becoming your best friend ( 22 Jun 08 )
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. ( Amsal 17 : 17 )
“Orang kecil membesarkan dirinya dengan mengecilkan orang lain. Orang besar mengecilkan dirinya untuk membesarkan orang lain”. Kutipan ini mungkin sering anda alami kebenarannya, contohnya dalam dunia kerja. Dalam bahasa lebih kerennya : politik kantor. Ada karyawan yang hobinya merayu atasan supaya minta naik gaji, mau menonjol sendirian, atau malah menjadi trouble-maker di dalam tim department-nya. Mungkin sosok rekan kerja yang diemohi untuk diajak bergaul adalah tipe bossy, bukan bos tetapi bertingkah seperti bos, bahkan disaat atasannya sendiri tidak bersikap layaknya seorang bos.
Mungkin anda pernah mendapatkan email berantai yang isinya mengupas perbedaan antara karakter bos dengan pemimpin. Penulis kutip salahsatunya : bos membenarkan dirinya dengan cara menyalahkan bawahannya tanpa tahu apa masalahnya, sedangkan pemimpin membenarkan dirinya dengan cara menimpakan kesalahan anak buah yang tidak tahu masalahnya kepada dirinya. Begitulah pemimpin, jangan hanya mau senangnya kalau dipuji, namun tidak mau terima kesulitannya kalau sedang dirundung cercaan dan makian.
Dari hal tersebut diatas, penulis jadi tahu mengapa ada rekan kerja yang hampir puluhan tahun masih bekerja di tempat yang sama, tetapi ada pula orang yang baru beberapa tahun saja sudah mempunyai posisi yang lumayan tinggi. Balik lagi, bahwa ada hukum kepantasan untuk segala sesuatu. Mereka yang tidak tahu memantaskan diri, kualitasnya memang hanya sebatas mengeluh dan menggerutu.
Seringkali dalam seminar pengembangan diri, sentral topik yang dibicarakan adalah di kala lingkungan tidak mau berubah, maka kitalah yang dituntut untuk melakukan perubahan. Jangan menunggu orang berubah, sebab hal itu akan menimbulkan kekecewaan semata. Kita berharap bahwa rekan kerja yang menyebalkan itu akan segera keluar dari tim kita, namun nyatanya kok dia tidak juga hengkang yach ? Maka terpaksa untuk setiap hari yang kita lalui, mesti “beradaptasi” dengan sikap temperamentalnya. Nasehat yang sering digunakan untuk kasus seperti ini : “yang waras, ngalah” J.
Istilah “teman kerja” mungkin sudah jamak kita dengar, namun bagaimana dengan “sahabat sekerja” ? Dua kata yang bersinonim namun beda sekali bila kita definisikan secara lebih tegas. Kata “sahabat” lebih menandakan hubungan yang lebih erat ketimbang kata “teman”. Bila teman hanya sebatas kenal, namun sahabat adalah pribadi yang kita tahu lebih dalam.
Dalam pointer pak Mario Teguh soal in, bila penulis tidak salah tafsir ditekankan pada perdamaian antara pikiran dengan nurani kita. Pernah merasakan pedihnya “membohongi diri sendiri” ? Bahwa dalam satu jasad ragawi yang sama ini, sudah berapa kali pikiran berusaha menipu nurani sendiri ? Nurani kita berkata : jangan mengambil hak milik orang lain, namun disisi lain pikiran kita terprovokasi untuk bilang : kalau tidak korupsi, kapan kayanya ? Apakah selama ini pikiran kita sudah bersahabat dengan nurani kita ?
Sahabat sejati tidak akan tega mencelakakan atau merendahkan kita. Namun kenyataannya, sangat sulit menemukan sosok sempurna seperti itu. Konsep “setia dalam suka duka” mungkin masih terasa klise untuk diucapkan dalam janji perkawinan, tetapi bukankah dalam ikatan tersebut arti persahabatan diuji ? Tidak ada lagi rahasia yang harus ditutupi diantara mereka berdua. Berdua menandakan sebuah relasi timbal balik yang penuh tanpa campur tangan pihak lain.
Gambaran diatas memberikan kita akan pemahaman akan komunikasi personal dengan Tuhan. Bila kita menganggap Tuhan sebagai sahabat, tentunya kita tidak akan sungkan untuk mencurahkan segenap isi hati kita. Dan untuk sahabatNya ini, pastinya Tuhan tidak akan menahan curahan berkat, hikmat, maupun rahasia masa depan untuk kita yang dikenanNya. Karena tidak seperti manusia, Ia adalah pribadi yang setia dalam menepati janji-janji indahNya. Tuhan hanya sejauh doa-doa kita.
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. ( Yohanes 15 : 13 )
HiMTquote :
Bukan kurangnya kasih sayang yang menggagalkan banyak pernikahan, tetapi tidak cukupnya persahabatan. ( MTST – Becoming your best friend )