kita lakukan, lalu menggerutu, dan akhirnya pada kesimpulan : buat apa saya memberikan yang terbaik yang bisa dilakukan, bila perusahaan tidak memberikan “penghargaan” yang terbaik untuk saya. Jangan sangka penulis tidak pernah pada tahap “depresi” seperti itu, namun penulis dihibur oleh kalimat ini : “Jangan berharap pada manusia, berharaplah senantiasa pada Tuhan”.

Dengan prinsip seperti itu, penulis dikuatkan bahwa selama ini persepsi karyawan yang sebatas untuk melayani perusahaan adalah salah, karena dalam bekerja juga sebenarnya kita tengah melayani Dia yang selama ini berkuasa memberikan rezeki berlimpah. Masakan Dia akan mengurangkan berkat yang akan dicurahkan bila sudah mengeluarkan potensi terbaik yang kita miliki ? Bila manajemen perusahaan yang sekarang ini tidak melihat hal tersebut, Dia yang Maha Pemberi akan membukakan mata perusahaan lainnya supaya anda dinaikkan. Berilah, maka engkau akan diberi.

Disisi lain, setelah banyak membaca buku pengembangan diri dan kiat menjadi kaya, mulai terbetik pemikiran mungkin jalan kesuksesan yang musti ditempuh adalah membuka usaha sendiri. Bagi yang merasa ingin mengguncang “comfort-zone”-nya, kebanyakan modal nekat diperlukan sekali. Orang-orang yang justru berhitung untungrugi terlalu detail malah kebanyakan mengurungkan niatnya untuk berwiraswasta. Nasehat yang mungkin sepele tapi manjur adalah berdoa minta petunjukNya. Kelihatannya sepele, namun Tuhan tidak menganggap sepi permintaan orang yang bergantung padaNya.

Jadi kalau begitu, terasa menggelikan bagi mereka yang masih percaya dengan ramalan paranormal, berburu buku primbon perbintangan, atau bersusah payah menghitung nasib berdasarkan tanggal kelahiran. Bila memang dalam perjalanan kehidupan ini kita jumpai yang namanya kegagalan, itu karena Dia mengizinkanya sebagai tanda bahwa ada hal yang perlu dipelajari agar di kemudian hari kita dapat mengatasi rintangan yang lebih besar lagi. Bila benih yang kita tabur adalah kebaikan, niscaya yang kita tuai pun buah2 kebaikan. I’ll do my best, God do the rest.

HiMTquote :

Kegagalan adalah tanda akan adanya jaminan keberhasilan. Dan iman adalah nama dari keyakinannya. ( MTST – Predicting success )

branding you ( 27 Jan 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jan-Feb — himfiles at 12:21 am on Saturday, February 23, 2008

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas ( Amsal 22 : 1 )

Beberapa hari yang lalu, penulis mendapatkan kisah humanis dari salahseorang tokoh proklamator bangsa ini, yakni bung Hatta. Cerita ini mungkin pernah selintas anda dapatkan via lalulintas yang isinya mengenai begitu bersahajanya hidup beliau. Bila ada yang belum pernah mendapatkan artikel tersebut, baiklah penulis ceritakan dengan singkat.

Pada satu ketika, bung Hatta kepincut dengan model sepatu merek Bally yang pernah dijumpainya di salahsatu pusat perbelanjaan. Berhubung harganya mahal, maka bukan seperti tingkah sebagian pejabat negeri ini yang minta tambah insentif atau tunjangan, namun beliau mengumpulkan sedikit demi sedikit uangnya terlebih dahulu. Meski sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah bisa membeli sepatu tersebut, namun ada hal lain didapatkannya untuk diwariskan kepada kita : harga diri dan kejujuran.

Bung Hatta memberi contoh bagaimana sebuah harga diri tidak bisa dibandingkan dengan sepasang sepatu mahal. Sebuah teladan bahwa nilai kejujuran dalam mengakui dirinya tidak mampu untuk membeli tidak ditukar dengan aksi sekedar untuk pamer atau istilah anak gaul sekarang, biar kelihatan narsis

Ada pepatah mengatakan : harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Tentunya bukan sekedar nama, tapi nama baik yang pantas kenang. Namun beberapa dari kita mungkin tidak menjadikan sebuah reputasi nama sebagai ukuran kebanggaan, setidaknya bagi mereka yang tidak risih mengumpulkan hartanya di muka bumi ini dengan cara yang tidak halal. Nama baik juga bisa dibangun dari apa yang selama ini kita kerjakan, apakah bermanfaat dan berkenan bagi banyak orang atau hanya demi keuntungan pribadi.

Bila istilah “brand” kerap kali dihubungkan dengan istilah citra produk yang dijual ke konsumen, maka sesungguhnya setiap manusia dapat menciptakan merek namanya sendiri untuk “dijual” kepada publik. Setidaknya contoh ini bisa dilihat dari “strata” struktur organisasi, mengapa ada yang pantas sebagai manajer, namun mengapa ada juga yang hanya layak di level staf. Pasti banyak karyawan yang mengeluh : gaji saya hanya segini, kapan karir saya naik, kok orang lain lebih disenangi bos, dan seterusnya.

Kebesaran telah dijanjikan bagi mereka yang melakukan soal kecil dengan kesungguhan besar. Demikian sebuah kutipan dari pak Mario yang penulis ambil dari tema lain. Bila selama ini orang-orang di sekitar kita menganggap pekerjaan yang kita lakukan kecil, yakinlah bahwa masih ada Yang Diatas Maha Tahu akan membalaskan itu semua. Bila atasan kita mungkin tidak mengamatinya, (nama) kita tetap berharga di mataNya. Demikian juga mereka yang berbuat curang dan malah mendapat pujian dari orang2 sekitarnya, sebenarnya tanpa disadari justru nasib buruk tengah menimpanya.

Jadi kalau begitu, nasib bukan ditentukan oleh baik buruknya arti nama yang disematkan oleh orangtua anda ketika anda lahir ( tidak ada khan niat orangtua yang memberi makna nama anaknya untuk sesuatu yang buruk, he3… ).

Tidak perlu datang ke paranormal hanya untuk sekedar menanyakan apakah penyebab kejadian2 buruk belakangan ini karena pihak orangtua salah dalam memberi nama . Sikap andalah yang menyebabkan apa yang dikatakan Wiliam Shakespeare menjadi masuk akal : apalah arti sebuah nama, setangkai bunga mawar kalau diberikan nama apapun akan tetap harum…

Namun dalam dunia bisnis, bangunlah reputasi nama anda berkualitas tinggi agar orang2 secara “sukarela” akan mengganjar anda mahal.

HiMTquote :

Sebuah brand pribadi yang super bagi pelanggan anda, menjadi sebuah pilihan yang sederhana, spesifik, dan aman. ( MTDB – Branding you )

have I told you lately that I love you ? ( 13 Jan 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jan-Feb — himfiles at 12:14 am on Saturday, February 23, 2008

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. ( Amsal 31 : 23 )

Laki gua. Dalam salahsatu episode program tv “Mario Teguh Bussiness Art”, ada pengandaian menarik yang diberikan oleh beliau tentang hal ini. Bayangkan sekiranya ibu negara saat bersama-sama dengan temannya bercerita perihal suaminya yang menjabat presiden itu berujar : “Eh, tahu nggak laki gua…”. Sebaliknya mungkin terdengar agak asing, bahkan abnormal bila pihak suami menyebut pasangannya : “wanita gua” atau “perempuan gua”, yang jamak malah “bini gua”, halah…

Sebelum terlanjur tulisannya tambah ngelantur kemana-mana, penulis jadi teringat ada seorang teman di milis tetangga yang kira-kira menulis begini : “laki gue tuch kalau udah begitu…”. Lalu bla bla bla berkisah “menarsiskan” seputar kegiatan suaminya. Meski penulis masih jomblo begini, beberapa pandangan tentang rumahtangga lumayan tahulah ( lebih jauh baca artikel HIMfamilyman2006 )

Entah karena terbiasa atau karena ketidaktahuannya, bahan bercanda soal “laki gua” yang mungkin dianggap biasa di kalangan para istri sebenarnya menyakitkan untuk didengar para suami. Konotasi yang muncul dalam bayangan para suami bahwa “laki gue” mengesankan adanya unsur penguasaan istri akan keputusan suami, sehingga istilah suami-suami takut istri begitu populernya. Lalau ada lagi pengertian bahwa kaum pria bagaikan “piala kemenangan” bagi para wanita. Dalam beberapa kasus, seringkali hal ini pula terjadi karena posisi tawar wanita lebih “kuat”, biasanya dalam hal materi dan status sosial.

Kutipan nas diatas diambil dari perikop yang berjudul : puji-pujian untuk isteri yang cakap. Perihal kecakapannya seperti apa, silakan direnungkan lebih lanjut dalam ayat-ayat tersebut. Yang mau penulis ungkap disini adalah kadang ucapan “laki gua” yang terkesan tidak menghargai tersebut, mungkin saja karena disertai tidak imbangnya kemampuan suami untuk menghargai juga atas apa yang telah diperbuat sang istri.

Stereotipe negatif yang muncul tentang peran istri yang kerap penulis dengar adalah cerewet, serba detail, kalau suami tidak ingat hari2 penting malah istri tambah marah, dan seterusnya, sehingga kadang suami lupa untuk memuji masakannya yang enak, lupa untuk memuji kerapihan rumahnya, lupa untuk memuji istri saat tampil cantik, dan masih banyak lagi contohnya.

Jadi kalau begitu, para suami jangan hilangkan kemampuan memuji para istri sepanjang sisa hidup anda, yang (anehnya ) justru begitu “terlatih” pada saat pacaran dahulu. Hayo, silakan para suami mengingat kembali trik rayuan maut anda kala itu, he3… Juga untuk para istri, banggalah akan apapun keadaan suami anda. Rendah hatilah ketika orang mengenal suami anda berbahagia karena perbuatan anda, bukan karena gaya pergaulan anda. Jadi, saling memuliakanlah dalam bertutur kata !

HiMTquote :

Tidak ada sebuah perasaan yang bisa disebut cinta, bila ia tidak dibuktikan dalam penghormatan. ( MTST-Have I told you lately that I love you )