i wanna be rich ( 27 Apr 08 )
Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMU dan berkata : Siapa Tuhan itu ? Atau kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. ( Amsal 30 : 8b-9 )
“Tuhan ingin anda kaya”. Pertanyaannya : apakah itu juga keinginan anda ? Mayoritas pasti menjawab : siapa yang nggak mau kaya ? Namun apa jawaban anda kalau diajukan pertanyaan berikut ini : “setelah kaya, lalu apa ?”. Semisalkan jawaban yang muncul adalah : untuk kesejahteraan keluarga, berarti menjadi kaya bukan lagi tujuan utama anda. Tokh, banyak orang yang menurut pandangan kasatmata kita tidak kaya secara materi, tetapi kok bisa menikmati apa yang namanya sejahtera. Jadi kaya adalah sesuatu yang relatif donk !
Mungkin tidak aneh kalau orang memandang kekayaan sebagai tanda berkat dari Yang Kuasa, sehingga “the opposite side” alias kemiskinan dianggap sebagai kutukan. Ada lagi persepsi bahwa kekayaan dibangun dari kerja keras, jadi orang yang bermalas-malasan memang pantas miskin. Ketika kerja keras ( work hard ) tidak lagi cukup mengena untuk dipahami, muncul istilah baru : kerja cerdas ( work smart ). Cerdas dalam hal apa ? Sebuah ironi dibeberkan bila kita pernah membaca beberapa profil pengusaha yang bahkan SD pun tidak tamat, tetapi bisa menjadi direktur yang membawahi staf dan manajer yang rata2 lulusan perguruan tinggi.
Ada kalimat bijak yang sering penulis dengar dari kalangan marjinal mengenai bagaimana mereka bersikap positif terhadap rendahnya daya beli konsumsi mereka : rejeki di tangan Tuhan ( meski tentunya mereka tetap berusaha gigih memperbaiki taraf kesejahteraannya ). Sikap berserah seperti ini mungkin jarang kita temui dalam diri pengusaha yang sudah mapan, seolah segala kesuksesannya karena buah keputusannya sendiri. Makanya tak heran beberapa karakter orang berpunya seringkali disematkan dengan istilah “OKB” ( orang kaya baru ), mentang2 kaya lalu berlagak angkuh. Lha, kalau orang miskin, apa yang mau disombongkan
Lalu salahkah menjadi kaya ? Dalam berbagai kisah kitab suci, kaya bukanlah dosa. Sebab pasti anda setuju bahwa Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang miskin, yang seolah minta disedekahi dan dibela oleh manusia. Tetapi keinginan menjadi kaya memang bisa menjadi jebakan untuk menghalalkan segala cara, dan yang paling kentara di Indonesia ini, apalagi kalau bukan korupsi. Ada yang berdalih dengan alasan motif ekonomi, namun tak sedikit yang justru karena nafsu serakah, tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.
Dalam sebuah tema diskusi di milis MTSC, ada pertanyaan kira2 seperti ini : “syarat dasar apa untuk bisa sukses ?”. Setelah para pembaca saling berkomentar, maka jawaban singkat pun diberikan : keinginan. Karena dengan keinginan, kita akan melihat sebuah tujuan lebih besar dari masalah yang mungkin timbul. Lihat saja berapa banyak orang yang depresi karena tidak tahu apa yang diinginkannya, namun ada juga yang stress karena apa yang diinginkannya belum juga terpenuhi.
Tuhan hanya sejauh doa. Mungkin sudah berulangkali kita mengajukan permintaan kepadaNya, dari yang model pengemis sampai model debt-collector, he3… tapi mungkin kita jarang bertanya, apakah yang kita minta seturut kehendakNya sekarang. Sebab Tuhan memiliki alasannya sendiri, mengapa kita masih belum diberikan apa yang kita minta atau sebenarnya waktu yang belum tepat untuk kita pantas menerimanya. Jadi kalau begitu, mengapa kita tidak menginginkan dahulu apa yang telah kita miliki sebagai hal yang selayaknya disyukuri, sebelum kita berhak untuk mendapatkan yang lebih bahkan dari kita bayangkan ?
HiMTquote :
Dan pengertian itulah yang mengangkat siapapun yang termiskin di antara kita untuk tetap bisa menjadi lebih kaya dari mereka yang berhartakan yang bukan haknya. ( MTST – I wanna be rich )