HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

i wanna be rich ( 27 Apr 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 9:19 pm on Friday, April 25, 2008

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMU dan berkata : Siapa Tuhan itu ? Atau kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. ( Amsal 30 : 8b-9 )

Tuhan ingin anda kaya”. Pertanyaannya : apakah itu juga keinginan anda ? Mayoritas pasti menjawab : siapa yang nggak mau kaya ? Namun apa jawaban anda kalau diajukan pertanyaan berikut ini : “setelah kaya, lalu apa ?”. Semisalkan jawaban yang muncul adalah : untuk kesejahteraan keluarga, berarti menjadi kaya bukan lagi tujuan utama anda. Tokh, banyak orang yang menurut pandangan kasatmata kita tidak kaya secara materi, tetapi kok bisa menikmati apa yang namanya sejahtera. Jadi kaya adalah sesuatu yang relatif donk !

Mungkin tidak aneh kalau orang memandang kekayaan sebagai tanda berkat dari Yang Kuasa, sehingga “the opposite side” alias kemiskinan dianggap sebagai kutukan. Ada lagi persepsi bahwa kekayaan dibangun dari kerja keras, jadi orang yang bermalas-malasan memang pantas miskin. Ketika kerja keras ( work hard ) tidak lagi cukup mengena untuk dipahami, muncul istilah baru : kerja cerdas ( work smart ). Cerdas dalam hal apa ? Sebuah ironi dibeberkan bila kita pernah membaca beberapa profil pengusaha yang bahkan SD pun tidak tamat, tetapi bisa menjadi direktur yang membawahi staf dan manajer yang rata2 lulusan perguruan tinggi.

Ada kalimat bijak yang sering penulis dengar dari kalangan marjinal mengenai bagaimana mereka bersikap positif terhadap rendahnya daya beli konsumsi mereka : rejeki di tangan Tuhan ( meski tentunya mereka tetap berusaha gigih memperbaiki taraf kesejahteraannya ). Sikap berserah seperti ini mungkin jarang kita temui dalam diri pengusaha yang sudah mapan, seolah segala kesuksesannya karena buah keputusannya sendiri. Makanya tak heran beberapa karakter orang berpunya seringkali disematkan dengan istilah “OKB” ( orang kaya baru ), mentang2 kaya lalu berlagak angkuh. Lha, kalau orang miskin, apa yang mau disombongkan

Lalu salahkah menjadi kaya ? Dalam berbagai kisah kitab suci, kaya bukanlah dosa. Sebab pasti anda setuju bahwa Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang miskin, yang seolah minta disedekahi dan dibela oleh manusia. Tetapi keinginan menjadi kaya memang bisa menjadi jebakan untuk menghalalkan segala cara, dan yang paling kentara di Indonesia ini, apalagi kalau bukan korupsi. Ada yang berdalih dengan alasan motif ekonomi, namun tak sedikit yang justru karena nafsu serakah, tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Dalam sebuah tema diskusi di milis MTSC, ada pertanyaan kira2 seperti ini : “syarat dasar apa untuk bisa sukses ?”. Setelah para pembaca saling berkomentar, maka jawaban singkat pun diberikan : keinginan. Karena dengan keinginan, kita akan melihat sebuah tujuan lebih besar dari masalah yang mungkin timbul. Lihat saja berapa banyak orang yang depresi karena tidak tahu apa yang diinginkannya, namun ada juga yang stress karena apa yang diinginkannya belum juga terpenuhi.

Tuhan hanya sejauh doa. Mungkin sudah berulangkali kita mengajukan permintaan kepadaNya, dari yang model pengemis sampai model debt-collector, he3… tapi mungkin kita jarang bertanya, apakah yang kita minta seturut kehendakNya sekarang. Sebab Tuhan memiliki alasannya sendiri, mengapa kita masih belum diberikan apa yang kita minta atau sebenarnya waktu yang belum tepat untuk kita pantas menerimanya. Jadi kalau begitu, mengapa kita tidak menginginkan dahulu apa yang telah kita miliki sebagai hal yang selayaknya disyukuri, sebelum kita berhak untuk mendapatkan yang lebih bahkan dari kita bayangkan ?

HiMTquote :

Dan pengertian itulah yang mengangkat siapapun yang termiskin di antara kita untuk tetap bisa menjadi lebih kaya dari mereka yang berhartakan yang bukan haknya. ( MTST – I wanna be rich )

no matter what ( 13 Apr 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 9:10 pm on Friday, April 25, 2008

Karena itu Aku berkata kepadamu : apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. ( Markus 11 : 24 )

Beberapa bulan yang lalu, dunia perbukuan kita dihebohkan oleh sebuah karya yang berjudul “The secret”. Tidak seperti novel “Da Vinci Code” yang menimbulkan kontroversi di kalangan agamawan, buku berukuran saku ini cukup menarik karena menggunakan sudut pandang tentang bagaimana berpikiran positif. Tak berbeda jauh dengan konsep tersebut, dari dalam negeri sendiri muncul istilah “mestakung” yang dilontarkan oleh Yohanes Surya. Tokoh utama yang kerap terlibat dalam penggodokan murid2 berbakat di ajang olimpiade fisika internasional ini mengemukakan sebuah teori secara garis besarnya adalah bila sebuah harapan atau niat diyakini sungguh2, maka di satu keadaan semesta (akan) mendukung. Meskipun secara kasat mata tidak terpola, entah bagaimana caranya apa yang kita ingini dengan tanpa keraguan itu akan terwujud. Mungkin bagi kalangan kebanyakan trend ini adalah hal baru, tapi bukankah sejak dulu kita telah diperkenalkan dengan konsep yang begitu familiar yaitu : iman.

Kita beriman pada sosok Pribadi Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya bukan barang aneh lagi. Ketika keadaan kita tengah sekarat, menderita, maupun sengsara, pastinya kita berharap ada sosok Sang Maha Peduli yang akan menolong kita keluar dari situasi yang sesukar apapun. Sedangkan bila sedang mengalami kesenangan, tak jarang kita malah lupa untuk mensyukuri nikmat yang Dia berikan. Kontradiktif, masa khan untuk mengingat kebaikanNya, kita harus mengalami celaka dulu ?

Penulis tertarik pada permainan kata “kalau” dan “tetapi”. Contoh : “saya akan bersikap baik kepada dia kalau dia lebih dulu baik pada saya” atau “ saya mau saja menolong dia tetapi gimana yach dia jahat dulu terhadap saya sich”. Berapa kali kita membuat persyaratan karena kejadian buruk yang terjadi dulu ? Atau mengingat2 daftar kesalahan yang dilakukan orang lain pada kita ? Seolah-olah niat baik yang sebenarnya dimunculkan oleh nurani kita terganjal oleh alam emosi kita. Padahal tahukah anda bahwa seandainya Tuhan senaif manusia seperti itu, alamat akhir kita semua adalah neraka. Jadi kalau begitu, pastinya karakter2 manusia yang diharapkanNya terkumpul di surga bukanlah sosok yang selalu mengharapkan orang lain mengubah tindakannya supaya lebih baik dulu.

Keimanan adalah tindakan “meskipun”. Saya akan tetap mengasihinya, meskipun dia menyakiti hati saya. Saya akan tetap percaya padaNya, meskipun orang lain menganjurkan hal sebaliknya. Saya akan tetap bekerja keras, meskipun gaji yang diterima tiap bulan tidak memadai. Masih banyak lagi contoh lainnya yang mungkin bisa pembaca rangkai sendiri. Kelihatannya mudah, namun dalam prakteknya tidak semua orang bisa melakukan. Hanya orang2 super yang bisa mendamaikan hatinya dengan cara memaafkan kekhilafan orang lain dan melupakannya, tidak peduli seberapa pedihnya luka yang ditimbulkannya.

Keimanan adalah tindakan “merelakan”. Berapa banyak dari kita yang telah berdoa meminta sesuatu kepadaNya agar sesuai keinginan kita pribadi, lalu ketika hal itu tidak diberikan kita menjadi kecewa dan patah semangat ? Mulai timbul pemikiran, apakah Tuhan bisa dipercaya memenuhi keinginan kita ? Hei, Dia Maha Tahu atas segala kebutuhan kita, adapun jika beberapa keinginan kita tak terkabul karena Ia lebih tahu yang terbaik bagi kita dibanding kita sendiri. Lalu di sisi lain, ada pula yang menimpakan kemalangan pada nasib buruk. Yang penulis yakini bukanlah nasib buruk, karena tidak mungkin Pribadi Maha Kasih tega untuk memberikan yang buruk sementara Ia begitu berkuasa menganugerahkan yang baik. Seperti yang dicantumkan pada awal paragraf ini, jangan andalkan kekuatan anda sendiri. Relakan pribadi anda dibentuk olehNya, bagai seorang ahli logam sedang memproses emas murni untuk dijadikan perhiasan mahal.

Disebuah episode MTBA, pikiran penulis disadarkan akan kalimat ini : “jadikan diri anda sebagai pribadi yang mudah dibantu”. Coba periksa, sudah berapa kali Tuhan mengulurkan tanganNya dalam kehidupan anda, namun tangan anda masih saja tidak mau terangkat menyambutNya ? Yach, selama ini kita mungkin mengeraskan hati, menganggap sepi bantuanNya yang tanpa kita sadari selama ini lewat perantaraan orang lain, atau bersikap seolah kesukaran akan berlalu seiring waktu berjalan. Saat orang lain masih mempertanyakan kemampuan kita, setidaknya kita masih punya Tuhan yang tidak meragukan kita.

HiMTquote :

Orang lain boleh meragukan kemampuan kemungkinan-kemungkinan anda, tetapi anda tidak. ( MTST – no mather what )

trusted leader ( 23 Mar 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 8:46 pm on Friday, April 25, 2008

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tak lebih daripada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat disamakan ? ( Yesaya 2 : 22 )

Dalam satu kesempatan training yang tak jauh dari tema “character building”, penulis dan rekan karyawan lainnya diperlihatkan sebuah potongan film. Mungkin ada dari antara pembaca yang pernah juga disodori penayangan film “Man of honour” yang dibintangi Cuba Gooding Jr dan Robert De Niro. Bagi yang belum pernah melihatnya, baiknya penulis ulas sekilas saja agar dapat gambarannya. Dikisahkan sang tokoh utama adalah seorang marinir yang kakinya buntung namun bertekad untuk masuk tim penyelam. Dengan kaki palsunya, ia berusaha mengejar cita-citanya meski terbentur pada peraturan yang cukup berat, yakni harus dapat membawakan baju selam yang bobotnya sekitar 2 kali berat tubuhnya dalam 12 langkah. Hal yang bagi orang normal pun sulit dilakukan, mesti ia jalani sebagai test. Dan disinilah penulis mendapatkan inspirasi untuk menulis topik kali ini yakni ketika komandannya mendukung hal tersebut, Ending-nya tonton sendiri saja yach, ‘ntar artikel ini malah jadinya cerita soal film

Dalam setiap organisasi, pastinya ada hubungan antara atasan-bawahan. Sebagai karyawan, kadang dalam satu titik kita merasa atasan tidak mengerti apa mau kita, kebanyakan justru kita sebagai bawahan harus mengerti maunya bos. Seolah kalau bos berbicara global, maka otomatis karyawan harus bisa directly mengejewantahkannya dalam format detail. Namun ketika hasilnya dipertemukan, seringkali malah perdebatan yang muncul, masing2 punya persepsi yang berbeda. Kuncinya sich kesediaan untuk membuka komunikasi yang baik agar terjalin saling pengertian, bukan menyalahkan.

Harta paling utama dari seorang pemimpin adalah kepercayaan anak buahnya. Banyak pemimpin disegani bukan karena tajir dalam memberikan reward dan begitu “bengis” dalam memberikan hukuman. Kalau hanya mengandalkan proses seperti itu, tak ubahnya kerja karyawan diperlakukan sebagai timbangan nilai. Misalnya : oh, karena poin baik karyawan 8 dan poin buruknya -6, lumayan dech masih plus 2 poin . Lain lagi bila berkaca dari sudut pandang karyawan, biasanya sich mayoritas sosok atasan dianggap lebih banyak minusnya, apalagi kalau bersangkutan dengan komparasi soal karier, gaji, tunjangan, insentif, dan sebagainya, he3… Lebih dibenci lagi kalau atasan bersikap otoriter, sombong, dan nggak kenal waktu kalau ngasih tugas seabrek, sehingga keberadaan sang bos ini disyukuri banget kalau beliau tidak ada. Hayo ngaku saja

Namun akan lain bila kepercayaan itu diraih dengan penghormatan masing-masing pihak demi tujuan bersama. Bahwa pekerjaan sang bawahan adalah untuk mendukung atasan dalam menyejahterakan pula bawahan. Sebuah lingkaran siklus yang saling mendukung yang bukan dalam posisi mau enaknya sendiri. Namun kendala pada umumnya untuk membangun mindset soal ini adalah masing2 menunggu pihak lain untuk “take action”. Buat apa saya menghormati orang yang tidak menghormati saya duluan. Hey, ketahuilah bahwa itu bukan pribadi yang membuat anda super.

Berhubung topiknya tentang “pemimpin yang dipercaya” ( tidak terbatas pada sosok yang kita anggap atasan, bukankah tiap orang adalah pemimpin bagi pribadinya sendiri juga ? ), ada 3 tips sederhana yang mungkin bisa anda latih dan praktekkan agar rasa percaya itu tumbuh bukan karena rasa keterpaksaan, yakni : meneladankan, menganjurkan, dan mengharuskan. Bagaimana kita bisa menganjurkan, apalagi mengharuskan seseorang untuk berbuat sesuai yang kita minta bila tidak kita teladankan terlebih dahulu ? Sebuah ironi bukan bila seorang bapak perokok meminta anaknya untuk tidak merokok ?

Jadi kalau begitu bukankah semuanya adalah berdasarkan pelayanan ? Anak buah melayani atasan dan bos melayani pula bawahannya. Saling mempercayai bahwa tanpa yang lain, mereka tidak berarti apa-apa. Kadang penulis pikir, padahal khan Tuhan Maha Kuasa namun mengapa Beliau mempercayakan apa yang dengan mudah bisa dikerjakanNya sendiri untuk dilakukan oleh manusia ? Ia percaya kita mampu, namun pertanyaannya : apakah kita (mau) mempercayaiNya sebagai pemimpin langkah hidup kita ?

HiMTquote :

Integritas adalah kesetiaan kepada yang benar. ( MTDB – trusted leader )

the light of understanding ( 9 Mar 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 8:41 pm on Friday, April 25, 2008

Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan ? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya ? ( Roma 11 : 34 )

Bila Tuhan itu baik, lalu mengapa ada kejahatan di dunia ini ?”. Tak pelak pertanyaan ini kerap timbul di benak mereka yang tengah merasakan trauma karena menjadi korban tindak kriminal, entah itu perampokan dalam taksi, copet di angkutan umum, dipalak preman pasar, atau ditodong komplotan kapak merah. Sambil mengelus dada, kok bisa yach dirinya seakan mendapatkan nasib apes, kenapa bukan orang lain yang lebih berpunya atau lebih layak untuk dijadikan “korban” kekerasan orang lain, asal jangan saya.

Sebenarnya masih banyak kontradiksi yang hendak penulis kemukakan, tetapi rasanya satu contoh diatas bisa mewakili kita untuk memahami bahwa banyak orang memandang apa yang ada didepannya dengan kacamata manusianya. Berapa kali kita mendengar “excuse” atas sebuah pelanggaran dengan kalimat seperti ini : manusia itu makhluk lemah yang tidak luput dari kesalahan. Justifikasi bahwa manusia makhluk lemah sebenarnya bukan konsep Tuhan, bukankah ketika yang namanya manusia pada mulanya sudah diberi kekuasaan khusus dariNya. Lemah karena kita yang memilihnya untuk menjadi seperti itu.

Sedangkan kalau “kesalahan”, istilah trial and error sering kita dengar untuk mengungkapkan adanya eksperimen bahwa untuk sesuatu yang kita belum ketahui kadang lebih baik mencoba lalu salah untuk dapat segera diperbaiki, ketimbang tidak mencobanya sama sekali dan tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak. Namun ada kesalahpahaman disini akan “trial & error” disini, seolah melulu bahwa percobaan yang kita buat berbuah pada kesalahan melulu. Mestinya juga dalam setiap “trial”, ada kemungkinan untuk “success”. Lewat kegagalan, sebenarnya Tuhan sedang mengajarkan cara untuk membuat kita berhasil, hanya saja kita kadang masih belum mengerti.

Dalam sebuah seminar pengembangan diri para karyawan level staf ( bukan manager ) yang diselenggarakan perusahaan, ada pertanyaan begini : “Siapa yang dalam 4-5 tahun kedepan berencana untuk membuka usaha sendiri ?”. Mayoritas dari mereka mengacungkan tangan, entah apakah itu tanda motivasi mereka untuk maju atau merasa sumpek dengan pekerjaannya yang sekarang. Dengan nada berseloroh, siap2 dech tingkat turn over perusahaan bakal tinggi, he3… Bagi perusahaan yang sudah mapan, motivasi pegawainya untuk berdikari seperti ini mestinya perlu didukung, bukannya malah membayangkan akan seperti apa repotnya mendidik tenaga baru untuk di-training dari awal lagi. Malah kalau perlu para pegawai diberi pelatihan dini kewirausahaan sebagai bekal bila hendak mengambil pensiun di usia sekitar 40 tahun. Terlalu ekstrem ?

Dalam beberapa kesempatan, penulis terkadang miris juga dengan forum penghargaan bagi karyawan yang paling lama bertahan di suatu perusahaan. Apakah itu karena dalam dirinya tidak punya pilihan lain, jadi jalani saja apa yang ada meski posisi kerjanya selama itupun tidak beranjak jauh ? Mungkin ada beberapa dari kita memandang karirnya beberapa tahun mendatang mentok dan mulai mengambil ancang2 untuk “do something better”. Biasanya ada 3 pilihan : pasrah, pindah kerja, atau ambil resiko membuka usaha sendiri.

Pernahkah kita berdoa padanya hanya untuk memastikan apa yang kita pilih, bukan apa yang Tuhan rencanakan ? Maka ketika hasil dari pilihan kita seolah-olah digagalkanNya, mungkin itu petunjuk bahwa apa yang kita kerjakan selama ini bukan perkenanNya atau ada yang harus dipelajari lagi dari langkah mundur setapak untuk maju 2-3 tapak kedepan.

Disalahsatu episode MTBA, diberikan satu tips pencerahan bahwa “prasyarat” dari Sang Maha Pemberi adalah “all you have to do is just ask !” ( Matius 7 : 7 ). Sementara dari pribadi kita, ada 3 hal sederhana yang musti dilakukan : mintalah hanya kepadaNya, mintalah sesuai yang kita perlukan menurut rencana kehidupan yang diberikanNya untuk kita, dan pantaskan diri kita untuk berhak menerima apa yang kita minta. Jadi kalau begitu, bila selama ini apa yang kita minta belum dikabulkanNya, cek lagi tahapan mana yang belum kita penuhi tanpa perlu “mengajari” Dia untuk membeberkan apa yang kita butuhkan. Dia Maha Tahu yang membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

HiMTquote :

Pengetahuan adalah tangga terbaik menuju pengertian, tetapi pengetahuan itu tidak akan menuntun kepada pengertian – bila orang yang mengetahui itu menolak untuk mengerti ( MTST – the light of understanding )