HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

HIMspirit : daftar artikel Jan-Des’08

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 9:03 pm on Monday, December 22, 2008

Pembaca Yth,

Untuk memudahkan navigasi atas tulisan HIMspirit yang anda ingin cari, berikut dibawah ini saya rangkum dalam indeks artikel untuk edisi tahun 2008 di kolom kategori. Terima kasih atas atensinya. God bless you.

 

 

Edisi Januari – Februari 2008

Have I told you lately that I love you :

Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. ( Amsal 31 : 23 )

Branding you :

Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebuh baik daripada perak dan emas ( Amsal 22 : 1 )

Predicting success :

Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap penuh kepercayaan kepada Tuhan ( Mazmur 112 : ? )

Copying to greatness :

Sebab lebih baik satu hari di pelataranMU daripada seribu hari di tempat lain ( Mazmur 84 : 11 )

 

 

Edisi Maret - April 2008

The light of understanding :

Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan ? Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya ? ( Roma 11 : 34 )

Trusted leader :

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tak lebih daripada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat disamakan ? ( Yesaya 2 : 22 )

No matter what :

Karena itu Aku berkata kepadamu : apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. ( Markus 11 : 24 )

I wanna be rich :

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMU dan berkata : Siapa Tuhan itu ? Atau kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. ( Amsal 30 : 8b-9 )

 

 

Edisi Mei - Juni 2008

Measured patience :

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang yang memberi kekuatan kepadaku. ( Filipi 4 : 13 )

What it possible to achieve :

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. ( Markus 12 : 44 )

Reputation :

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya ? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. ( Amsal 22 : 29 )

Becoming your best friend :

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. ( Amsal 17 : 17 )

 

 

Edisi Juli - Agustus 2008

Time changes everything except us :

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan daslam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah Dari awal sampai akhir ( Pengkhotbah 3 : 11 )

Never say never again :

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum ! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. ( Roma 12 : 20 )

Show me the money :

Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10 : 22 )

When you believe :

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya ? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya ? ( Mazmur 8 : 5 )

 

 

Edisi September - Oktober 2008

Onion effect :

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu. ( Mazmur 119 : 71 )

Doable is the best vision :

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia ( I Korinus 2 : 9 )

How practical are you :

Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ( Amsal 12 : 24 )

The roles we play :

Maka janganlah kau katakan dalam hatimu : Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. ( Ulangan 8 : 17 )

 

 

Edisi November - Desember 2008

Crisis is the best reason for change :

Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya. Padahal engkau mampu melakukannya ( Amsal 3 : 27 )

Deciding to be happy :

Berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur ( Matius 5 : 4 )

Leading a new self :

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. ( Amsal 18 : 12 )

Vacation and life :

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur. ( Mazmur 127 : 2 )

 

Vacation and life : 21 Des 08

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:58 pm on Monday, December 22, 2008

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia memberikannya kepada yang dicintaiNya pada waktu tidur. ( Mazmur 127 : 2 )

 

Satu hal yang pasti dalam setiap perubahan adalah perubahan itu sendiri. Meskipun banyak orang merasa nyaman dalam area kemapanannya, tapi tokh waktu tidak berhenti untuk disesuaikan menurut standar zaman yang senantiasa bergerak. Sebagai contoh, mari kita tengok era 5-10 tahun lalu dimana teknologi usang yang dulu dianggap canggih kita sudah terbarukan oleh penemuan-penemuan perangkat yang seakan mempermudah proses suatu operasi produksi maupun aplikasi. Disisi lain, mungkin tanpa disadari kita tengah menjebak diri sendiri dengan berbagai piranti gadget yang dimiliki. Ketika berbagai software komunikasi dibenamkan dalam handphone, seolah jalan kehidupan kita sedang dirangkum dalam penjara berbentuk data.

Tak heran anjuran yang sering kita dengar bila seseorang atau sebuah keluarga hendak merencanakan liburan adalah putuskan sejenak dengan dunia luar, nikmati tanpa diganggu oleh berbagai interupsi. Kebetulan pula akhir tahun ini begitu banyak tanggal “kejepit”, jadi dengan cuti 4 hari ( 26, 30, 31 Desember dan 2 Januari 2009 ) praktis bisa mendapatkan libur sebanyak 11 hari, he3…

Maka merayakan liburan seolah menjadi pelepas penat setelah melakukan pekerjaan yang mungkin mayoritas dari kita merasakannya sebagai beban daripada kesenangan dapat bermanfaat bagi perusahaan maupun orang yang kita sayangi. Tugas dianggap sebagai kewajiban yang sebisa mungkin harus dijauhi ketimbang sebagai hak kita untuk berhasil. Namun bukankah dalam episode penciptaan alam semesta, Beliau sendiri telah memberi teladan untuk menghormati apa yang namanya waktu beristirahat bagi manusia ?

 

Bagi penulis pribadi, lembur atau pulang malam demi tuntasnya bukan menunjukkan bahwa kita berdedikasi bagi perusahaan pada pencapaian tugas kita. Mungkin anda pernah mendengar kalimat pilihan dari sebuah iklan produk rokok : kerja malam biar pagi santai atau kerja pagi biar malam santai ? Waduh, pekerjaan kok menjadi sebuah “kutukan”, bersusah payah demi menafkahi pribadi maupun keluarga, sehingga demi materi yang tidak seberapa, banyak orang berpikir jalan pintas dengan melakukan perbuatan yang tidak halal. Seolah Tuhan tidak dipercaya bisa memberikan berkat kekayaan dalam jumlah yang tak terbatas dengan cara ajaib yang tak kita pahami. Maka berdoa dan bersabarlah. Bukankah kita semua tengah menunggunya ?

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Einstein dalam teori relativitasnya mengumpamakan secara sederhana kira2 dalam kalimat begini ( maaf kalau kutipannya nggak pas dengan aslinya ) : “1 jam terasa cepat untuk orang yang tengah bertemu kekasih, tetapi 1 menit akan terasa lama untuk orang yang tengah mengerang kesakitan”. Bila pekerjaan dianggap sebagai hobi, mengeluh bukanlah sebuah beban, tetapi pengharapan bahwa dibalik tekanan itu semua ada janji keberhasilan. Sayangnya, berapa banyak dari kita yang bertahan dengan pekerjaan yang tidak kita sukai, lalu pasrah dengan sebisa mungkin melakukan adaptasi atas apa yang kita lakoni ?

 

Maka liburan menjadi waktu untuk introspeksi diri untuk menghitung pelajaran apa yang kita dapat dari masa yang berlalu. Mencatat kembali resolusi apa yang belum tercapai seiring berjalannya tahun2 melangkah. Kita semua memang dalam posisi menanti, namun bukankah banyak dari kita yang justru merasa masa penantian tersebut terlalu singkat hingga kerap berujar kekurangan waktu untuk menyelesaikan apa yang ada didepan kita.

Menyibukkan diri demi alasan klise “mengejar karir” mungkin sudah hal jamak, namun tak ada salahnya kita pun memiliki tempat persinggahan sejenak untuk berhenti dari segala aktivitas. Seperti terkutip dalam ayat pembuka diatas dan juga masih diamini banyak orang, berikan kesempatan pada Tuhan untuk membuktikan janjiNya bahwa apa yang kita dapat selama ini bukan semata kerja keras yang tidak layak kita banggakan secara berlebihan, namun lebih karena atas perkenanNya. Bersyukurlah atas apapun juga. Happy holiday !

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. ( Yesaya 46 : 4 )

 

HiMTquote :

Yang menempatkan anda dalam posisi kebintangan adalah antisipasi kebaikan dalam pekerjaan, dan penghindaran penyia-nyiaan waktu dalam kekhawatiran dan kemalasan. ( MTST – Vacation &life )

 

Leading a new self ( 07 Des 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:53 pm on Monday, December 22, 2008

Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. ( Amsal 18 : 12 )

 

Setiap jelang akhir tahun seperti ini, biasanya banyak orang melakukan introspeksi diri atas hari-hari yang telah dilaluinya selama tahun yang berjalan untuk kemudian mempersiapkan diri menyambut apa yang dituju di tahun berikutnya. Menghitung kembali berapa banyak resolusi yang telah dipatok tahun sebelumnya yang tidak terlaksana untuk kemudian diperbaharui kembali agar bisa terealisasi di tahun selanjutnya.

Di beberapa kesempatan wawancara pekerjaan yang sempat penulis ikuti beberapa tahun silam, seringkali terngiang pertanyaan staf HRD berikut : “Bila anda diterima bekerja disini, apa yang diharapkan dari perusahaan ini bagi anda dalam 5 tahun kedepan ?”. Mungkin beberapa dari kita yang sedang mengisi posisi entry level akan menjawab : minimal jadi manajer dech atau kepala cabang dimana gitu. Terasa janggal sekali kalau ada jawaban : itu terserah kebijaksanaan perusahaan saja. Lho, berarti sang pelamar merasa dirinya tidak bijaksana donk ?!

 

Beberapa iklan sms ngawur di tv mempromosikan bisa memprediksi tentang kecocokan pekerjaan, jodoh, nasib, maupun karir berdasarkan tanggal lahir. Sebagian lainnya masih pakai cara konvensional, tanya ke dukun atau paranormal. Minta diramal bagaimana masa depannya, dan kalau dibilang buruk tak lupa dimintakan apa penangkalnya.

Manusia pada dasarnya tidak suka ketidakpastian. Padahal dalam ketidakpastian segala sesuatu mungkin terjadi. Masalahnya adalah kadang kita tidak mau mengalami kemungkinan terburuk, sebisanya akibat jelek yang mungkin timbul bisa diminimalisir dulu. Dalam perusahaan, muncullah yang namanya pekerjaan membuat anggaran dan manajemen resiko. Ketika nilai dollar terus menguat akhir-akhir ini, mungkin bagian budget mengalami stress, asumsi digonta-ganti terus sehingga kalkulasinya berubah melulu, mana proses hitungnya manual lagi.

 

Omong-omong soal asumsi, mungkin banyak dari kita yang menilai dirinya terlalu ketinggian. Misalnya mengira dirinya sudah bekerja keras bahkan sampai lembur berhari-hari, tapi tidak diperhatikan atasan. Merasa sudah memberikan yang terbaik dari yang bisa dilakukannya, tapi yang mengambil manfaat dari itu semua adalah nama baik bosnya. Lalu dalam setiap doa kita panjatkan : aku telah berbuat yang terbaik, tetapi mengapa belum juga ditemukan oleh orang yang terbaik juga ? Apa yang salah ?

Jebakan yang kerap tidak sadari adalah ungkapan “telah berbuat yang terbaik”, benarkah ? Siapa yang memampukan anda untuk bisa berbuat yang terbaik ? Lha, namanya asumsi khan menurut pandangan kita sendiri, belum tentu orang lain memandangnya demikian. Kadang kita tidak mengenali kemampuan kita sendiri, mungkin di setiap ujian yang ada kita dibuat mengetahui kemampuan pribadi tersebut, lalu berlanjut bagaimana menggunakan kemampuan itu, kemudian meningkatkannya. Atau itu mungkin suatu pemberitahuan bahwa justru kita bisa berbuat lebih baik lagi dalam potensi terpendam yang belum kita sadari sepenuhnya.

 

Pekerjaan yang kita jalani sekarang bukan karena kita pantas mendapatkannya. Karena bila kepantasan posisi jabatan itu ada, kita akan dibuat merasa nyaman dan tidak mau bergerak dinamis. Dari tahun ke tahun, penulis berusaha membuat pekerjaan yang digeluti menjadi jauh dari kepantasannya supaya lekas naik kelas. Namun Beliau dengan lembut memberi rambu-rambu seperti ayat pembuka yang tercantum diatas. Belajar bahwa ada tahapan proses yang harus dilewati. Seperti kerinduan penulis untuk mandiri dengan membuka usaha sendiri, tidak bergantung pada suruhan orang lain. Ini bukan lagi semata soal materi atau harta, tetapi aktualisasi kepemimpinan diri untuk menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Bahwa sungguh tragis bila kita meratapi nasib bergantung penghasilan yang didapat tiap bulannya dari orang lain.

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman : “Aku sekali-kali tidak membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” ( Ibrani 13 : 5 )

 

 

HiMTquote :

Yakinlah, bahwa dia yang melebihkan kebaikan untuk orang lain, akan dilebihkan kebaikan baginya. Sebaliknya, dia yang mengurangkan dari yang menjadi hak orang lain, akan menjadikan dirinya justru semakin terkurangkan oleh kelebihannya. ( MTST – Leading a new self in 2006 )

 

Deciding to be happy ( 24 Nov 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:46 pm on Monday, December 22, 2008

Berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur ( Matius 5 : 4 )

 

Berbahagialah orang miskin, karena tidak ada pilihan selain memampukan dirinya menjadi orang kaya. Terdengar ironis memang, bahkan mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai kalimat penghinaan ketimbang sebagai slogan penyemangat hidup. Bahwa status miskin yang biasanya diolok-olok sebagai miliknya orang susah, secara realitasnya tidak melulu berarti mereka juga tidak berhak merasakan apa yang namanya kebahagiaan. Banyak orang berusaha membeli kebahagiannya dengan datang ke tempat2 yang diharapkan dapat menerima diri apa adanya, namun semua itu hanya semu semata.

Bahagia bukan bicara soal berapa banyaknya materi yang kita miliki. Bahagia adalah soal keputusan dalam menghargai keberadaan kita di muka bumi ini. Belum bosannya penulis mengutip peristiwa umum yang biasanya dialami pekerja kelas bawah, apalagi kalau bukan soal gaji. Anda tidak puas soal gaji, penulis pun mengalaminya. Namun apakah anda bahagia dengan penghasilan yang didapat sekarang ini, itu soal lain lagi. Ketika anda tidak bahagia, secara tak langsung anda tidak bersyukur atas apa yang telah diterima. Mungkin penjelasan seperti ini menjengkelkan, namun sekali lagi ini soal keputusan.

 

Terkadang yang kita anggap suatu karunia adalah sesuatu yang besar, yang mencengangkan, ataupun yang membuat pribadi kita merasa takjub. Bila menang hadiah undian, kita anggap sebagai keajaiban. Jika kita sembuh dari penyakit yang parah, maka itu adalah mukjizat. Tanpa disadari bahwa sesuai slogan artikel : “life is a miracle”. Atau mungkin pembaca lebih familiar dengan ungkapan “life is a gift”, secara sederhananya “ hidup adalah pemberian”. Mungkin karena mentang2 “diberi” maka hidup seolah-olah tidak masalah untuk disia-siakan. Bandingkan bila hidup diberikan bila kita telah berupaya dulu untuk mendapatkannya, seperti kite harus bekerja dulu untuk mendapatkan upah. Makanya penulis lebih suka menulis bahwa kehidupan itu adalah “keajaiban” yang dicurahkan olehNya. Bahwa ditengah nalar dan rasionalitas kita, bukankah ajaib segala yang dijadikan dan diperbuatNya untuk kita selama ini ?

Bila demikian mengapa manusia mesti mengalami penderitaan dan cobaan ? Penulis agak merenung sejenak untuk mencerna istilah “ibunya adalah kesulitan dan bapanya adalah upaya” dalam menatap konsep mengharapkan keajaiban. Bahwa upaya adalah pengubah nasib, tentu sudah banyak yang maklum. Sesuai dengan prinsip “ora et labora”, berdoa tanpa bekerja adalah malas, sedangkan bekerja tanpa berdoa hanyalah kesombongan semata. Tetapi upaya kadang bisa putus ditengah jalan, bila tak disertai dengan yang namanya kesungguhan.

 

Mungkin anda pernah mendapatkan konsep bahwa semakin kita sengsara maka makin kita dekat denganNya. Doa-doa orang yang pilu hati akan cepat didengar olehNya. Tidak salah memang, namun mengapa Beliau menciptakan pula orang-orang kaya yang juga didengar doanya ? Pasti ada yang salah dengan doa permohonan kita. Masalah yang datang disikapi sebagai batu sandungan yang membuat perjalanan kita kerap terpuruk ketimbang dianggap sebagai tumpukan batu yang bisa dipakai untuk berpijak dan melompat lebih tinggi lagi.

Kembali ke tema artikel ini. Ada tips kecil yang mungkin bisa dipraktekkan sehari-hari dalam kehidupan anda sehari-hari. Dalam kesempatan apapun, cobalah sering mengucapkan kata : terima kasih. Entah itu saat anda membayar belanjaan di kasir, diminta atasan mengerjakan tugas yang melebihi jobdesc harian anda, dimarahi rekan kerja, atau doa anda seperti belum dijawab sekalipun. Mungkin saat ini kita belum menemukannya, tapi yakinlah tanpa disadari Ia akan membuat kita menemukannya dengan tak terduga. JanjiNya untuk menghibur dan mendampingi di saat buruk yang tengah kita hadapi masih berlaku bagi kita semua yang senantiasa hanya berharap padaNya. Jadi kalau begitu, adakah alasan untuk berlama-lama dalam meratapi kepedihan ?

Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak. ( Mazmur 37 : 5 )

 

 

HiMTquote :

Orang lain tidak akan mampu membantu anda merasa bahagia, bila anda adalah orang pertama yang meragukan hak anda untuk merasa berbahagia dan menolak apapun yang ada pada anda sebagai alasan untuk bersyukur. ( MTST – Deciding to be happy )

 

crisis is the best reason for change ( 10 Nov 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Nov-Des — himfiles at 8:29 pm on Monday, December 22, 2008

Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. ( Yohanes 17 : 15 )

 

Harapan. Boleh dibilang inilah benteng pertahanan terakhir manusia untuk bisa memiliki kemampuan bertahan hidup, karena tanpa harapan mungkin kehidupan manusia sudah tamat dari semula. Berapa banyak dari kita yang memendam kekecewaan dan putus asa dengan kondisi perusahaan yang buruk, namun kita masih saja mampu bersabar untuk ada didalamnya ? Bahwa tugas yang dilakoninya sekarang hanyalah bersifat sementara, sebelum waktunya tepat untuk melakukan apa yang sudah lama menjadi impiannya ?

Pertanyaan selanjutnya yang sering terlontar adalah : kapan ? Ya, kapan “kesengsaraan” bersusah payah mengabdi di perusahaan milik orang lain itu berganti menjadi kegembiraan berusaha diatas pijakan kaki sendiri ? Bukan mapan karena bergantung pada keputusan orang lain tempat kita bekerja.

 

Ya, kemapanan bagi banyak orang dapat meninabobokan. Lihat saja berapa banyak orang yang tidak mau berubah hanya karena tidak mau meninggalkan “comfort zone”-nya. Alasan yang sering terlontar : resikonya terlalu besar atau tidak paham apa yang mau dikerjakannya nanti. Bagi para karyawan yang bersiap pensiun, mungkin sudah jamak mendengar istilah post-power-syndrom, secara singkatnya itu istilah untuk menyebut gejala stress yang biasanya muncul karena tidak bekerja lagi. Ternyata bukan hanya bekerja saja yang bisa berpengaruh serius pada efek psikologis, tidak bekerja pun bisa memicu perilaku emosi yang negatif. Padahal menjadi “pengangguran” justru yang paling ditunggu bagi banyak orang untuk melakukan hal produktif menurut lentera jiwanya.

Nasehat yang sering penulis dengar ( tidak perlu sms sambil ketik reg untuk tahu kutipan ini, he3… ) adalah : keraslah pada kehidupan diri anda selagi muda supaya kehidupan tidak memaksa anda bekerja keras kala anda tidak muda lagi. Dari sini penulis terpicu untuk membuktikan semboyan ini bahwa : life begins at 40, maksudnya berencana pensiun paling lambat pada usia 40 tahun ( mudah-mudahan lebih cepat ). Pensiun disini bukan berarti berhenti berkarya, namun sudah memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan apa yang menjadi impian masa kecil. Yang dilakukan bukan karena supaya tiap bulan cukup puas dengan penghasilan yang didapat, tetapi tiap saat bisa memberi penghasilan dan keuntungan juga bagi orang lain.

 

Lha, itu khan baru harapan. Mungkin tergolong tidak realistis, bahkan iseng2 penulis coba menghitung berapa nilai uang yang harus dikumpulkan untuk sampai ke tahapan “bebas secara financial” dalam waktu beberapa tahun kedepan tampaknya masih sulit. Terutama berkompromi dengan masalah tenggat waktu yang ditetapkan. Tapi, hey… mukijizatNya masih berlaku sampai sekarang ini.

Dari sini penulis mengambil kesimpulan, mengapa hukum alam menciptakan “krisis” waktu dan situasi yang seakan tidak bersahabat ini. Bukan karena agar kita berleha-leha karena deadline-nya masih jauh, tetapi justru supaya kita menyegerakan persiapan yang bisa dilakukan dari sekarang. Krisis adalah alasan terbaik untuk berubah, tetapi perubahan tidak perlu menunggu alasan sampai adanya krisis.

 

Tidak ada maksud Tuhan menguji kita, selain daripada untuk memuliakan setiap pribadi yang dikasihiNya. Mungkin pembaca, termasuk penulis sudah merasa tidak sreg lagi dengan kondisi pekerjaan sekarang. Dalam berbagai kesempatan doa, keluhan untuk berganti tempat kerja ( sekalian juga minta naik gaji plus minta ganti atasan, he3… ) mungkin kerap membisik di hati.

Namun dari artikel ( yang “anehnya” ) setiap penulis rangkum ini bisa memberi tambahan semangat untuk melewati problem itu semua, maka penulis mau membagi tips yang bersumber dari kutipan ayat pembuka diatas : “bukan masalahnya yang berusaha kita hindarkan, tetapi agar kita berkesempatan memohon kekuatan dariNya agar memiliki kemampuan berjalan diatas masalah itu”.

Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya. ( Mazmur 37 : 24 )

 

HiMTquote :

Bila di mata sebuah organisasi – seorang pemimpin tidak berlaku berbeda dari pemimpin mereka yang terdahulu – yang telah memimpin mereka untuk sampai pada masa krisis yang sekarang in; mereka tidak akan memberikan kepercayaan yang dibutuhkan oleh sang pemimpin untuk mendatangkan perubahan. ( MTDB – Crisis is the best reason for change ).