the roles we play ( 26 Oct 08 )
Maka janganlah kau katakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. ( Ulangan 8 : 17 )
The best thing in life are free. Itulah hak istimewa yang dimiliki manusia yang diberikan oleh Tuhan sejak peradaban dimulai. Meski sebenarnya akan ada kontradiksi dengan anggapan bahwa alur kehidupan ini sebenarnya sudah digariskan bahkan sebelum kita diciptakan, lalu apa gunanya manusia memilih. Salahsatunya tentu anda pernah dengar istilah : manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Lalu apakah dengan demikian perbuatan buruk kita selama ini adalah karena telah Dia tentukan, pastinya tidak.
Mungkin pernah terbersit di benak pembaca, untuk apa kita terlahir di dunia ? Terkadang orang yang tengah putus asa dan bertindak nekat untuk mengakhiri hidupnya merasa keberadaannya tidak berarti. Contoh sederhananya tentu saja pernah anda alami ketika ditolak cintanya oleh sang pujaan hati untuk pertama kali. Serasa dunia runtuh dan makna hidupnya di masa depan terlihat kelam untuk sesaat.
Demikian juga dalam dunia kerja. Berapa banyak dari kita yang gelisah karena apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan minat ? Waktu kuliah bersusah payah belajar keuangan, eh akhirnya malah mentok ke tugas pemasaran. Merasa beruntung masih mendapat pekerjaan diantara ribuan pengangguran lainnya yang kesulitan menembus lowongan kerja. Coba perkirakan pula berapa banyak dari lulusan perguruan tinggi yang memantapkan diri untuk berwirausaha ketimbang bekerja di perusahaan milik orang lain ?
Status orang kantoran dengan pakaian yang menandakan dirinya sebagai kalangan professional bisa jadi sebenarnya tengah menipu diri sendiri. Selama ini patron yang muncul adalah perusahaan yang memilih kite sebagai karyawannya, bagaimana kalau kita balik posisinya bahwa kitalah yang memilih perusahaan dimana kita boleh berkarir dan hak kita juga untuk memilih hendak dipimpin oleh siapa.
Ingatlah hari ini adalah anak masa silam dan bapak masa depan. Kita tak bisa berbuat apapun untuk mengubah masa lalu, tetapi kita dapat mengendalikan masa depan kita dengan cara bertindak benar pada saat ini. Kutipan dari Sri Dhammananda, penulis dapatkan dari kolom psikologi harian KOMPAS beberapa pekan lalu. Mengingatkan bahwa pada akhirnya kita tidak bisa meminta pertanggungjawaban dari orang lain, kualitas pribadi kita sendirilah yang akan menuntut hal tersebut.
Apa cita-cita anda saat masih duduk di sekolah dasar ? Jawaban standar seperti : ingin menjadi dokter, polisi, guru, sampai pengusaha rasanya terdengar lazim. Akan aneh kalau misalnya harapan profesi kita yang terlontar di masa kecil hanya sebatas pegawai atau staf. Boro2 mikirin soal pendapatan, dari nurani anak kecil itu terpancar kejujuran bahwa cita2 yang mereka harapkan karena melihat pekerjaan tersebut berarti bagi orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, ketika pengetahuan makin bertambah, nyatanya tidaklah sesederhana itu.
Dalam beberapa peristiwa yang menyesakkan hati, sempat penulis bertanya : sampai kapan ujian ini akan berlalu ? Mengapa orang lain telah mencapai apa yang selama ini hanya menjadi impian semata ? Namun dalam tiap kali kesempatan hikmatMU mengajari untuk tetap setia dan sabar menanggung segala sesuatunya. Bahwa pada akhirnya, bukan karena semata kerja keras atau kepintaran pribadi saja, tetapi niat baik saat melakukan itu semua. Bukan berharap pamrih dari orang yang bisa mengecewakan, namun beriman bahwa segala yang indah telah disediakanNya untuk mereka yang tidak hitung-hitungan dalam memberikan kemampuan terbaiknya di situasi dan peran apapun yang tengah dilakoni.
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. ( Kolose 3 : 23 )
HiMTquote :
Tidak ada orang yang peranannya demikian penting bagi orang lain, sehingga dia berwenang untuk mengecilkan peran orang lain bagi keberhasilannya. ( MTST – The roles we play )