HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

When you believe ( 24 Agt 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:24 am on Monday, August 25, 2008

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ? ( Mazmur 8 : 5 )

Bila anda mempercayai Tuhan Maha Besar, maka mengapa anda masih memintakan sesuatu kepadaNya hal-hal kecil ? Pertanyaan ini sungguh menggugah kesadaran penulis, terutama disaat melihat keadaan orang lain yang menjadi impian kita sekarang. Istilah kerennya, pernahkah kita mem-“benchmark” kehidupan kita dengan orang yang kita jadikan panutan ? Secara awam, mungkin lebih banyak keluhan yang muncul ketimbang rasa syukur yang bisa dipanjatkan. Orang bilang : itu manusiawi, karena kita diberikan rasa tidak puas akan suatu keadaan sehingga ada motivasi untuk menjalani langkah hidup ini. Bandingkan dengan mereka yang merasa masa depannya tidak berpengharapan lagi, kebingungan mengenai apa lagi yang mau dicapai.

Contoh sederhana saja, ketika anda ditolak cintanya oleh sang pujaan hati, serasa dunia tak berarti lagi. Kemudian berkecamuk dalam alam pikirannya, dunia seakan runtuh dan tak sedikit yang lalu mengakhirinya hidupnya. Ada lagi yang berpikiran untuk menenangkan dirinya bahwa : mungkin dia bukan jodohku atau masih banyak kok yang bernasib serupa di luar sana. Mungkin hanya “it’s a matter of time”.

Banyak orang mensyaratkan keinginannya akan terpenuhi berdasarkan apa yang nanti dicapainya. Misalnya: bagi kaum kontraktor ( maksudnya selama ini hampir setahun sekali hunting rumah kontrakan melulu, he3… ) akan disebut berhasil bila telah memiliki rumah sendiri. Lha, dananya dari mana kalau untuk makan sehari-hari pun masih ngutang di warung tetangga ? Mungkin anda sempat mendengar istilah “Tuhan ingin anda kaya”, yang bila kita kontradiksikan secara salahkaprah berarti dalam posisi anda yang lagi kesusahan sekarang ini konotasinya Tuhan sedang tidak “berpihak” pada anda, donk ?! Lalu bagaimana anda menyikapi hidup berlimpah para koruptor yang sering anda lihat di media massa, masakan Tuhan yang Maha Adil kelihatannya membela mereka ? 

Menjadi orang baik itu suatu keberhasilan tersendiri, tentunya bukan baik bagi diri sendiri namun juga bagi sesama. Tetapi kadangkali “baik” saja tidak cukup dimataNya. Ada satu kata penting yang kerap terlupakan : apakah kita juga “berkenan” di hadiratNya ? Dalam suatu perumpamaan dikisahkan ada seorang pemuka agama di depan mimbar berkoar memuji kehidupan ritual keagamaannya yang tidak seperti orang kebanyakan yang lalai menjalankannya. Di sudut ujung ruangan tersebut diceritakan ada seorang rendahan yang meratapi kehidupannya yang penuh dosa, menumpahkan kerisauannya telah membuat hati sang Maha Kasih terluka. Nach, menurut anda siapa yang bakal dibenarkan hidupnya olehNya ?

Dari sini kita bisa mengenal sebuah rahasia yang diberikan sejak zaman purbakala. Pepatah : “manusia yang merencanakan ( dan berusaha ), Tuhan yang menentukan” tentu tidak berlaku untuk mereka para pelaku kejahatan. Mentang2 “berhasil” mencuri hak orang lain lalu menganggap jalan yang salah tersebut sebagai sesuatu yang memang diperbolehkan. Bakal yang lebih ndableg, menganggap hasil curiannya tersebut tokh buat disumbangkan kepada orang tidak mampu atau membangun tempat ibadah. Mencari popularitas pribadi untuk dianggap sebagai orang “baik”, tapi Tuhan tidak bisa ditipu manusia.

Dalam pembukaan UUD 1945 alinea 3, berikut saya kutip 7 kalimat awalnya : “atas berkat rahmat Tuhann Yang Maha Kuasa…”, para pendiri negeri ini telah memberi teladan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan adalah atas campur tanganNya untuk maksud yang baik. Jadi kalau begitu kita pun hidup di negeri ini bukanlah suatu kebetulan. Terinspirasi kutipan ayat diatas tampaknya kita bisa bertanya : “Apakah Indonesia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah bangsa Indonesia, sehingga Engkau mengindahkannya ?”

Indonesia damai sejahtera dan berkeadilan mungkin untuk sekarang masih berupa utopia, tetapi bagi tiap individu yang mempercayakan hidup ini dalam tanganNya, peganglah janji bagi kita pribadi maupun bangsa ini sebagai berikut : Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti. ( Mazmur 37 : 25 )

HiMTquote :

Mempelajari yang benar sebetulnya adalah urutan perilaku bersungguh-sungguh untuk melepaskan ikatan-ikatan yang melumpuhkan. ( MTST – When you believe )

Show me the money ( 10 Agt 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:22 am on Monday, August 25, 2008

Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10 : 22 )

Mungkin sebagian dari pembaca pada beberapa bulan kedepan akan disibukkan untuk terlibat dengan pembuatan budget untuk tahun 2009. Memang manusia tidak tahu beberapa bulan kedepan akan seperti apa, bahkan besok akan terjadi apa pun kita belum tahu. Jadi yang penulis tangkap adalah bahwa budget lebih kepada persepsi mau jadi apa anggaran yang dibuat ini dengan ekspetasi pertumbuhan yang diinginkan. Bila nantinya ada penyimpangan, semoga tidak terlalu meleset dari target yang telah diinginkan.

Bukan, penulis bukan hendak mengajak pembaca berkalkulasi teknis soal neraca dan laporan keuangan, tetapi kepada rentetan slogan yang biasanya menyertai “tim sukses” untuk menyemangati bawahannya. Standar kalimat motivasi itu sebagai contoh : “Tantangan kedepan semakin berat, tapi bukan tidak mungkin untuk kita capai. Pastinya itu semua butuh kerja keras dari kita semua supaya berhasil melewati rintangan yang ada”. Ya, kali ini penulis mau sekilas mengupas soal : kerja keras.

Kerja keras ( work hard ) yang dimaksud topik ini tidak hanya sekedar olah fisik yang membutuhkan stamina kuat, melainkan juga bagi pekerja level staf keatas. Datang paling pagi, pulang paling malam, kalau perlu lembur demi mengejar deadline pekerjaan, tetapi hasil yang didapat hanya begitu2 saja. Adakah yang salah ? Lalu muncullah istilah baru yang tergolong populer belakangan ini : kerja cerdas ( work smart ).

Konsep ini biasanya diimbuhi slogan “bukan anda yang bekerja untuk uang, melainkan uang yang bekerja untuk anda”. Dan tentu saja ujungnya adalah soal investasi. Lha, tapi khan untuk modal investasi ini mesti kerja dulu dan tidak bisa sekonyong-konyong keuntungan itu datang. Warren Buffet saja yang bukunya sekarang marak direferensikan sebagai tokoh sukses dalam hal begini butuh waktu hingga puluhan tahun.

Dalam bentuk variasi lainnya, mungkin anda pernah mendengar istilah “money magnet”, secara sederhana maksudnya bagaimana membentuk karakter pribadi yang dapat menarik uang untuk datang sendiri kepada kita tanpa kita susah2 mencarinya. Wah, kalau gitu sich banyak karyawan yang mungkin tidak perlu mengeluh bahwa hanya tingkatan manajer atau direktur saja yang bisa kaya secara materi. Tapi kapan ?

Ketika kerja keras kita dianggap sebagai hal yang lumrah, bahkan kerja cerdas kita tidak dihargai dengan semestinya, maka level kerja kita harus dinaikkan lagi “jurusnya”, yakni menjadi kerja ikhlas. Maksudnya bukan digaji berapapun serelanya pemimpin perusahaan, tapi anda meyakini bahwa apa yang anda kerjakan tersebut menguntungkan banyak orang dan pihak lain. Orang akan kagum kepada anda yang gajinya kecil dan kerjanya baik, kok ada atasan yang tega membayar anda rendah. Bahkan bila anda mengimani dengan sungguh, Tuhan pun akan mengirimkan curahan berkatNya lewat jalan-jalan yang selama ini mungkin tidak pernah anda pikirkan. Jangan lupa untuk berdoa senantiasa untuk hal2 baik yang diharapkan untuk Tuhan kerjakan dalam kehidupan anda.    

Berapa banyak dari anda yang merasa sudah memberi yang terbaik ? Tapi lebih banyak mana dari  anda yang sudah memberi dari apa yang menjadi kekurangannya ? Memburu uang demi kesejahteraan anak- istri, tetapi kurang waktu untuk menanam kebersamaan bagi keluarga ? Demikian juga bila kita merenungkan hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta, berapa seringkah percakapan yang kita lakukan denganNya ?

Adakah Tuhan yang menginginkan anda hidup miskin ? Tuhan yang penulis percayai menghendaki umatNya hidup damai berkelimpahan. Jadi kalau begitu, mengapa dari kita masih “tertahan” untuk menikmati karuniaNya tersebut ? Not only the money, show me the miracle !

Kutipan ungkapan perasaan Ayub ini menginspirasi penulis untuk bertekun menantikan saat2 indah itu tiba, sehingga kita bisa berkata :   Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. ( Ayub 42 : 5 )

HiMTquote :

Merasa bangga karena melihat diri lebih dari orang lain, atau merasa tidak perlu memperhatikan karena diri ini telah mengetahui semua yang harus diketahui, atau merasa rendah karena diri tidak sekaya orang lain – adalah bibit dari semua keputusan yang tidak sehat. ( MTDB – Show me the money )

Never say never again ( 28 Jul 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:20 am on Monday, August 25, 2008

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum ! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. ( Roma 12 : 20 )

Lempar batu sembunyi tangan. Peribahasa ini mungkin sudah tak asing lagi bagi anda, apalagi bila hendak mencap orang yang suka tidak mau bertanggungjawab atas sebuah kesalahan atau pelanggaran. Khususnya dalam dunia kerja, seringkali kita temui antar bagian berusaha membela diri bila ada satu masalah yang berkaitan dengan banyak pihak. Sebagai contoh, dalam menanggapi keluhan konsumen di kolom surat pembaca biasanya yang memberi jawaban adalah bagian kehumasan ( public relations ), namun penelusuran masalahnya bisa berbuntut panjang, mulai dari bagian frontliner, marketing, accounting, tim IT, dan seterusnya. Tak pelak bagian yang ditanya bisa saja berkesimpulan negatif : kok jadi bagian kami yang dituduh berbuat yang tidak benar ?

Dalam satu teamwork yang kokoh, kesalahan satu orang saja seharusnya menjadi beban senasib sepenanggungan dan keceriaan satu orang saja merupakan kebahagiaan semua yang terlibat. Sama seperti salahsatu bagian tubuh kita mengalami luka, bukankah bagian tubuh yang lain pun akan turut merasakannya ? Atau ketika salahsatu bagian tubuh kita diperindah, bukankah anggota tubuh yang lain pun akan beria-ria ?

Entah kenapa menurut pengalaman penulis pribadi, pasti dalam suatu organisasi ada saja tokoh yang bertemperamen menyebalkan. Sok main perintah, tidak berempati, emosional, bahkan sampai bicara kasar. Sempat terpikir, heran kok HRD bisa meloloskan karakter karyawan seperti itu yach ? Namun bila direnungkan lebih jauh, lha Tuhan saja begitu baik kepada kita manusia ciptaanNya, mengapa kita tidak mencontoh teladan yang Beliau berikan untuk ditunjukkan kepada sesama kita ?

            Banyak orang berusaha menyesuaikan diri untuk masuk lingkungan tertentu karena takut ditolak. Bila tidak sesuai mainstrem atau tidak mau beradaptasi dengan aturan mayoritas maka resikonya bakal dikucilkan dari pergaulan. Sebagai makhluk sosial tentu kondisi seperti ini sering anda jumpai. Bukan hendak menganjurkan bahwa kalau begitu slogan “be yourself” tidak ada artinya, donk !

Berapa banyak dari kita yang mensyaratkan agar orang lain yang terlebih dahulu yang melakukan perbuatan baik agar kita termotivasi ( atau merasa berhutang ) untuk berbuat baik ? Dapatkah pembaca membayangkan apa jadinya seorang anak yang dibesarkan dengan kasih seorang ibu yang berpamrih seperti itu ?

Dunia memang sedang jungkir balik. Kejujuran dianggap suatu kebodohan diantara budaya korup dan munafik. Merendahkan orang lain dianggap sebagai kewajaran di tengah kumpulan manusia sombong. Lalu ketika sosok seperti itu anda lihat di cermin, apa pendapat anda ? Sosok seperti itukah yang dikehendaki untuk orang lain perbuat kepada anda ?

Saat anda disakiti orang lain yang justru oleh anda anggap saudara, mungkin sempat terlintas ucapan : saya tak sudi kenal dia lagi atau jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah saya. Bukan, bukan itu yang dikehendaki oleh Yang Maha Kasih. Jangan putus harapan.

Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. ( 1 Petrus 3 : 9 )

HiMTquote :

Apakah mereka yang mengecewakan anda itu, yang mungkin juga sedang merayakan dengan tawa tersembunyi atas keberhasilannya dalam merendahkan anda itu – akan bersimpati bila anda menjadi pribadi yang gagal ? ( MTST – Never say never again )

Time changes everything except us ( 14 Jul 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:18 am on Monday, August 25, 2008

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir ( Pengkhotbah 3 :11 )

Penggalan kalimat “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” pastinya sering anda jumpai tercantum dalam sebagian kartu undangan pernikahan. Tidak salah memang, tetapi konsep “indah pada waktunya” ini tidak melulu harus diasosiasikan dengan urusan berpadunya dua hati menjadi satu dalam suatu keluarga. Bukankah setiap hari yang Ia jadikan sendiri merupakan sesuatu hal yang indah. Tatkala kita masih diberi kesempatan olehNya untuk bernafas juga merupakan suatu keindahan.

Demikian juga dengan pekerjaan kita. Ditengah keluhan bahwa apa yang kita lakukan di kantor tidak sesuai dengan keinginan kita, tokh janganlah membuat kita mengatup bibir kita supaya berucap syukur. Lha, diluar sana masih banyak pengangguran, he3… Seperti yang senantiasa dilontarkan para pejabat bila bencana tengah melanda sebagian daerah : pastinya ada hikmah tersembunyi di balik itu semua. 

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Tua dianalogikan sebagai suatu perubahan kurun waktu yang tak terelakkan, sedangkan dewasa adalah soal sikap yang acapkali tidak berhubungan dengan soal usia. Disinilah bedanya ukura kualitas manusia, bahwa kedewasaan bukanlah tergantung dari pencapaian banyak pengalaman tetapi tergantung dari berbagai keputusan yang selama ini diambil. Contoh soal pernikahan yang sempat dikutip diatas, sampai berapa kali anda mempertimbangkan apa yang mendasari keputusan untuk memilih pasangan yang akan mendampingi seumur hidup anda ? Kadang karena anda kepepet umur, sehingga yang bermain bukan lagi nalar dan hati anda melainkan karena takut dicemooh komunitas sosial misalnya.

Bila zaman ortu kita dulu, menikah di usia muda adalah hal yang jamak, justru di masa sekarang masih banyak lajang di umur kepala 3. Kita merasa fine2 aja, justru malah ortu yang ketar-ketir sendiri, he3… Sambil lalu kita sering beralasan : belum ada jodohnya, nanti juga kalau sudah waktunya bakal muncul sendiri, lha ini khan keputusan penting sekali untuk selamanya, nggak bisa diburu-buru, dst… J

Waktu itu tidak terbatas, namun waktu bagi kita terbatas. Life goes on… demikian tagline salahsatu blog teman penulis. Ya, hidup itu mengalir. Namun bagi mereka yang super, pengertian mengalir itu bukan dibiarkan ke bawah, tetapi bagaimana memampukannya supaya aliran itu menuju keatas. Tidak menunggu nasib baik, tetapi buat nasib anda sendiri. Klise sich, gampang diucapkan namun dalam prakteknya pasti butuh perjuangan loch.

Berapa banyak dari kita para jomblo yang mengimani bahwa masih ada seseorang yang baik diluar yang juga mengidamkan hal yang sama dengan kita ? Mereka yang dipercaya adalah bagian dari tulang rusuk kita yang terhilang ? Dalam setiap permohonan doa, tak lupa kita meminta agar bisa dipertemukan segera. Entah apakah kesabaran kita tengah diuji atau bukan, nyatanya sang pujaan belum juga datang menghampiri ( bukan seperti kata sebuah iklan bilang : bulan mei alias mei be yes mei be no, he3… ).

Tetapi Tuhan bukanlah seperti manusia yang kerap terlambat datang saat dimintai pertolongan. Tak terkira kasih sayang yang Ia curahkan untuk makhluk ciptaanNya ini. Ketika hati macam2 manusia selalu berganti tergantung “mood”, janjiNya tidak pernah berubah sepanjang masa. Jadi kalau begitu, di tengah kesulitan dan beban berat hidup yang mungkin tengah anda alami sekarang, tetap kerjakanlah apa yang menjadi bagian anda dan berserahlah kepada Tuhan yang sanggup menyelesaikannya untuk anda.

Mungkin kita tidak mengerti dengan derita yang harus dialami sekarang, tapi pada akhirnya mata kita akan dibukakan untuk memahami rencana indahNya bagi kita. Tugas kita adalah untuk mencoba, sedangkan tugas keberhasilan adalah semata bagi kemuliaan namaNya.

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;  mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. ( Yesaya 40 : 31 )

HiMTquote :

Maka jangan boroskan waktu untuk menunggu waktu yang baik, tetapi gunakanlah semua energi anda untuk memikirkan dan menemukan sesuatu yang baik untuk dikerjakan. ( MTST – Time changes everything except us )