Leading a new self ( 07 Des 08 )
Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan. ( Amsal 18 : 12 )
Setiap jelang akhir tahun seperti ini, biasanya banyak orang melakukan introspeksi diri atas hari-hari yang telah dilaluinya selama tahun yang berjalan untuk kemudian mempersiapkan diri menyambut apa yang dituju di tahun berikutnya. Menghitung kembali berapa banyak resolusi yang telah dipatok tahun sebelumnya yang tidak terlaksana untuk kemudian diperbaharui kembali agar bisa terealisasi di tahun selanjutnya.
Di beberapa kesempatan wawancara pekerjaan yang sempat penulis ikuti beberapa tahun silam, seringkali terngiang pertanyaan staf HRD berikut : “Bila anda diterima bekerja disini, apa yang diharapkan dari perusahaan ini bagi anda dalam 5 tahun kedepan ?”. Mungkin beberapa dari kita yang sedang mengisi posisi entry level akan menjawab : minimal jadi manajer dech atau kepala cabang dimana gitu. Terasa janggal sekali kalau ada jawaban : itu terserah kebijaksanaan perusahaan saja. Lho, berarti sang pelamar merasa dirinya tidak bijaksana donk ?!
Beberapa iklan sms ngawur di tv mempromosikan bisa memprediksi tentang kecocokan pekerjaan, jodoh, nasib, maupun karir berdasarkan tanggal lahir. Sebagian lainnya masih pakai cara konvensional, tanya ke dukun atau paranormal. Minta diramal bagaimana masa depannya, dan kalau dibilang buruk tak lupa dimintakan apa penangkalnya.
Manusia pada dasarnya tidak suka ketidakpastian. Padahal dalam ketidakpastian segala sesuatu mungkin terjadi. Masalahnya adalah kadang kita tidak mau mengalami kemungkinan terburuk, sebisanya akibat jelek yang mungkin timbul bisa diminimalisir dulu. Dalam perusahaan, muncullah yang namanya pekerjaan membuat anggaran dan manajemen resiko. Ketika nilai dollar terus menguat akhir-akhir ini, mungkin bagian budget mengalami stress, asumsi digonta-ganti terus sehingga kalkulasinya berubah melulu, mana proses hitungnya manual lagi.
Omong-omong soal asumsi, mungkin banyak dari kita yang menilai dirinya terlalu ketinggian. Misalnya mengira dirinya sudah bekerja keras bahkan sampai lembur berhari-hari, tapi tidak diperhatikan atasan. Merasa sudah memberikan yang terbaik dari yang bisa dilakukannya, tapi yang mengambil manfaat dari itu semua adalah nama baik bosnya. Lalu dalam setiap doa kita panjatkan : aku telah berbuat yang terbaik, tetapi mengapa belum juga ditemukan oleh orang yang terbaik juga ? Apa yang salah ?
Jebakan yang kerap tidak sadari adalah ungkapan “telah berbuat yang terbaik”, benarkah ? Siapa yang memampukan anda untuk bisa berbuat yang terbaik ? Lha, namanya asumsi khan menurut pandangan kita sendiri, belum tentu orang lain memandangnya demikian. Kadang kita tidak mengenali kemampuan kita sendiri, mungkin di setiap ujian yang ada kita dibuat mengetahui kemampuan pribadi tersebut, lalu berlanjut bagaimana menggunakan kemampuan itu, kemudian meningkatkannya. Atau itu mungkin suatu pemberitahuan bahwa justru kita bisa berbuat lebih baik lagi dalam potensi terpendam yang belum kita sadari sepenuhnya.
Pekerjaan yang kita jalani sekarang bukan karena kita pantas mendapatkannya. Karena bila kepantasan posisi jabatan itu ada, kita akan dibuat merasa nyaman dan tidak mau bergerak dinamis. Dari tahun ke tahun, penulis berusaha membuat pekerjaan yang digeluti menjadi jauh dari kepantasannya supaya lekas naik kelas. Namun Beliau dengan lembut memberi rambu-rambu seperti ayat pembuka yang tercantum diatas. Belajar bahwa ada tahapan proses yang harus dilewati. Seperti kerinduan penulis untuk mandiri dengan membuka usaha sendiri, tidak bergantung pada suruhan orang lain. Ini bukan lagi semata soal materi atau harta, tetapi aktualisasi kepemimpinan diri untuk menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Bahwa sungguh tragis bila kita meratapi nasib bergantung penghasilan yang didapat tiap bulannya dari orang lain.
Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman : “Aku sekali-kali tidak membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” ( Ibrani 13 : 5 )
HiMTquote :
Yakinlah, bahwa dia yang melebihkan kebaikan untuk orang lain, akan dilebihkan kebaikan baginya. Sebaliknya, dia yang mengurangkan dari yang menjadi hak orang lain, akan menjadikan dirinya justru semakin terkurangkan oleh kelebihannya. ( MTST – Leading a new self in 2006 )