Onion effect ( 07 Sept 08 )
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu. ( Mazmur 119 : 71 )
Mungkin seringkali anda mendengar orang untuk memaklumi keadaannya yang buruk dengan berkata : “Ini cobaan dari yang Maha Kuasa”. Cobaan, benarkah Tuhan mencobai manusia ? Dalam contoh sederhana saja, ketika anda masih duduk di bangku sekolah dan hendak naik kelas, apakah tantangan di akhir periode pelajaran yang dihadapi adalah sebuah “cobaan” ? Tidak, kita menamainya sebagai ujian naik kelas. Jadi pemahaman tentang cobaan vs ujian sudah jelas, khan ? Cobaan kerap dimaknai dengan harapan bahwa orang yang “dicoba” menemui kegagalan, sedang orang yang “diuji” justru kita harapkan berhasil. Jadi kalau kita tahu Beliau menghendaki keberhasilan dalam hidup ini, coba perhatikan apakah itu ujian atau cobaan ?
Di satu sisi ada yang memaknai penderitaan sebagai suatu kutukan. Sudah berusaha sana sini kok serasa membentur jalan buntu melulu. Sepertinya ada asal usul yang salah dan mesti diperbaiki dech. Sayangnya pertanyaan tersebut bukannya diajukan kepada Yang Maha Peduli, namun justru dibawa kepada paranormal, dukun, cenayang, orang pintar, atau apalah namanya. Ada pula yang sedikit2 berkata : yach, dari kejadian ini kita ambil hikmahnya saja supaya tidak terulang untuk kedua kalinya.
Berhubung artikel ini dibuat pas bulan Ramadhan, mungkin contoh pasnya kita ambil dari beberapa aktivitas puasa yang tergolong universal. Yang paling basic, secara awam kegiatan selama kurang lebih 30 hari tersebut adalah puasa makan dan minum. Bila hendak diartikan secara rohaniah, bukankah itu merupakan latihan “menindas” nafsu kedagingan kita ? Kita diingatkan kembali untuk mensyukuri sesuatu yang seakan adalah hal biasa disaat “normal dan menyadari bahwa masih banyak saudara2 yang termasuk kurang beruntung diluar sana yang perlu kita bantu.
Saat Aa Gym belum redup popularitasnya, dalam salahsatu ceramah radionya sempat tersentil kegundahan : mengapa penduduknya yang dikenal religius, tapi justru terhitung sebagai salahsatu negara terkorup di dunia ? Dimanakah korelasi keimanan seseorang dengan buah perbuatannya ? Dimanakah realitas slogan “satu kata, satu perbuatan” musti ditempatkan sebagai teladan ?
Waduh, kok jadi banyak ngomelnya yach ?! Sekedar menggerutu tidak menyelesaikan masalah. Banyak orang memiliki ketertarikan akan sebuah tujuan besar, tapi tidak mau mengubah kebiasaan yang membuatnya layak mendapatkan hasil yang diimpikan tersebut. Contoh sederhana : inginnya hidup sehat, tapi tidak mau berhenti merokok. Komentar yang muncul dari kalangan pecandu tembakau tersebut bisa jadi seperti ini : “puasa makan minum masih mending, tapi puasa “ngebul” kayaknya nggak sanggup dech”.
Bila hasil yang dituju besar, bukankah memerlukan (effort) kebiasaan yang besar pula ? Kebiasaan yang baik timbul dari perilaku yang baik yang berulang. Mengapa kata “diulang” perlu mendapat penekanan disini, karena biasanya kita tidak cukup diajari dalam satu dua kasus saja untuk bisa langsung memahami. Seperti seorang olahragawan yang ingin berprestasi lebih, coba hitung berapa pengulangan latihan yang telah dia lewati untuk menjadi seorang juara ? Ulangi, mengulangi, dan diulangi lagi.
Tentu saja pengulangan tersebut bukan berarti menjadi sebuah rutinitas. Masa khan kita terus “tertindas” untuk hal yang sama berkali-kali ? Mencoba memang bisa satu hal yang beresiko, bisa hasilnya salah atau malah benar. Namun tanpa mencoba, kita tidak tahu mana yang salah dan benar. Seandainya hasilnya nanti salah, setidaknya kita telah mendapat pengertian bahwa berarti jalan satunya lagi yang benar.
Jadi terkesan trial error memang, namun bukankah resiko tersebut dapat diminimalkan lagi dengan cara belajar dari orang yang pernah mengalaminya dulu sebelum kita ? Dalam setiap kesulitan, sesungguhnya Beliau tengah mendidik kita untuk pantas menjadi para pemenang kehidupan ini. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. ( Ayub 23 : 10 )
HiMTquote :
Jatuh ke bawah adalah kesempatan untuk melantingkan diri lebih tinggi, setelah menyentuh rasa sesal yang terdalam. ( MTST – Onion Effect )