HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

the roles we play ( 26 Oct 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:21 pm on Saturday, October 25, 2008

Maka janganlah kau katakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. ( Ulangan 8 : 17 )

 

The best thing in life are free. Itulah hak istimewa yang dimiliki manusia yang diberikan oleh Tuhan sejak peradaban dimulai. Meski sebenarnya akan ada kontradiksi dengan anggapan bahwa alur kehidupan ini sebenarnya sudah digariskan bahkan sebelum kita diciptakan, lalu apa gunanya manusia memilih. Salahsatunya tentu anda pernah dengar istilah : manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Lalu apakah dengan demikian perbuatan buruk kita selama ini adalah karena telah Dia tentukan, pastinya tidak.

Mungkin pernah terbersit di benak pembaca, untuk apa kita terlahir di dunia ? Terkadang orang yang tengah putus asa dan bertindak nekat untuk mengakhiri hidupnya merasa keberadaannya tidak berarti. Contoh sederhananya tentu saja pernah anda alami ketika ditolak cintanya oleh sang pujaan hati untuk pertama kali. Serasa dunia runtuh dan makna hidupnya di masa depan terlihat kelam untuk sesaat.

 

Demikian juga dalam dunia kerja. Berapa banyak dari kita yang gelisah karena apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan minat ? Waktu kuliah bersusah payah belajar keuangan, eh akhirnya malah mentok ke tugas pemasaran. Merasa beruntung masih mendapat pekerjaan diantara ribuan pengangguran lainnya yang kesulitan menembus lowongan kerja. Coba perkirakan pula berapa banyak dari lulusan perguruan tinggi yang memantapkan diri untuk berwirausaha ketimbang bekerja di perusahaan milik orang lain ?

Status orang kantoran dengan pakaian yang menandakan dirinya sebagai kalangan professional bisa jadi sebenarnya tengah menipu diri sendiri. Selama ini patron yang muncul adalah perusahaan yang memilih kite sebagai karyawannya, bagaimana kalau kita balik posisinya bahwa kitalah yang memilih perusahaan dimana kita boleh berkarir dan hak kita juga untuk memilih hendak dipimpin oleh siapa.

 

Ingatlah hari ini adalah anak masa silam dan bapak masa depan. Kita tak bisa berbuat apapun untuk mengubah masa lalu, tetapi kita dapat mengendalikan masa depan kita dengan cara bertindak benar pada saat ini. Kutipan dari Sri Dhammananda, penulis dapatkan dari kolom psikologi harian KOMPAS beberapa pekan lalu. Mengingatkan bahwa pada akhirnya kita tidak bisa meminta pertanggungjawaban dari orang lain, kualitas pribadi kita sendirilah yang akan menuntut hal tersebut.

Apa cita-cita anda saat masih duduk di sekolah dasar ? Jawaban standar seperti : ingin menjadi dokter, polisi, guru, sampai pengusaha rasanya terdengar lazim. Akan aneh kalau misalnya harapan profesi kita yang terlontar di masa kecil hanya sebatas pegawai atau staf. Boro2 mikirin soal pendapatan, dari nurani anak kecil itu terpancar kejujuran bahwa cita2 yang mereka harapkan karena melihat pekerjaan tersebut berarti bagi orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, ketika pengetahuan makin bertambah, nyatanya tidaklah sesederhana itu.

 

Dalam beberapa peristiwa yang menyesakkan hati, sempat penulis bertanya : sampai kapan ujian ini akan berlalu ? Mengapa orang lain telah mencapai apa yang selama ini hanya menjadi impian semata ? Namun dalam tiap kali kesempatan hikmatMU mengajari untuk tetap setia dan sabar menanggung segala sesuatunya. Bahwa pada akhirnya, bukan karena semata kerja keras atau kepintaran pribadi saja, tetapi niat baik saat melakukan itu semua. Bukan berharap pamrih dari orang yang bisa mengecewakan, namun beriman bahwa segala yang indah telah disediakanNya untuk mereka yang tidak hitung-hitungan dalam memberikan kemampuan terbaiknya di situasi dan peran apapun yang tengah dilakoni.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. ( Kolose 3 : 23 )

 

 

HiMTquote :

Tidak ada orang yang peranannya demikian penting bagi orang lain, sehingga dia berwenang untuk mengecilkan peran orang lain bagi keberhasilannya. ( MTST – The roles we play )

How practical are you ( 12 Oct 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:14 pm on Saturday, October 25, 2008

 

Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ( Amsal 12 : 24 )

 

Mungkin anda pernah mendapati rekan sekantor anda hampir setiap bulan mengulang curhat yang sama, yakni selalu merasa kurang pas tanggal baru menginjak 2 digit ? Gaji selalu dirasa kurang, mengeluh bahwa harga2 barang terus naik, tetapi pendapatan masih saja pas-pasan. Bahkan kerap diimbuhi dengan tagihan hutang ke tetangga yang belum dibayar. Lalu muncullah rasa cemburu kepada orang dari tim lain yang seolah bertabur fasilitas dan tunjangan. Namun ketika dianjurkan, lha kalau begitu mengapa tidak minta dimutasi saja ke bagian yang katanya tajir tersebut, eh dia malah nggak mau. Jadi inginnya, kerjaan beda tapi mau mendapatkan yang sama biar adil karena dianggap kita khan kerja dengan tujuan yang sama. Adilkah ini ?

Dalam sebuah segmen program tv menyambut Lebaran beberapa pekan lalu, sempat terngiang kalimat sederhana yang kurang lebih bunyinya seperti ini : “minta maaf itu mudah, namun sayangnya masih sulit bagi beberapa orang menunjukkan perbuatan pemaafan itu disadarinya”. Dalam analogi yang serupa, berapa banyak dari kita yang menganggap dirinya telah bekerja keras, namun merasa apapun hasilnya tidak sepadan dengan pengorbanannya. Introspeksi dech, mungkin kita sudah memilih pintu yang benar namun dengan anak kunci yang salah atau sebaliknya.

Bagi mereka yang berjiwa super, rajin tidak ditentukan oleh ada tidaknya pengawasan atasan, karena yang mengganjar adalah Yang Maha Melihat ( Kolose 3 : 23 ). Banyak sekali dari kita yang memperhitungkan upah berdasarkan job-desc, sehingga saat atasan memberikan tugas yang bukan kewajibannya akan ditolak. Mungkin sempat terlontar gerutu : “Bikin cape aja, lha wong pekerjaan biasa saja sudah banyak begini kok ditambahkan lagi. ‘ntar kalau salah khan bisa kerja dobel buat ngeberesinnya. Dasar atasan rese…”

 

Siapapun berhak untuk membuat kesalahan, tetapi tidak ada orang yang boleh menyalahi orang lain.

Membuat kesalahan hanya mungkin terjadi pada orang yang sedang mengupayakan yang benar, sehingga melarang atau mengancam orang agar tidak membuat kesalahan - sama dengan melarang orang dari mengupayakan yang benar.

Maka ijinkanlah diri ini untuk menerima kemungkinan kesalahan sebagai bagian alamiah dari upaya untuk mencapai kebaikan.

Bila kesalahan itu datang saat kita mengupayakan kebaikan, maka kesalahan itu adalah keuntungan - bila kita menggunakannya sebagai pijakan untuk mencapai kebaikan yang lebih tinggi.

Tetapi - tidak ada yang bisa disebut keberhasilan, bila keuntungan yang kita dapat - datang dari menyalahi orang lain.

[ Opinion your strongest element by Mario Teguh ] …

 

Sementara ada lagi yang menyikapi kedisiplinan dengan sampai ke kantor berikut pulang dari kantor tepat waktu. Bila masih ada tugas yang keteteran, malah diserahkan kepada teman kerjanya supaya diselesaikan. Bila dimarahi bos karena pekerjaannya tidak tuntas, menyalahkan orang lain yang dianggap mengadu. Dan ketika evaluasi tahunan untuk kenaikan gaji, masih saja berkelit bahwa dia berhak untuk itu karena inflasi harga kebutuhan pokok juga ikutan naik. Lalu soal prestasi kerja ? Dengan dalih bahwa kalau gaji naik baru dech semangat kerja juga naik, hhhmmm… serendah itukah menghargai keberhasilan yang bisa dicapai ? Meremehkan mujizatNya berdasarkan pengharapan atas kenaikan persentase gaji tahunan ?

Penulis sendiri akui masih tidak puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Tapi bila menyimak keadaan sekeliling, lebih besar rasa syukur yang mesti kita panjatkan dengan penuh ketulusan. Yang perlu diyakini adalah gerak kehidupan itu tidak seperti putaran roda, yang katanya kadang diatas kadang dibawah. Jangan kuatir, bertumbuhlah dengan tanpa keraguan bahwa : “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,” ( Ulangan 28 : 13 ).

 

HiMTquote :

Tuntunlah mereka untuk menemukan pembuktian bahwa tindakan-tindakan sederhana adalah penghasil syarat yang ditunggu oleh mereka yang mensyaratkan keadaan menjadi baik, sebelum mereka mulai bekerja. ( MTST – how practical are you )

 

 

Doable is the best vision ( 21 Sept 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:08 pm on Saturday, October 25, 2008

Tetapi seperti ada tertulis : “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia”. ( I Korinus 2 : 9 )

 

Mungkin anda pernah mendapatkan imel berantai yang isinya tentang penjungkirbalikkan logika antara orang bodoh dan orang pintar. Salahsatu contohnya adalah kenapa orang bodoh bisa menguasai perusahaan ? Jawabannya karena ia bisa membayar pintar untuk mengerjakannya. Tidak relevan kalau orang pintar mempekerjakan orang bodoh, bisa2 perusahaannya menemui kehancuran. Kalaupun mentok, orang bodoh pastinya akan mengontak konsultan untuk memberesi masalahnya.

Dari sebuah milis keuangan yang penulis ikuti juga ada sebuah peristiwa ironi yang menarik, bahwa disaat posisi orang yang dianggap pintar sedang kolaps, justru orang bodoh tidak terlalu stress memikirkan sampail detail berapa persen duit yang menguap dari nilai investasinya, lha wong manajer investasi yang “pintar2” itu pasti muter otak supaya bisa mengatasi problem tersebut.

 

Sebenarnya penggunaan kata bodoh diatas mungkin terlalu polos, maksudnya tentu bukan bodoh2 amat sampai bisa diperdaya orang lain. Mari kita renungkan, kadang kepintaran yang kita miliki justru membuat kita terlalu berhati-hati dalam memperhitungkan suatu rencana. Tak salah memang, namun coba perhatikan : orang bodoh lebih berani dalam memutuskan segala sesuatu dengan cepat. Resiko kegagalan pastinya selalu ada, namun bukankah bila sebuah kesalahan diketahui dengan cepat maka tindakan perbaikannya pun bisa dilakukan segera ?

Tapi yach, jangan lalu konsep diatas tersebut diseragamkan yach. Misalnya dalam urusan memilih pasangan hidup, maunya sich sesuai standar, tapi kalau yang datang melulu yang tidak sesuai harapan, bukankah itu suatu pertanda bahwa mungkin si dia yang kita impikan bukanlah yang sesuai Beliau rencanakan untuk kehidupan kita ?

 

Jujur saja, penulis kadang suka sebal melihat rekan kerja yang maunya muluk-muluk tapi tidak berusaha memantaskan untuk mendapatkan apa yang dia maui. Dalam penyusunan target penjualan tahun depan misalnya, ketika rekan lain department mematok rata2 salesnya sekitar 20-25%, eh ada satu bagian yang bersikukuh dengan kenaikan maksimal 10%. Ketika ditanya apa masalahnya dan kira2 dukungan sumber daya seperti apa yang diperlukan, berulangkali jawabannya yang terlontar adalah : mau gimana lagi, habis market size di area salesnya hanya mentok segitu. Lho, kok udah nyerah duluan ?

Dalam iklan lowongan kerja, kerapkali kita lihat judul kolomnya berupa kata : “Challenge”. Konotasinya bagi para pelamar awam seperti penulis umumnya bahwa posisi tersebut tampaknya bersifat “kerja bakti”, job-desc kadang tidak berbanding lurus dengan reward-nya, apalagi kalau diimbuhi tambahan semacam syarat dan ketentuan berlaku : siap bekerja di bawah tekanan, walah…

 

Berapa banyak dari anda yang melakoni profesi sekarang yang sesuai dengan cita2 yang pernah dibayangkan ketika masih kecil ? Mungkin banyak dari anda sekarang tidak comfortable dengan (tingkat pendapatan dari) pekerjaan yang tengah dijalani saat ini. Hati kecil memberontak ingin keluar dari jerat rutinitas tugas. Ketika pikiran kita terbelenggu dalam ukuran rasionalitas, beruntunglah sebagai manusia kita diberi bekal dari Maha Pemberi berupa kemampuan berimajinasi alias membayangkan.

Untuk segala sesuatu yang tidak pasti, jangan terlebih dahulu bilang tidak mungkin. Karena bila pikiran itu yang tertancap dalam benak kita, secara tak langsung kita meragukan campur tanganNya yang berkehendak dalam memuliakan kita. Jadi kalau begitu, lakukanlah sampai batas kemampuan kita dan sisanya lihatlah mukjizat yang telah Ia sediakan bagi orang2 yang telah melakukan kualitas terbaik dari dalam dirinya. Karena keberhasilan bukan terjadi dalam alam rencana, melainkan dalam alam tindakan.

Siapakah orang yang takut akan TUHAN ? Kepadanya TUHAN akan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. ( Mazmur 25 : 12 )

 

 

HiMTquote :

Impossible -> Previously unthinkable -> conceivable -> doable ( MTSC – Doable is the best vision )

 

Onion effect ( 07 Sept 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 9:58 pm on Saturday, October 25, 2008

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu. ( Mazmur 119 : 71 )

 

Mungkin seringkali anda mendengar orang untuk memaklumi keadaannya yang buruk dengan berkata : “Ini cobaan dari yang Maha Kuasa”. Cobaan, benarkah Tuhan mencobai manusia ? Dalam contoh sederhana saja, ketika anda masih duduk di bangku sekolah dan hendak naik kelas, apakah tantangan di akhir periode pelajaran yang dihadapi adalah sebuah “cobaan” ? Tidak, kita menamainya sebagai ujian naik kelas. Jadi pemahaman tentang cobaan vs ujian sudah jelas, khan ? Cobaan kerap dimaknai dengan harapan bahwa orang yang “dicoba” menemui kegagalan, sedang orang yang “diuji” justru kita harapkan berhasil. Jadi kalau kita tahu Beliau menghendaki keberhasilan dalam hidup ini, coba perhatikan apakah itu ujian atau cobaan ?

Di satu sisi ada yang memaknai penderitaan sebagai suatu kutukan. Sudah berusaha sana sini kok serasa membentur jalan buntu melulu. Sepertinya ada asal usul yang salah dan mesti diperbaiki dech. Sayangnya pertanyaan tersebut bukannya diajukan kepada Yang Maha Peduli, namun justru dibawa kepada paranormal, dukun, cenayang, orang pintar, atau apalah namanya. Ada pula yang sedikit2 berkata : yach, dari kejadian ini kita ambil hikmahnya saja supaya tidak terulang untuk kedua kalinya.

 

Berhubung artikel ini dibuat pas bulan Ramadhan, mungkin contoh pasnya kita ambil dari beberapa aktivitas puasa yang tergolong universal. Yang paling basic, secara awam kegiatan selama kurang lebih 30 hari tersebut adalah puasa makan dan minum. Bila hendak diartikan secara rohaniah, bukankah itu merupakan latihan “menindas” nafsu kedagingan kita ? Kita diingatkan kembali untuk mensyukuri sesuatu yang seakan adalah hal biasa disaat “normal dan menyadari bahwa masih banyak saudara2 yang termasuk kurang beruntung diluar sana yang perlu kita bantu.

Saat Aa Gym belum redup popularitasnya, dalam salahsatu ceramah radionya sempat tersentil kegundahan : mengapa penduduknya yang dikenal religius, tapi justru terhitung sebagai salahsatu negara terkorup di dunia ? Dimanakah korelasi keimanan seseorang dengan buah perbuatannya ? Dimanakah realitas slogan “satu kata, satu perbuatan” musti ditempatkan sebagai teladan ?

 

Waduh, kok jadi banyak ngomelnya yach ?! Sekedar menggerutu tidak menyelesaikan masalah. Banyak orang memiliki ketertarikan akan sebuah tujuan besar, tapi tidak mau mengubah kebiasaan yang membuatnya layak mendapatkan hasil yang diimpikan tersebut. Contoh sederhana : inginnya hidup sehat, tapi tidak mau berhenti merokok. Komentar yang muncul dari kalangan pecandu tembakau tersebut bisa jadi seperti ini : “puasa makan minum masih mending, tapi puasa “ngebul” kayaknya nggak sanggup dech”.

Bila hasil yang dituju besar, bukankah memerlukan (effort) kebiasaan yang besar pula ? Kebiasaan yang baik timbul dari perilaku yang baik yang berulang. Mengapa kata “diulang” perlu mendapat penekanan disini, karena biasanya kita tidak cukup diajari dalam satu dua kasus saja untuk bisa langsung memahami. Seperti seorang olahragawan yang ingin berprestasi lebih, coba hitung berapa pengulangan latihan yang telah dia lewati untuk menjadi seorang juara ? Ulangi, mengulangi, dan diulangi lagi.

 

Tentu saja pengulangan tersebut bukan berarti menjadi sebuah rutinitas. Masa khan kita terus “tertindas” untuk hal yang sama berkali-kali ? Mencoba memang bisa satu hal yang beresiko, bisa hasilnya salah atau malah benar. Namun tanpa mencoba, kita tidak tahu mana yang salah dan benar. Seandainya hasilnya nanti salah, setidaknya kita telah mendapat pengertian bahwa berarti jalan satunya lagi yang benar.

Jadi terkesan trial error memang, namun bukankah resiko tersebut dapat diminimalkan lagi dengan cara belajar dari orang yang pernah mengalaminya dulu sebelum kita ? Dalam setiap kesulitan, sesungguhnya Beliau tengah mendidik kita untuk pantas menjadi para pemenang kehidupan ini. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. ( Ayub 23 : 10 )

 

HiMTquote :

Jatuh ke bawah adalah kesempatan untuk melantingkan diri lebih tinggi, setelah menyentuh rasa sesal yang terdalam. ( MTST – Onion Effect )