HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

becoming your best friend ( 22 Jun 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:42 am on Monday, June 23, 2008

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. ( Amsal 17 : 17 )

“Orang kecil membesarkan dirinya dengan mengecilkan orang lain. Orang besar mengecilkan dirinya untuk membesarkan orang lain”. Kutipan ini mungkin sering anda alami kebenarannya, contohnya dalam dunia kerja. Dalam bahasa lebih kerennya : politik kantor. Ada karyawan yang hobinya merayu atasan supaya minta naik gaji, mau menonjol sendirian, atau malah menjadi trouble-maker di dalam tim department-nya. Mungkin sosok rekan kerja yang diemohi untuk diajak bergaul adalah tipe bossy, bukan bos tetapi bertingkah seperti bos, bahkan disaat atasannya sendiri tidak bersikap layaknya seorang bos.

Mungkin anda pernah mendapatkan email berantai yang isinya mengupas perbedaan antara karakter bos dengan pemimpin. Penulis kutip salahsatunya : bos membenarkan dirinya dengan cara menyalahkan bawahannya tanpa tahu apa masalahnya, sedangkan pemimpin membenarkan dirinya dengan cara menimpakan kesalahan anak buah yang tidak tahu masalahnya kepada dirinya. Begitulah pemimpin, jangan hanya mau senangnya kalau dipuji, namun tidak mau terima kesulitannya kalau sedang dirundung cercaan dan makian.

Dari hal tersebut diatas, penulis jadi tahu mengapa ada rekan kerja yang hampir puluhan tahun masih bekerja di tempat yang sama, tetapi ada pula orang yang baru beberapa tahun saja sudah mempunyai posisi yang lumayan tinggi. Balik lagi, bahwa ada hukum kepantasan untuk segala sesuatu. Mereka yang tidak tahu memantaskan diri, kualitasnya memang hanya sebatas mengeluh dan menggerutu.

Seringkali dalam seminar pengembangan diri, sentral topik yang dibicarakan adalah di kala lingkungan tidak mau berubah, maka kitalah yang dituntut untuk melakukan perubahan. Jangan menunggu orang berubah, sebab hal itu akan menimbulkan kekecewaan semata. Kita berharap bahwa rekan kerja yang menyebalkan itu akan segera keluar dari tim kita, namun nyatanya kok dia tidak juga hengkang yach ? Maka terpaksa untuk setiap hari yang kita lalui, mesti “beradaptasi” dengan sikap temperamentalnya. Nasehat yang sering digunakan untuk kasus seperti ini : “yang waras, ngalah” J.

Istilah “teman kerja” mungkin sudah jamak kita dengar, namun bagaimana dengan “sahabat sekerja” ? Dua kata yang bersinonim namun beda sekali bila kita definisikan secara lebih tegas. Kata “sahabat” lebih menandakan hubungan yang lebih erat ketimbang kata “teman”. Bila teman hanya sebatas kenal, namun sahabat adalah pribadi yang kita tahu lebih dalam.

Dalam pointer pak Mario Teguh soal in, bila penulis tidak salah tafsir ditekankan pada perdamaian antara pikiran dengan nurani kita. Pernah merasakan pedihnya “membohongi diri sendiri” ? Bahwa dalam satu jasad ragawi yang sama ini, sudah berapa kali pikiran berusaha menipu nurani sendiri ? Nurani kita berkata : jangan mengambil hak milik orang lain, namun disisi lain pikiran kita terprovokasi untuk bilang : kalau tidak korupsi, kapan kayanya ? Apakah selama ini pikiran kita sudah bersahabat dengan nurani kita ?

Sahabat sejati tidak akan tega mencelakakan atau merendahkan kita. Namun kenyataannya, sangat sulit menemukan sosok sempurna seperti itu. Konsep “setia dalam suka duka” mungkin masih terasa klise untuk diucapkan dalam janji perkawinan, tetapi bukankah dalam ikatan tersebut arti persahabatan diuji ? Tidak ada lagi rahasia yang harus ditutupi diantara mereka berdua. Berdua menandakan sebuah relasi timbal balik yang penuh tanpa campur tangan pihak lain.

Gambaran diatas memberikan kita akan pemahaman akan komunikasi personal dengan Tuhan. Bila kita menganggap Tuhan sebagai sahabat, tentunya kita tidak akan sungkan untuk mencurahkan segenap isi hati kita. Dan untuk sahabatNya ini, pastinya Tuhan tidak akan menahan curahan berkat, hikmat, maupun rahasia masa depan untuk kita yang dikenanNya. Karena tidak seperti manusia, Ia adalah pribadi yang setia dalam menepati janji-janji indahNya. Tuhan hanya sejauh doa-doa kita.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. ( Yohanes 15 : 13 )

HiMTquote :

Bukan kurangnya kasih sayang yang menggagalkan banyak pernikahan, tetapi tidak cukupnya persahabatan. ( MTST – Becoming your best friend )

reputation ( 8 Jun 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:40 am on Monday, June 23, 2008

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya ? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. ( Amsal 22 : 29 )

I don’t care with my popularity. Kalimat ini biasanya terucap saat keputusan buruk akan dijatuhkan yang kemungkinan berdampak buruk bagi banyak orang. Padahal tidak selalu kontotasi populer terbentuk karena hal negatif, secara sempit populer artinya dikenal sebagian besar orang yang kita temui. Beda dengan idola, pastinya sering berkaitan dengan sesuatu hal yang positif. Nggak mungkin khan mengatakan idola saya adalah seorang narapidana, preman , tukang pukul, suka jambret, dan pelaku kejahatan lainnya.

Dalam dunia kerja, sudut pandang populer bisa saja dimaknai macam-macam. Mulai dari yang erjanya bolos melulu sampai beredar rumor suka mengadu ke atasan. Yang paling tidak mengenakkan adalah komentar2 seputar istilah menjilat bos, cari muka, atau sok rajin. Aneh memang, tapi demikianlah cara orang kecil untuk membesarkan dirinya, bukan dengan cara menggali kemampuan pribadinya untuk dikembangkan namun dengan mengecilkan peranan orang lain yang siapa tahu justru bisa menjadi pelajaran untuk membuat dirinya besar.

Orang kecil biasanya mengeluhkan hal-hal kecil, padahal bukankah kebesaran ditentukan oleh besarnya pula masalah ? Sudah berapa lama kita mengeluh soal kenaikan gaji yang rasanya tidak mampu mengejar tingkat pengeluaran kebutuhan sehari-hari ? Tiap kali berkonsultasi ke financial planner, saran menjemukan yang sering didengarnya adalah hemat konsumsi anda dan/atau cari penghasilan sampingan. Menggerutu bahwa perusahaan tidak memahami kesulitan keuangan yang dihadapinya, padahal sudah merasa memberikan kontribusi lebih dari yang didapatnya setiap bulan.

Pertanyaan berikutnya : sudah berapa lama kita mengomel untuk hal yang sama di tempat kerja yang sama ? Bertahun-tahun masih saja di posisi staf, menyalahkan bahwa perusahaan tidak memberikan kesempatan jenjang karier yang baik untuk dirinya. Penulis kutip dari nasehat pak Mario Teguh : untuk segala sesuatu ada ukuran kepantasan. Coba introspeksi diri lagi, jadi kalau begitu apakah karena kita belum pantas menerima maka apa yang diharapkan itu belum menjadi kenyataan. Ingin menjadi bos, tapi menghindari resiko dalam pengambilan keputusan. Ingin kaya, tetapi tidak mau berderma bagi orang lain. Ingin duit banyak, tapi gaya hidup kita boros.

Dalam perusahaan keluarga, mengapa seringkali kita lihat kerabat ataupun saudara pemegang usaha yang ditempatkan dalam jajaran pemimpin dalam struktur organisasi ? Bukan karena kecakapan mereka dalam menjalankan operasional perusahaan tetapi karena mereka dianggap bisa dipercaya. Lha wong masih satu garis keluarga kok, masa sich berani menghancurkan usaha warisan bersama. Namun tak pelak, kondisi seperti ini kadang dituding sebagai salahsatu alasan rapuhnya perusahaan keluarga bertahan lama. Yang diperlukan adalah seorang profesional yang mengerti bidangnya. Namun kembali ke kalimat awal paragraf, apakah dia bisa dipercaya ?

Sebuah prestasi dihargai karena apa yang dihasilkan, namun reputasi dihasilkan dari apa yang selama ini kita hargai. Bila anda menghargai apa yang namanya kejujuran, keadilan, kesetiaan, tanggungjawab, bekerja dengan baik, melayani, dan berserah bahwa apa yang anda lakukan itu atas perkenanNya melekat dalam tindakan anda, maka sebuah kepopuleran tidak lagi layak dicari. Bahkan kepopuleran itu sendiri yang justru akan mengejar tanpa anda usahakan cape2. Namun dibalik itu semua, janganlah kita menjadi takabur.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. ( Lukas 14 : 11 )

HiMTquote :

Semakin berwenang orang yang mempercayai anda, semakin anda menjadi kuat. Semakin tinggi orang yang mempercayai anda, semakin anda dimuliakan. Dan semakin banyak orang yang mempercayai anda, semakin anda berpengaruh. ( MTST – Reputation )

what is possible to achieve ( 25 May 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:38 am on Monday, June 23, 2008

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. ( Markus 12 : 44 )

Pengertian solidaritas biasanya disematkan kepada orang yang mampu untuk berbagi dengan kalangan yang tidak berpunya. Maksudnya ditengah kesulitan yang timbul dalam kehidupan ini, mbok yach mereka yang selama ini sudah mapan menolong mereka yang tertimpa kemalangan. Hal ini seperti mungkin terlintas di benak para pembuat keputusan untuk menaikkan harga bbm ditengah harga minyak dunia yang tengah melambung, bahwa selama subsidi bahan bakar mayoritas oleh kalangan yang “kaya”, setidaknya punya kendaraan pribadi. Lha, kalau penulis yang masih menggunakan transportasi umum bagaimana ?

Dari beberapa komentar yang muncul saat awak angkutan diwawancari oleh penyiar berita tv, jawaban standar yang kerap terdengar adalah “ongkos terserah kebijaksanaan penumpang”, maksudnya kalau penumpang membayar secara sadar membayar lebih yach bersyukur atas pengertiannya, namun bila masih keukeuh membayar dengan tarif lama, ya kebangetan gitu, he3…

Artikel ini bukan hendak membahas soal apakah suatu kebijakan yang kelihatannya merugikan orang banyak patut diprotes atau tidak. Konsep pengorbanan mungkin tidak akan mempan untuk mereka yang selama ini dirundung kemalangan, lha apa lagi yang mesti dikorbankan kalau segalanya sudah habis diberikan. Bukannya mereka tidak mengerti namun memang teladan jarang sekali diberikan oleh pihak yang sepatutnya menjadi contoh. Kalau orang susah antre beras, lha orang kaya antre beli roti. Kalau orang miskin ngutang ke warung tetangga saja susah, tetapi kalau orang kaya diberi hutangan mobil mewah kok rasanya mudah banget.

Bila orang kaya kelihatan sok dermawan dengan “mempromosikan” acara sumbangannya untuk diliput media massa mungkin bukan hal aneh lagi, lha wong punya duit kok. Tapi kalau orang miskin ? Penulis jadi teringat akan perkataan mas Deddy Mizwar dalam iklan menyambut 100 tahun hari kebangkitan nasional, salahsatunya tentang makna bangkit adalah “malu, malu jadi benalu, malu minta melulu”. Dalam hal ini termasuk juga dalam meminta dilayani terus oleh orang lain.

Dalam dunia kerja, seberapa banyak dari bawahan yang jengkel dengan tingkah bos yang sering menambah pekerjaan tapi tidak sesuai dengan penyesuaian gaji yang diharapkan ? Atau tugas yang diberikan atasan tidak ditunjang dengan fasilitas yang memadai sehingga beban kerja dirasakan kian menumpuk ? Kutipan dari Lukas 16 : 10a ini kerap menjadi penguat “energi” di kala penulis sempat jenuh dalam menjalani atas tugas rutin kantor sehari-hari : “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia dalam perkara-perkara besar”. Mungkin yang kita kerjakan sekarang ini kelihatan sepele di mata orang awam, tapi Ia yang Maha Melihat tidak memandang hina. Orang yang berbuat baik meskipun rejeki belum mendekatinya, namun bencana telah menjauh darinya. Sedangkan orang yang berbuat jahat meskipun bencana belum menghampirinya, namun rejeki telah menyingkir darinya.

Biasanya sebagai permakluman, kalimat yang kerap dipakai untuk menghibur diri : tiap orang khan punya kekurangan masing-masing. Betul, namun tiap orang juga diperlengkapi oleh kelebihan masing-masing. Setiap orang sudah diberikan talenta yang berlainan agar dapat saling melengkapi, bukan saling merasa kurang lalu berniat untuk mendapatkan semuanya dari orang lain. Btw, berapa banyak dari pembaca yang selama ini sering merasa kekurangan waktu untuk berbuat hal ini itu ? Lalu berapa banyak dari waktu yang kurang itu kita persembahkan kepadaNya, minimal untuk mengucapkan syukur atas berkat kesehatan yang telah diberikanNya selama ini ketimbang dalam beberapa doa yang terucap seringkali berupa gerutu dalam permasalahan tekanan ekonomi ?

HiMTquote :

Ingatlah bahwa bila ada yang hanya mengeluhkan kekurangan dari yang ada, anda akan terbutakan dari yang mungkin dicapai dari yang sekarang telah ada bersama anda. ( MTST- What is possible to achieve )

measured patience ( 11 May 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:36 am on Monday, June 23, 2008

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang yang memberi kekuatan kepadaku. ( Filipi 4 : 13 )

Orang sabar disayang Tuhan. Kalimat bernada penghiburan seperti ini pasti sering anda ucapkan untuk menguatkan orang yang sedang tertimpa kemalangan. Biasanya lalu diikuti nasehat agar mereka tabah dalam menjalaninya, siapa tahu ada hikmah yang bisa dipetik dari musibah yang tengah dialami. Mungkin agak terasa janggal kedengarannya kalau kita ganti kata “sabar” diatas dengan kata “jujur”, padahal bukankah orang jujur juga disayang Tuhan ? Namun rupanya di negeri ini banyak orang menganggap remeh kejujuran. Lha wong sudah bertindak jujur kok nasibnya seakan sial melulu, maka karakter sabar kerap menjadi benteng terakhir bahwa masalah yang sedang dihadapi bukanlah akhir segalanya.

Sabar biasanya dikaitkan dengan kata pasrah dan/atau berserah. Diperlakukan tidak adil, sabar. Janji diingkari, sabar. Derajat kesejahteraan tidak naik-naik, sabar. Seolah kelihatannya religius banget, bahwa itu semua sudah ada Tuhan yang mengatur dan menentukan. Kehidupan dibiarkan mengalir apa adanya, bukankah Ia yang menetapkan segala sesuatu indah pada waktuNya ?

Tapi sampai seberapa jauh sich batas kesabaran manusia ? Berapa banyak dari kita yang tidak puas karena selama 5 tahun lebih karir pekerjaannya mentok berhubung sang atasan tidak lengser juga dari jabatannya ? Berapa banyak dari kita yang setiap akhir bulan mengeluhkan gaji yang didapat tidak sepadan dengan pengeluaran yang ada ? Atau berapa banyak dari kita yang cemburu dengan kesuksesan orang lain padahal kita merasa start pada titik yang sama ? Bagi orang2 seperti ini, sabar dianggap sebagai faktor pelemah, bukankah semestinya keterlambatan yang ada harus dikejar segera. Maka ketergesaan menjadi sebuah keharusan agar tidak dianggap sebagai ketertinggalan.

Budaya serba instan bisa jadi karena sebuah proses tidak dihargai ketimbang capaian hasil. Sebagai contoh saja kita melihat bagaimana industri tv menempatkan anak bukan sebagai anak, tetapi sebagai orang dewasa ukuran mini. Bila dulu ditanya cita-citanya apa, mungkin jawaban standar yang meluncur adalah ingin jadi dokter, polisi, tentara, insinyur, dan profesi lainnya. Lha, sekarang inginnya jadi selebritis, minimal ngetop di tv. Meski di sisi lain orangtua merasa bangga, namun bukankah itu sebagai tanda ketidaksabaran para ortu untuk melihat anaknya sukses dalam beberapa puluh tahun lagi ?

Mengapa Tuhan menyukai orang sabar ? Karena dalam pribadi orang sabar ada tanda percaya bahwa Tuhan tidak akan melanggar janjiNya asal manusia pun taat melakukan perintahNya. Banyak orang menganggap siapa tahu Yang Maha Pemberi sedang menunda berkatNya, namun penulis yakin Tuhan tidak suka menunda untuk memberi karena Dia Maha Kaya. Kitalah yang acapkali tidak memantaskan diri agar patut menerimanya. Seringkali kita mengkritikNya tidak memenuhi apa yang kita minta, namun seberapa sering kita malah tidak mensyukuri hal-hal yang nampaknya sepele tapi vital ? Ketika anda sehat, maka sebenarnya anda lebih kaya daripada orang yang berlimpah harta tetapi terbaring sakit selama berbulan-bulan. Saat anda bekerja dan menjadi bawahan orang lain, maka sebenarnya anda lebih beruntung ketimbang mereka yang masih berstatus pengangguran di luar sana. Tapi apakah cukup disitu saja ?

Bila ditanya soal tingkat kepuasan, pastinya jawaban umum adalah tidak puas. Selalu berharap lebih dari yang sudah ada sekarang dan itu wajar saja. Namun bila anda merasa apa yang anda kerjakan ini berskala kecil alias tidak membawa hasil besar, Yang Maha Tahu tengah mengukur kesungguhan dan ketekunan anda. Dalam Dia tidak ada perkara yang terlalu kecil untuk tidak diperhatikan maupun perkara besar yang tidak dapat diselesaikanNya. Jatuh itu biasa, asalkan jangan berbaring terlalu lama disitu. Pribadi yang lemah menunggu nasib, sedangkan pribadi yang kuat membangun nasib. Jadi kalau begitu, sabar bukan berarti menunda apa yang sebenarnya sudah bisa mulai dari hal2 sederhana yang kita bisa kerjakan dulu. Sikap ‘nrimo tidak selalu berarti kita menyerah.

HiMTquote :

Ingatlah bahwa kedewasaan bukanlah hasil dari proses penuaan, tetapi hasil dari proses pengendalian diri ( MTST – Measured patience )