HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

How practical are you ( 12 Oct 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Sept-Okt — himfiles at 10:14 pm on Saturday, October 25, 2008

 

Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ( Amsal 12 : 24 )

 

Mungkin anda pernah mendapati rekan sekantor anda hampir setiap bulan mengulang curhat yang sama, yakni selalu merasa kurang pas tanggal baru menginjak 2 digit ? Gaji selalu dirasa kurang, mengeluh bahwa harga2 barang terus naik, tetapi pendapatan masih saja pas-pasan. Bahkan kerap diimbuhi dengan tagihan hutang ke tetangga yang belum dibayar. Lalu muncullah rasa cemburu kepada orang dari tim lain yang seolah bertabur fasilitas dan tunjangan. Namun ketika dianjurkan, lha kalau begitu mengapa tidak minta dimutasi saja ke bagian yang katanya tajir tersebut, eh dia malah nggak mau. Jadi inginnya, kerjaan beda tapi mau mendapatkan yang sama biar adil karena dianggap kita khan kerja dengan tujuan yang sama. Adilkah ini ?

Dalam sebuah segmen program tv menyambut Lebaran beberapa pekan lalu, sempat terngiang kalimat sederhana yang kurang lebih bunyinya seperti ini : “minta maaf itu mudah, namun sayangnya masih sulit bagi beberapa orang menunjukkan perbuatan pemaafan itu disadarinya”. Dalam analogi yang serupa, berapa banyak dari kita yang menganggap dirinya telah bekerja keras, namun merasa apapun hasilnya tidak sepadan dengan pengorbanannya. Introspeksi dech, mungkin kita sudah memilih pintu yang benar namun dengan anak kunci yang salah atau sebaliknya.

Bagi mereka yang berjiwa super, rajin tidak ditentukan oleh ada tidaknya pengawasan atasan, karena yang mengganjar adalah Yang Maha Melihat ( Kolose 3 : 23 ). Banyak sekali dari kita yang memperhitungkan upah berdasarkan job-desc, sehingga saat atasan memberikan tugas yang bukan kewajibannya akan ditolak. Mungkin sempat terlontar gerutu : “Bikin cape aja, lha wong pekerjaan biasa saja sudah banyak begini kok ditambahkan lagi. ‘ntar kalau salah khan bisa kerja dobel buat ngeberesinnya. Dasar atasan rese…”

 

Siapapun berhak untuk membuat kesalahan, tetapi tidak ada orang yang boleh menyalahi orang lain.

Membuat kesalahan hanya mungkin terjadi pada orang yang sedang mengupayakan yang benar, sehingga melarang atau mengancam orang agar tidak membuat kesalahan - sama dengan melarang orang dari mengupayakan yang benar.

Maka ijinkanlah diri ini untuk menerima kemungkinan kesalahan sebagai bagian alamiah dari upaya untuk mencapai kebaikan.

Bila kesalahan itu datang saat kita mengupayakan kebaikan, maka kesalahan itu adalah keuntungan - bila kita menggunakannya sebagai pijakan untuk mencapai kebaikan yang lebih tinggi.

Tetapi - tidak ada yang bisa disebut keberhasilan, bila keuntungan yang kita dapat - datang dari menyalahi orang lain.

[ Opinion your strongest element by Mario Teguh ] …

 

Sementara ada lagi yang menyikapi kedisiplinan dengan sampai ke kantor berikut pulang dari kantor tepat waktu. Bila masih ada tugas yang keteteran, malah diserahkan kepada teman kerjanya supaya diselesaikan. Bila dimarahi bos karena pekerjaannya tidak tuntas, menyalahkan orang lain yang dianggap mengadu. Dan ketika evaluasi tahunan untuk kenaikan gaji, masih saja berkelit bahwa dia berhak untuk itu karena inflasi harga kebutuhan pokok juga ikutan naik. Lalu soal prestasi kerja ? Dengan dalih bahwa kalau gaji naik baru dech semangat kerja juga naik, hhhmmm… serendah itukah menghargai keberhasilan yang bisa dicapai ? Meremehkan mujizatNya berdasarkan pengharapan atas kenaikan persentase gaji tahunan ?

Penulis sendiri akui masih tidak puas dengan apa yang dimiliki sekarang. Tapi bila menyimak keadaan sekeliling, lebih besar rasa syukur yang mesti kita panjatkan dengan penuh ketulusan. Yang perlu diyakini adalah gerak kehidupan itu tidak seperti putaran roda, yang katanya kadang diatas kadang dibawah. Jangan kuatir, bertumbuhlah dengan tanpa keraguan bahwa : “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,” ( Ulangan 28 : 13 ).

 

HiMTquote :

Tuntunlah mereka untuk menemukan pembuktian bahwa tindakan-tindakan sederhana adalah penghasil syarat yang ditunggu oleh mereka yang mensyaratkan keadaan menjadi baik, sebelum mereka mulai bekerja. ( MTST – how practical are you )

 

 



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>