HIMfiles : HIMspirit2008 ed.

because life is a miracle

Show me the money ( 10 Agt 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:22 am on Monday, August 25, 2008

Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10 : 22 )

Mungkin sebagian dari pembaca pada beberapa bulan kedepan akan disibukkan untuk terlibat dengan pembuatan budget untuk tahun 2009. Memang manusia tidak tahu beberapa bulan kedepan akan seperti apa, bahkan besok akan terjadi apa pun kita belum tahu. Jadi yang penulis tangkap adalah bahwa budget lebih kepada persepsi mau jadi apa anggaran yang dibuat ini dengan ekspetasi pertumbuhan yang diinginkan. Bila nantinya ada penyimpangan, semoga tidak terlalu meleset dari target yang telah diinginkan.

Bukan, penulis bukan hendak mengajak pembaca berkalkulasi teknis soal neraca dan laporan keuangan, tetapi kepada rentetan slogan yang biasanya menyertai “tim sukses” untuk menyemangati bawahannya. Standar kalimat motivasi itu sebagai contoh : “Tantangan kedepan semakin berat, tapi bukan tidak mungkin untuk kita capai. Pastinya itu semua butuh kerja keras dari kita semua supaya berhasil melewati rintangan yang ada”. Ya, kali ini penulis mau sekilas mengupas soal : kerja keras.

Kerja keras ( work hard ) yang dimaksud topik ini tidak hanya sekedar olah fisik yang membutuhkan stamina kuat, melainkan juga bagi pekerja level staf keatas. Datang paling pagi, pulang paling malam, kalau perlu lembur demi mengejar deadline pekerjaan, tetapi hasil yang didapat hanya begitu2 saja. Adakah yang salah ? Lalu muncullah istilah baru yang tergolong populer belakangan ini : kerja cerdas ( work smart ).

Konsep ini biasanya diimbuhi slogan “bukan anda yang bekerja untuk uang, melainkan uang yang bekerja untuk anda”. Dan tentu saja ujungnya adalah soal investasi. Lha, tapi khan untuk modal investasi ini mesti kerja dulu dan tidak bisa sekonyong-konyong keuntungan itu datang. Warren Buffet saja yang bukunya sekarang marak direferensikan sebagai tokoh sukses dalam hal begini butuh waktu hingga puluhan tahun.

Dalam bentuk variasi lainnya, mungkin anda pernah mendengar istilah “money magnet”, secara sederhana maksudnya bagaimana membentuk karakter pribadi yang dapat menarik uang untuk datang sendiri kepada kita tanpa kita susah2 mencarinya. Wah, kalau gitu sich banyak karyawan yang mungkin tidak perlu mengeluh bahwa hanya tingkatan manajer atau direktur saja yang bisa kaya secara materi. Tapi kapan ?

Ketika kerja keras kita dianggap sebagai hal yang lumrah, bahkan kerja cerdas kita tidak dihargai dengan semestinya, maka level kerja kita harus dinaikkan lagi “jurusnya”, yakni menjadi kerja ikhlas. Maksudnya bukan digaji berapapun serelanya pemimpin perusahaan, tapi anda meyakini bahwa apa yang anda kerjakan tersebut menguntungkan banyak orang dan pihak lain. Orang akan kagum kepada anda yang gajinya kecil dan kerjanya baik, kok ada atasan yang tega membayar anda rendah. Bahkan bila anda mengimani dengan sungguh, Tuhan pun akan mengirimkan curahan berkatNya lewat jalan-jalan yang selama ini mungkin tidak pernah anda pikirkan. Jangan lupa untuk berdoa senantiasa untuk hal2 baik yang diharapkan untuk Tuhan kerjakan dalam kehidupan anda.    

Berapa banyak dari anda yang merasa sudah memberi yang terbaik ? Tapi lebih banyak mana dari  anda yang sudah memberi dari apa yang menjadi kekurangannya ? Memburu uang demi kesejahteraan anak- istri, tetapi kurang waktu untuk menanam kebersamaan bagi keluarga ? Demikian juga bila kita merenungkan hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta, berapa seringkah percakapan yang kita lakukan denganNya ?

Adakah Tuhan yang menginginkan anda hidup miskin ? Tuhan yang penulis percayai menghendaki umatNya hidup damai berkelimpahan. Jadi kalau begitu, mengapa dari kita masih “tertahan” untuk menikmati karuniaNya tersebut ? Not only the money, show me the miracle !

Kutipan ungkapan perasaan Ayub ini menginspirasi penulis untuk bertekun menantikan saat2 indah itu tiba, sehingga kita bisa berkata :   Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. ( Ayub 42 : 5 )

HiMTquote :

Merasa bangga karena melihat diri lebih dari orang lain, atau merasa tidak perlu memperhatikan karena diri ini telah mengetahui semua yang harus diketahui, atau merasa rendah karena diri tidak sekaya orang lain – adalah bibit dari semua keputusan yang tidak sehat. ( MTDB – Show me the money )

Never say never again ( 28 Jul 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:20 am on Monday, August 25, 2008

Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum ! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. ( Roma 12 : 20 )

Lempar batu sembunyi tangan. Peribahasa ini mungkin sudah tak asing lagi bagi anda, apalagi bila hendak mencap orang yang suka tidak mau bertanggungjawab atas sebuah kesalahan atau pelanggaran. Khususnya dalam dunia kerja, seringkali kita temui antar bagian berusaha membela diri bila ada satu masalah yang berkaitan dengan banyak pihak. Sebagai contoh, dalam menanggapi keluhan konsumen di kolom surat pembaca biasanya yang memberi jawaban adalah bagian kehumasan ( public relations ), namun penelusuran masalahnya bisa berbuntut panjang, mulai dari bagian frontliner, marketing, accounting, tim IT, dan seterusnya. Tak pelak bagian yang ditanya bisa saja berkesimpulan negatif : kok jadi bagian kami yang dituduh berbuat yang tidak benar ?

Dalam satu teamwork yang kokoh, kesalahan satu orang saja seharusnya menjadi beban senasib sepenanggungan dan keceriaan satu orang saja merupakan kebahagiaan semua yang terlibat. Sama seperti salahsatu bagian tubuh kita mengalami luka, bukankah bagian tubuh yang lain pun akan turut merasakannya ? Atau ketika salahsatu bagian tubuh kita diperindah, bukankah anggota tubuh yang lain pun akan beria-ria ?

Entah kenapa menurut pengalaman penulis pribadi, pasti dalam suatu organisasi ada saja tokoh yang bertemperamen menyebalkan. Sok main perintah, tidak berempati, emosional, bahkan sampai bicara kasar. Sempat terpikir, heran kok HRD bisa meloloskan karakter karyawan seperti itu yach ? Namun bila direnungkan lebih jauh, lha Tuhan saja begitu baik kepada kita manusia ciptaanNya, mengapa kita tidak mencontoh teladan yang Beliau berikan untuk ditunjukkan kepada sesama kita ?

            Banyak orang berusaha menyesuaikan diri untuk masuk lingkungan tertentu karena takut ditolak. Bila tidak sesuai mainstrem atau tidak mau beradaptasi dengan aturan mayoritas maka resikonya bakal dikucilkan dari pergaulan. Sebagai makhluk sosial tentu kondisi seperti ini sering anda jumpai. Bukan hendak menganjurkan bahwa kalau begitu slogan “be yourself” tidak ada artinya, donk !

Berapa banyak dari kita yang mensyaratkan agar orang lain yang terlebih dahulu yang melakukan perbuatan baik agar kita termotivasi ( atau merasa berhutang ) untuk berbuat baik ? Dapatkah pembaca membayangkan apa jadinya seorang anak yang dibesarkan dengan kasih seorang ibu yang berpamrih seperti itu ?

Dunia memang sedang jungkir balik. Kejujuran dianggap suatu kebodohan diantara budaya korup dan munafik. Merendahkan orang lain dianggap sebagai kewajaran di tengah kumpulan manusia sombong. Lalu ketika sosok seperti itu anda lihat di cermin, apa pendapat anda ? Sosok seperti itukah yang dikehendaki untuk orang lain perbuat kepada anda ?

Saat anda disakiti orang lain yang justru oleh anda anggap saudara, mungkin sempat terlintas ucapan : saya tak sudi kenal dia lagi atau jangan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah saya. Bukan, bukan itu yang dikehendaki oleh Yang Maha Kasih. Jangan putus harapan.

Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. ( 1 Petrus 3 : 9 )

HiMTquote :

Apakah mereka yang mengecewakan anda itu, yang mungkin juga sedang merayakan dengan tawa tersembunyi atas keberhasilannya dalam merendahkan anda itu – akan bersimpati bila anda menjadi pribadi yang gagal ? ( MTST – Never say never again )

Time changes everything except us ( 14 Jul 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Jul-Agt — himfiles at 4:18 am on Monday, August 25, 2008

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir ( Pengkhotbah 3 :11 )

Penggalan kalimat “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” pastinya sering anda jumpai tercantum dalam sebagian kartu undangan pernikahan. Tidak salah memang, tetapi konsep “indah pada waktunya” ini tidak melulu harus diasosiasikan dengan urusan berpadunya dua hati menjadi satu dalam suatu keluarga. Bukankah setiap hari yang Ia jadikan sendiri merupakan sesuatu hal yang indah. Tatkala kita masih diberi kesempatan olehNya untuk bernafas juga merupakan suatu keindahan.

Demikian juga dengan pekerjaan kita. Ditengah keluhan bahwa apa yang kita lakukan di kantor tidak sesuai dengan keinginan kita, tokh janganlah membuat kita mengatup bibir kita supaya berucap syukur. Lha, diluar sana masih banyak pengangguran, he3… Seperti yang senantiasa dilontarkan para pejabat bila bencana tengah melanda sebagian daerah : pastinya ada hikmah tersembunyi di balik itu semua. 

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Tua dianalogikan sebagai suatu perubahan kurun waktu yang tak terelakkan, sedangkan dewasa adalah soal sikap yang acapkali tidak berhubungan dengan soal usia. Disinilah bedanya ukura kualitas manusia, bahwa kedewasaan bukanlah tergantung dari pencapaian banyak pengalaman tetapi tergantung dari berbagai keputusan yang selama ini diambil. Contoh soal pernikahan yang sempat dikutip diatas, sampai berapa kali anda mempertimbangkan apa yang mendasari keputusan untuk memilih pasangan yang akan mendampingi seumur hidup anda ? Kadang karena anda kepepet umur, sehingga yang bermain bukan lagi nalar dan hati anda melainkan karena takut dicemooh komunitas sosial misalnya.

Bila zaman ortu kita dulu, menikah di usia muda adalah hal yang jamak, justru di masa sekarang masih banyak lajang di umur kepala 3. Kita merasa fine2 aja, justru malah ortu yang ketar-ketir sendiri, he3… Sambil lalu kita sering beralasan : belum ada jodohnya, nanti juga kalau sudah waktunya bakal muncul sendiri, lha ini khan keputusan penting sekali untuk selamanya, nggak bisa diburu-buru, dst… J

Waktu itu tidak terbatas, namun waktu bagi kita terbatas. Life goes on… demikian tagline salahsatu blog teman penulis. Ya, hidup itu mengalir. Namun bagi mereka yang super, pengertian mengalir itu bukan dibiarkan ke bawah, tetapi bagaimana memampukannya supaya aliran itu menuju keatas. Tidak menunggu nasib baik, tetapi buat nasib anda sendiri. Klise sich, gampang diucapkan namun dalam prakteknya pasti butuh perjuangan loch.

Berapa banyak dari kita para jomblo yang mengimani bahwa masih ada seseorang yang baik diluar yang juga mengidamkan hal yang sama dengan kita ? Mereka yang dipercaya adalah bagian dari tulang rusuk kita yang terhilang ? Dalam setiap permohonan doa, tak lupa kita meminta agar bisa dipertemukan segera. Entah apakah kesabaran kita tengah diuji atau bukan, nyatanya sang pujaan belum juga datang menghampiri ( bukan seperti kata sebuah iklan bilang : bulan mei alias mei be yes mei be no, he3… ).

Tetapi Tuhan bukanlah seperti manusia yang kerap terlambat datang saat dimintai pertolongan. Tak terkira kasih sayang yang Ia curahkan untuk makhluk ciptaanNya ini. Ketika hati macam2 manusia selalu berganti tergantung “mood”, janjiNya tidak pernah berubah sepanjang masa. Jadi kalau begitu, di tengah kesulitan dan beban berat hidup yang mungkin tengah anda alami sekarang, tetap kerjakanlah apa yang menjadi bagian anda dan berserahlah kepada Tuhan yang sanggup menyelesaikannya untuk anda.

Mungkin kita tidak mengerti dengan derita yang harus dialami sekarang, tapi pada akhirnya mata kita akan dibukakan untuk memahami rencana indahNya bagi kita. Tugas kita adalah untuk mencoba, sedangkan tugas keberhasilan adalah semata bagi kemuliaan namaNya.

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;  mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. ( Yesaya 40 : 31 )

HiMTquote :

Maka jangan boroskan waktu untuk menunggu waktu yang baik, tetapi gunakanlah semua energi anda untuk memikirkan dan menemukan sesuatu yang baik untuk dikerjakan. ( MTST – Time changes everything except us )

becoming your best friend ( 22 Jun 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:42 am on Monday, June 23, 2008

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. ( Amsal 17 : 17 )

“Orang kecil membesarkan dirinya dengan mengecilkan orang lain. Orang besar mengecilkan dirinya untuk membesarkan orang lain”. Kutipan ini mungkin sering anda alami kebenarannya, contohnya dalam dunia kerja. Dalam bahasa lebih kerennya : politik kantor. Ada karyawan yang hobinya merayu atasan supaya minta naik gaji, mau menonjol sendirian, atau malah menjadi trouble-maker di dalam tim department-nya. Mungkin sosok rekan kerja yang diemohi untuk diajak bergaul adalah tipe bossy, bukan bos tetapi bertingkah seperti bos, bahkan disaat atasannya sendiri tidak bersikap layaknya seorang bos.

Mungkin anda pernah mendapatkan email berantai yang isinya mengupas perbedaan antara karakter bos dengan pemimpin. Penulis kutip salahsatunya : bos membenarkan dirinya dengan cara menyalahkan bawahannya tanpa tahu apa masalahnya, sedangkan pemimpin membenarkan dirinya dengan cara menimpakan kesalahan anak buah yang tidak tahu masalahnya kepada dirinya. Begitulah pemimpin, jangan hanya mau senangnya kalau dipuji, namun tidak mau terima kesulitannya kalau sedang dirundung cercaan dan makian.

Dari hal tersebut diatas, penulis jadi tahu mengapa ada rekan kerja yang hampir puluhan tahun masih bekerja di tempat yang sama, tetapi ada pula orang yang baru beberapa tahun saja sudah mempunyai posisi yang lumayan tinggi. Balik lagi, bahwa ada hukum kepantasan untuk segala sesuatu. Mereka yang tidak tahu memantaskan diri, kualitasnya memang hanya sebatas mengeluh dan menggerutu.

Seringkali dalam seminar pengembangan diri, sentral topik yang dibicarakan adalah di kala lingkungan tidak mau berubah, maka kitalah yang dituntut untuk melakukan perubahan. Jangan menunggu orang berubah, sebab hal itu akan menimbulkan kekecewaan semata. Kita berharap bahwa rekan kerja yang menyebalkan itu akan segera keluar dari tim kita, namun nyatanya kok dia tidak juga hengkang yach ? Maka terpaksa untuk setiap hari yang kita lalui, mesti “beradaptasi” dengan sikap temperamentalnya. Nasehat yang sering digunakan untuk kasus seperti ini : “yang waras, ngalah” J.

Istilah “teman kerja” mungkin sudah jamak kita dengar, namun bagaimana dengan “sahabat sekerja” ? Dua kata yang bersinonim namun beda sekali bila kita definisikan secara lebih tegas. Kata “sahabat” lebih menandakan hubungan yang lebih erat ketimbang kata “teman”. Bila teman hanya sebatas kenal, namun sahabat adalah pribadi yang kita tahu lebih dalam.

Dalam pointer pak Mario Teguh soal in, bila penulis tidak salah tafsir ditekankan pada perdamaian antara pikiran dengan nurani kita. Pernah merasakan pedihnya “membohongi diri sendiri” ? Bahwa dalam satu jasad ragawi yang sama ini, sudah berapa kali pikiran berusaha menipu nurani sendiri ? Nurani kita berkata : jangan mengambil hak milik orang lain, namun disisi lain pikiran kita terprovokasi untuk bilang : kalau tidak korupsi, kapan kayanya ? Apakah selama ini pikiran kita sudah bersahabat dengan nurani kita ?

Sahabat sejati tidak akan tega mencelakakan atau merendahkan kita. Namun kenyataannya, sangat sulit menemukan sosok sempurna seperti itu. Konsep “setia dalam suka duka” mungkin masih terasa klise untuk diucapkan dalam janji perkawinan, tetapi bukankah dalam ikatan tersebut arti persahabatan diuji ? Tidak ada lagi rahasia yang harus ditutupi diantara mereka berdua. Berdua menandakan sebuah relasi timbal balik yang penuh tanpa campur tangan pihak lain.

Gambaran diatas memberikan kita akan pemahaman akan komunikasi personal dengan Tuhan. Bila kita menganggap Tuhan sebagai sahabat, tentunya kita tidak akan sungkan untuk mencurahkan segenap isi hati kita. Dan untuk sahabatNya ini, pastinya Tuhan tidak akan menahan curahan berkat, hikmat, maupun rahasia masa depan untuk kita yang dikenanNya. Karena tidak seperti manusia, Ia adalah pribadi yang setia dalam menepati janji-janji indahNya. Tuhan hanya sejauh doa-doa kita.

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. ( Yohanes 15 : 13 )

HiMTquote :

Bukan kurangnya kasih sayang yang menggagalkan banyak pernikahan, tetapi tidak cukupnya persahabatan. ( MTST – Becoming your best friend )

reputation ( 8 Jun 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:40 am on Monday, June 23, 2008

Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya ? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. ( Amsal 22 : 29 )

I don’t care with my popularity. Kalimat ini biasanya terucap saat keputusan buruk akan dijatuhkan yang kemungkinan berdampak buruk bagi banyak orang. Padahal tidak selalu kontotasi populer terbentuk karena hal negatif, secara sempit populer artinya dikenal sebagian besar orang yang kita temui. Beda dengan idola, pastinya sering berkaitan dengan sesuatu hal yang positif. Nggak mungkin khan mengatakan idola saya adalah seorang narapidana, preman , tukang pukul, suka jambret, dan pelaku kejahatan lainnya.

Dalam dunia kerja, sudut pandang populer bisa saja dimaknai macam-macam. Mulai dari yang erjanya bolos melulu sampai beredar rumor suka mengadu ke atasan. Yang paling tidak mengenakkan adalah komentar2 seputar istilah menjilat bos, cari muka, atau sok rajin. Aneh memang, tapi demikianlah cara orang kecil untuk membesarkan dirinya, bukan dengan cara menggali kemampuan pribadinya untuk dikembangkan namun dengan mengecilkan peranan orang lain yang siapa tahu justru bisa menjadi pelajaran untuk membuat dirinya besar.

Orang kecil biasanya mengeluhkan hal-hal kecil, padahal bukankah kebesaran ditentukan oleh besarnya pula masalah ? Sudah berapa lama kita mengeluh soal kenaikan gaji yang rasanya tidak mampu mengejar tingkat pengeluaran kebutuhan sehari-hari ? Tiap kali berkonsultasi ke financial planner, saran menjemukan yang sering didengarnya adalah hemat konsumsi anda dan/atau cari penghasilan sampingan. Menggerutu bahwa perusahaan tidak memahami kesulitan keuangan yang dihadapinya, padahal sudah merasa memberikan kontribusi lebih dari yang didapatnya setiap bulan.

Pertanyaan berikutnya : sudah berapa lama kita mengomel untuk hal yang sama di tempat kerja yang sama ? Bertahun-tahun masih saja di posisi staf, menyalahkan bahwa perusahaan tidak memberikan kesempatan jenjang karier yang baik untuk dirinya. Penulis kutip dari nasehat pak Mario Teguh : untuk segala sesuatu ada ukuran kepantasan. Coba introspeksi diri lagi, jadi kalau begitu apakah karena kita belum pantas menerima maka apa yang diharapkan itu belum menjadi kenyataan. Ingin menjadi bos, tapi menghindari resiko dalam pengambilan keputusan. Ingin kaya, tetapi tidak mau berderma bagi orang lain. Ingin duit banyak, tapi gaya hidup kita boros.

Dalam perusahaan keluarga, mengapa seringkali kita lihat kerabat ataupun saudara pemegang usaha yang ditempatkan dalam jajaran pemimpin dalam struktur organisasi ? Bukan karena kecakapan mereka dalam menjalankan operasional perusahaan tetapi karena mereka dianggap bisa dipercaya. Lha wong masih satu garis keluarga kok, masa sich berani menghancurkan usaha warisan bersama. Namun tak pelak, kondisi seperti ini kadang dituding sebagai salahsatu alasan rapuhnya perusahaan keluarga bertahan lama. Yang diperlukan adalah seorang profesional yang mengerti bidangnya. Namun kembali ke kalimat awal paragraf, apakah dia bisa dipercaya ?

Sebuah prestasi dihargai karena apa yang dihasilkan, namun reputasi dihasilkan dari apa yang selama ini kita hargai. Bila anda menghargai apa yang namanya kejujuran, keadilan, kesetiaan, tanggungjawab, bekerja dengan baik, melayani, dan berserah bahwa apa yang anda lakukan itu atas perkenanNya melekat dalam tindakan anda, maka sebuah kepopuleran tidak lagi layak dicari. Bahkan kepopuleran itu sendiri yang justru akan mengejar tanpa anda usahakan cape2. Namun dibalik itu semua, janganlah kita menjadi takabur.

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. ( Lukas 14 : 11 )

HiMTquote :

Semakin berwenang orang yang mempercayai anda, semakin anda menjadi kuat. Semakin tinggi orang yang mempercayai anda, semakin anda dimuliakan. Dan semakin banyak orang yang mempercayai anda, semakin anda berpengaruh. ( MTST – Reputation )

what is possible to achieve ( 25 May 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:38 am on Monday, June 23, 2008

Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. ( Markus 12 : 44 )

Pengertian solidaritas biasanya disematkan kepada orang yang mampu untuk berbagi dengan kalangan yang tidak berpunya. Maksudnya ditengah kesulitan yang timbul dalam kehidupan ini, mbok yach mereka yang selama ini sudah mapan menolong mereka yang tertimpa kemalangan. Hal ini seperti mungkin terlintas di benak para pembuat keputusan untuk menaikkan harga bbm ditengah harga minyak dunia yang tengah melambung, bahwa selama subsidi bahan bakar mayoritas oleh kalangan yang “kaya”, setidaknya punya kendaraan pribadi. Lha, kalau penulis yang masih menggunakan transportasi umum bagaimana ?

Dari beberapa komentar yang muncul saat awak angkutan diwawancari oleh penyiar berita tv, jawaban standar yang kerap terdengar adalah “ongkos terserah kebijaksanaan penumpang”, maksudnya kalau penumpang membayar secara sadar membayar lebih yach bersyukur atas pengertiannya, namun bila masih keukeuh membayar dengan tarif lama, ya kebangetan gitu, he3…

Artikel ini bukan hendak membahas soal apakah suatu kebijakan yang kelihatannya merugikan orang banyak patut diprotes atau tidak. Konsep pengorbanan mungkin tidak akan mempan untuk mereka yang selama ini dirundung kemalangan, lha apa lagi yang mesti dikorbankan kalau segalanya sudah habis diberikan. Bukannya mereka tidak mengerti namun memang teladan jarang sekali diberikan oleh pihak yang sepatutnya menjadi contoh. Kalau orang susah antre beras, lha orang kaya antre beli roti. Kalau orang miskin ngutang ke warung tetangga saja susah, tetapi kalau orang kaya diberi hutangan mobil mewah kok rasanya mudah banget.

Bila orang kaya kelihatan sok dermawan dengan “mempromosikan” acara sumbangannya untuk diliput media massa mungkin bukan hal aneh lagi, lha wong punya duit kok. Tapi kalau orang miskin ? Penulis jadi teringat akan perkataan mas Deddy Mizwar dalam iklan menyambut 100 tahun hari kebangkitan nasional, salahsatunya tentang makna bangkit adalah “malu, malu jadi benalu, malu minta melulu”. Dalam hal ini termasuk juga dalam meminta dilayani terus oleh orang lain.

Dalam dunia kerja, seberapa banyak dari bawahan yang jengkel dengan tingkah bos yang sering menambah pekerjaan tapi tidak sesuai dengan penyesuaian gaji yang diharapkan ? Atau tugas yang diberikan atasan tidak ditunjang dengan fasilitas yang memadai sehingga beban kerja dirasakan kian menumpuk ? Kutipan dari Lukas 16 : 10a ini kerap menjadi penguat “energi” di kala penulis sempat jenuh dalam menjalani atas tugas rutin kantor sehari-hari : “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia dalam perkara-perkara besar”. Mungkin yang kita kerjakan sekarang ini kelihatan sepele di mata orang awam, tapi Ia yang Maha Melihat tidak memandang hina. Orang yang berbuat baik meskipun rejeki belum mendekatinya, namun bencana telah menjauh darinya. Sedangkan orang yang berbuat jahat meskipun bencana belum menghampirinya, namun rejeki telah menyingkir darinya.

Biasanya sebagai permakluman, kalimat yang kerap dipakai untuk menghibur diri : tiap orang khan punya kekurangan masing-masing. Betul, namun tiap orang juga diperlengkapi oleh kelebihan masing-masing. Setiap orang sudah diberikan talenta yang berlainan agar dapat saling melengkapi, bukan saling merasa kurang lalu berniat untuk mendapatkan semuanya dari orang lain. Btw, berapa banyak dari pembaca yang selama ini sering merasa kekurangan waktu untuk berbuat hal ini itu ? Lalu berapa banyak dari waktu yang kurang itu kita persembahkan kepadaNya, minimal untuk mengucapkan syukur atas berkat kesehatan yang telah diberikanNya selama ini ketimbang dalam beberapa doa yang terucap seringkali berupa gerutu dalam permasalahan tekanan ekonomi ?

HiMTquote :

Ingatlah bahwa bila ada yang hanya mengeluhkan kekurangan dari yang ada, anda akan terbutakan dari yang mungkin dicapai dari yang sekarang telah ada bersama anda. ( MTST- What is possible to achieve )

measured patience ( 11 May 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mei-Jun — himfiles at 3:36 am on Monday, June 23, 2008

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang yang memberi kekuatan kepadaku. ( Filipi 4 : 13 )

Orang sabar disayang Tuhan. Kalimat bernada penghiburan seperti ini pasti sering anda ucapkan untuk menguatkan orang yang sedang tertimpa kemalangan. Biasanya lalu diikuti nasehat agar mereka tabah dalam menjalaninya, siapa tahu ada hikmah yang bisa dipetik dari musibah yang tengah dialami. Mungkin agak terasa janggal kedengarannya kalau kita ganti kata “sabar” diatas dengan kata “jujur”, padahal bukankah orang jujur juga disayang Tuhan ? Namun rupanya di negeri ini banyak orang menganggap remeh kejujuran. Lha wong sudah bertindak jujur kok nasibnya seakan sial melulu, maka karakter sabar kerap menjadi benteng terakhir bahwa masalah yang sedang dihadapi bukanlah akhir segalanya.

Sabar biasanya dikaitkan dengan kata pasrah dan/atau berserah. Diperlakukan tidak adil, sabar. Janji diingkari, sabar. Derajat kesejahteraan tidak naik-naik, sabar. Seolah kelihatannya religius banget, bahwa itu semua sudah ada Tuhan yang mengatur dan menentukan. Kehidupan dibiarkan mengalir apa adanya, bukankah Ia yang menetapkan segala sesuatu indah pada waktuNya ?

Tapi sampai seberapa jauh sich batas kesabaran manusia ? Berapa banyak dari kita yang tidak puas karena selama 5 tahun lebih karir pekerjaannya mentok berhubung sang atasan tidak lengser juga dari jabatannya ? Berapa banyak dari kita yang setiap akhir bulan mengeluhkan gaji yang didapat tidak sepadan dengan pengeluaran yang ada ? Atau berapa banyak dari kita yang cemburu dengan kesuksesan orang lain padahal kita merasa start pada titik yang sama ? Bagi orang2 seperti ini, sabar dianggap sebagai faktor pelemah, bukankah semestinya keterlambatan yang ada harus dikejar segera. Maka ketergesaan menjadi sebuah keharusan agar tidak dianggap sebagai ketertinggalan.

Budaya serba instan bisa jadi karena sebuah proses tidak dihargai ketimbang capaian hasil. Sebagai contoh saja kita melihat bagaimana industri tv menempatkan anak bukan sebagai anak, tetapi sebagai orang dewasa ukuran mini. Bila dulu ditanya cita-citanya apa, mungkin jawaban standar yang meluncur adalah ingin jadi dokter, polisi, tentara, insinyur, dan profesi lainnya. Lha, sekarang inginnya jadi selebritis, minimal ngetop di tv. Meski di sisi lain orangtua merasa bangga, namun bukankah itu sebagai tanda ketidaksabaran para ortu untuk melihat anaknya sukses dalam beberapa puluh tahun lagi ?

Mengapa Tuhan menyukai orang sabar ? Karena dalam pribadi orang sabar ada tanda percaya bahwa Tuhan tidak akan melanggar janjiNya asal manusia pun taat melakukan perintahNya. Banyak orang menganggap siapa tahu Yang Maha Pemberi sedang menunda berkatNya, namun penulis yakin Tuhan tidak suka menunda untuk memberi karena Dia Maha Kaya. Kitalah yang acapkali tidak memantaskan diri agar patut menerimanya. Seringkali kita mengkritikNya tidak memenuhi apa yang kita minta, namun seberapa sering kita malah tidak mensyukuri hal-hal yang nampaknya sepele tapi vital ? Ketika anda sehat, maka sebenarnya anda lebih kaya daripada orang yang berlimpah harta tetapi terbaring sakit selama berbulan-bulan. Saat anda bekerja dan menjadi bawahan orang lain, maka sebenarnya anda lebih beruntung ketimbang mereka yang masih berstatus pengangguran di luar sana. Tapi apakah cukup disitu saja ?

Bila ditanya soal tingkat kepuasan, pastinya jawaban umum adalah tidak puas. Selalu berharap lebih dari yang sudah ada sekarang dan itu wajar saja. Namun bila anda merasa apa yang anda kerjakan ini berskala kecil alias tidak membawa hasil besar, Yang Maha Tahu tengah mengukur kesungguhan dan ketekunan anda. Dalam Dia tidak ada perkara yang terlalu kecil untuk tidak diperhatikan maupun perkara besar yang tidak dapat diselesaikanNya. Jatuh itu biasa, asalkan jangan berbaring terlalu lama disitu. Pribadi yang lemah menunggu nasib, sedangkan pribadi yang kuat membangun nasib. Jadi kalau begitu, sabar bukan berarti menunda apa yang sebenarnya sudah bisa mulai dari hal2 sederhana yang kita bisa kerjakan dulu. Sikap ‘nrimo tidak selalu berarti kita menyerah.

HiMTquote :

Ingatlah bahwa kedewasaan bukanlah hasil dari proses penuaan, tetapi hasil dari proses pengendalian diri ( MTST – Measured patience )

i wanna be rich ( 27 Apr 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 9:19 pm on Friday, April 25, 2008

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMU dan berkata : Siapa Tuhan itu ? Atau kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. ( Amsal 30 : 8b-9 )

Tuhan ingin anda kaya”. Pertanyaannya : apakah itu juga keinginan anda ? Mayoritas pasti menjawab : siapa yang nggak mau kaya ? Namun apa jawaban anda kalau diajukan pertanyaan berikut ini : “setelah kaya, lalu apa ?”. Semisalkan jawaban yang muncul adalah : untuk kesejahteraan keluarga, berarti menjadi kaya bukan lagi tujuan utama anda. Tokh, banyak orang yang menurut pandangan kasatmata kita tidak kaya secara materi, tetapi kok bisa menikmati apa yang namanya sejahtera. Jadi kaya adalah sesuatu yang relatif donk !

Mungkin tidak aneh kalau orang memandang kekayaan sebagai tanda berkat dari Yang Kuasa, sehingga “the opposite side” alias kemiskinan dianggap sebagai kutukan. Ada lagi persepsi bahwa kekayaan dibangun dari kerja keras, jadi orang yang bermalas-malasan memang pantas miskin. Ketika kerja keras ( work hard ) tidak lagi cukup mengena untuk dipahami, muncul istilah baru : kerja cerdas ( work smart ). Cerdas dalam hal apa ? Sebuah ironi dibeberkan bila kita pernah membaca beberapa profil pengusaha yang bahkan SD pun tidak tamat, tetapi bisa menjadi direktur yang membawahi staf dan manajer yang rata2 lulusan perguruan tinggi.

Ada kalimat bijak yang sering penulis dengar dari kalangan marjinal mengenai bagaimana mereka bersikap positif terhadap rendahnya daya beli konsumsi mereka : rejeki di tangan Tuhan ( meski tentunya mereka tetap berusaha gigih memperbaiki taraf kesejahteraannya ). Sikap berserah seperti ini mungkin jarang kita temui dalam diri pengusaha yang sudah mapan, seolah segala kesuksesannya karena buah keputusannya sendiri. Makanya tak heran beberapa karakter orang berpunya seringkali disematkan dengan istilah “OKB” ( orang kaya baru ), mentang2 kaya lalu berlagak angkuh. Lha, kalau orang miskin, apa yang mau disombongkan

Lalu salahkah menjadi kaya ? Dalam berbagai kisah kitab suci, kaya bukanlah dosa. Sebab pasti anda setuju bahwa Tuhan yang kita sembah bukanlah Tuhan yang miskin, yang seolah minta disedekahi dan dibela oleh manusia. Tetapi keinginan menjadi kaya memang bisa menjadi jebakan untuk menghalalkan segala cara, dan yang paling kentara di Indonesia ini, apalagi kalau bukan korupsi. Ada yang berdalih dengan alasan motif ekonomi, namun tak sedikit yang justru karena nafsu serakah, tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang.

Dalam sebuah tema diskusi di milis MTSC, ada pertanyaan kira2 seperti ini : “syarat dasar apa untuk bisa sukses ?”. Setelah para pembaca saling berkomentar, maka jawaban singkat pun diberikan : keinginan. Karena dengan keinginan, kita akan melihat sebuah tujuan lebih besar dari masalah yang mungkin timbul. Lihat saja berapa banyak orang yang depresi karena tidak tahu apa yang diinginkannya, namun ada juga yang stress karena apa yang diinginkannya belum juga terpenuhi.

Tuhan hanya sejauh doa. Mungkin sudah berulangkali kita mengajukan permintaan kepadaNya, dari yang model pengemis sampai model debt-collector, he3… tapi mungkin kita jarang bertanya, apakah yang kita minta seturut kehendakNya sekarang. Sebab Tuhan memiliki alasannya sendiri, mengapa kita masih belum diberikan apa yang kita minta atau sebenarnya waktu yang belum tepat untuk kita pantas menerimanya. Jadi kalau begitu, mengapa kita tidak menginginkan dahulu apa yang telah kita miliki sebagai hal yang selayaknya disyukuri, sebelum kita berhak untuk mendapatkan yang lebih bahkan dari kita bayangkan ?

HiMTquote :

Dan pengertian itulah yang mengangkat siapapun yang termiskin di antara kita untuk tetap bisa menjadi lebih kaya dari mereka yang berhartakan yang bukan haknya. ( MTST – I wanna be rich )

no matter what ( 13 Apr 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 9:10 pm on Friday, April 25, 2008

Karena itu Aku berkata kepadamu : apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. ( Markus 11 : 24 )

Beberapa bulan yang lalu, dunia perbukuan kita dihebohkan oleh sebuah karya yang berjudul “The secret”. Tidak seperti novel “Da Vinci Code” yang menimbulkan kontroversi di kalangan agamawan, buku berukuran saku ini cukup menarik karena menggunakan sudut pandang tentang bagaimana berpikiran positif. Tak berbeda jauh dengan konsep tersebut, dari dalam negeri sendiri muncul istilah “mestakung” yang dilontarkan oleh Yohanes Surya. Tokoh utama yang kerap terlibat dalam penggodokan murid2 berbakat di ajang olimpiade fisika internasional ini mengemukakan sebuah teori secara garis besarnya adalah bila sebuah harapan atau niat diyakini sungguh2, maka di satu keadaan semesta (akan) mendukung. Meskipun secara kasat mata tidak terpola, entah bagaimana caranya apa yang kita ingini dengan tanpa keraguan itu akan terwujud. Mungkin bagi kalangan kebanyakan trend ini adalah hal baru, tapi bukankah sejak dulu kita telah diperkenalkan dengan konsep yang begitu familiar yaitu : iman.

Kita beriman pada sosok Pribadi Maha Kuasa yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya bukan barang aneh lagi. Ketika keadaan kita tengah sekarat, menderita, maupun sengsara, pastinya kita berharap ada sosok Sang Maha Peduli yang akan menolong kita keluar dari situasi yang sesukar apapun. Sedangkan bila sedang mengalami kesenangan, tak jarang kita malah lupa untuk mensyukuri nikmat yang Dia berikan. Kontradiktif, masa khan untuk mengingat kebaikanNya, kita harus mengalami celaka dulu ?

Penulis tertarik pada permainan kata “kalau” dan “tetapi”. Contoh : “saya akan bersikap baik kepada dia kalau dia lebih dulu baik pada saya” atau “ saya mau saja menolong dia tetapi gimana yach dia jahat dulu terhadap saya sich”. Berapa kali kita membuat persyaratan karena kejadian buruk yang terjadi dulu ? Atau mengingat2 daftar kesalahan yang dilakukan orang lain pada kita ? Seolah-olah niat baik yang sebenarnya dimunculkan oleh nurani kita terganjal oleh alam emosi kita. Padahal tahukah anda bahwa seandainya Tuhan senaif manusia seperti itu, alamat akhir kita semua adalah neraka. Jadi kalau begitu, pastinya karakter2 manusia yang diharapkanNya terkumpul di surga bukanlah sosok yang selalu mengharapkan orang lain mengubah tindakannya supaya lebih baik dulu.

Keimanan adalah tindakan “meskipun”. Saya akan tetap mengasihinya, meskipun dia menyakiti hati saya. Saya akan tetap percaya padaNya, meskipun orang lain menganjurkan hal sebaliknya. Saya akan tetap bekerja keras, meskipun gaji yang diterima tiap bulan tidak memadai. Masih banyak lagi contoh lainnya yang mungkin bisa pembaca rangkai sendiri. Kelihatannya mudah, namun dalam prakteknya tidak semua orang bisa melakukan. Hanya orang2 super yang bisa mendamaikan hatinya dengan cara memaafkan kekhilafan orang lain dan melupakannya, tidak peduli seberapa pedihnya luka yang ditimbulkannya.

Keimanan adalah tindakan “merelakan”. Berapa banyak dari kita yang telah berdoa meminta sesuatu kepadaNya agar sesuai keinginan kita pribadi, lalu ketika hal itu tidak diberikan kita menjadi kecewa dan patah semangat ? Mulai timbul pemikiran, apakah Tuhan bisa dipercaya memenuhi keinginan kita ? Hei, Dia Maha Tahu atas segala kebutuhan kita, adapun jika beberapa keinginan kita tak terkabul karena Ia lebih tahu yang terbaik bagi kita dibanding kita sendiri. Lalu di sisi lain, ada pula yang menimpakan kemalangan pada nasib buruk. Yang penulis yakini bukanlah nasib buruk, karena tidak mungkin Pribadi Maha Kasih tega untuk memberikan yang buruk sementara Ia begitu berkuasa menganugerahkan yang baik. Seperti yang dicantumkan pada awal paragraf ini, jangan andalkan kekuatan anda sendiri. Relakan pribadi anda dibentuk olehNya, bagai seorang ahli logam sedang memproses emas murni untuk dijadikan perhiasan mahal.

Disebuah episode MTBA, pikiran penulis disadarkan akan kalimat ini : “jadikan diri anda sebagai pribadi yang mudah dibantu”. Coba periksa, sudah berapa kali Tuhan mengulurkan tanganNya dalam kehidupan anda, namun tangan anda masih saja tidak mau terangkat menyambutNya ? Yach, selama ini kita mungkin mengeraskan hati, menganggap sepi bantuanNya yang tanpa kita sadari selama ini lewat perantaraan orang lain, atau bersikap seolah kesukaran akan berlalu seiring waktu berjalan. Saat orang lain masih mempertanyakan kemampuan kita, setidaknya kita masih punya Tuhan yang tidak meragukan kita.

HiMTquote :

Orang lain boleh meragukan kemampuan kemungkinan-kemungkinan anda, tetapi anda tidak. ( MTST – no mather what )

trusted leader ( 23 Mar 08 )

Filed under: HIMspirit2008 : Mrt-Apr — himfiles at 8:46 pm on Friday, April 25, 2008

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tak lebih daripada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat disamakan ? ( Yesaya 2 : 22 )

Dalam satu kesempatan training yang tak jauh dari tema “character building”, penulis dan rekan karyawan lainnya diperlihatkan sebuah potongan film. Mungkin ada dari antara pembaca yang pernah juga disodori penayangan film “Man of honour” yang dibintangi Cuba Gooding Jr dan Robert De Niro. Bagi yang belum pernah melihatnya, baiknya penulis ulas sekilas saja agar dapat gambarannya. Dikisahkan sang tokoh utama adalah seorang marinir yang kakinya buntung namun bertekad untuk masuk tim penyelam. Dengan kaki palsunya, ia berusaha mengejar cita-citanya meski terbentur pada peraturan yang cukup berat, yakni harus dapat membawakan baju selam yang bobotnya sekitar 2 kali berat tubuhnya dalam 12 langkah. Hal yang bagi orang normal pun sulit dilakukan, mesti ia jalani sebagai test. Dan disinilah penulis mendapatkan inspirasi untuk menulis topik kali ini yakni ketika komandannya mendukung hal tersebut, Ending-nya tonton sendiri saja yach, ‘ntar artikel ini malah jadinya cerita soal film

Dalam setiap organisasi, pastinya ada hubungan antara atasan-bawahan. Sebagai karyawan, kadang dalam satu titik kita merasa atasan tidak mengerti apa mau kita, kebanyakan justru kita sebagai bawahan harus mengerti maunya bos. Seolah kalau bos berbicara global, maka otomatis karyawan harus bisa directly mengejewantahkannya dalam format detail. Namun ketika hasilnya dipertemukan, seringkali malah perdebatan yang muncul, masing2 punya persepsi yang berbeda. Kuncinya sich kesediaan untuk membuka komunikasi yang baik agar terjalin saling pengertian, bukan menyalahkan.

Harta paling utama dari seorang pemimpin adalah kepercayaan anak buahnya. Banyak pemimpin disegani bukan karena tajir dalam memberikan reward dan begitu “bengis” dalam memberikan hukuman. Kalau hanya mengandalkan proses seperti itu, tak ubahnya kerja karyawan diperlakukan sebagai timbangan nilai. Misalnya : oh, karena poin baik karyawan 8 dan poin buruknya -6, lumayan dech masih plus 2 poin . Lain lagi bila berkaca dari sudut pandang karyawan, biasanya sich mayoritas sosok atasan dianggap lebih banyak minusnya, apalagi kalau bersangkutan dengan komparasi soal karier, gaji, tunjangan, insentif, dan sebagainya, he3… Lebih dibenci lagi kalau atasan bersikap otoriter, sombong, dan nggak kenal waktu kalau ngasih tugas seabrek, sehingga keberadaan sang bos ini disyukuri banget kalau beliau tidak ada. Hayo ngaku saja

Namun akan lain bila kepercayaan itu diraih dengan penghormatan masing-masing pihak demi tujuan bersama. Bahwa pekerjaan sang bawahan adalah untuk mendukung atasan dalam menyejahterakan pula bawahan. Sebuah lingkaran siklus yang saling mendukung yang bukan dalam posisi mau enaknya sendiri. Namun kendala pada umumnya untuk membangun mindset soal ini adalah masing2 menunggu pihak lain untuk “take action”. Buat apa saya menghormati orang yang tidak menghormati saya duluan. Hey, ketahuilah bahwa itu bukan pribadi yang membuat anda super.

Berhubung topiknya tentang “pemimpin yang dipercaya” ( tidak terbatas pada sosok yang kita anggap atasan, bukankah tiap orang adalah pemimpin bagi pribadinya sendiri juga ? ), ada 3 tips sederhana yang mungkin bisa anda latih dan praktekkan agar rasa percaya itu tumbuh bukan karena rasa keterpaksaan, yakni : meneladankan, menganjurkan, dan mengharuskan. Bagaimana kita bisa menganjurkan, apalagi mengharuskan seseorang untuk berbuat sesuai yang kita minta bila tidak kita teladankan terlebih dahulu ? Sebuah ironi bukan bila seorang bapak perokok meminta anaknya untuk tidak merokok ?

Jadi kalau begitu bukankah semuanya adalah berdasarkan pelayanan ? Anak buah melayani atasan dan bos melayani pula bawahannya. Saling mempercayai bahwa tanpa yang lain, mereka tidak berarti apa-apa. Kadang penulis pikir, padahal khan Tuhan Maha Kuasa namun mengapa Beliau mempercayakan apa yang dengan mudah bisa dikerjakanNya sendiri untuk dilakukan oleh manusia ? Ia percaya kita mampu, namun pertanyaannya : apakah kita (mau) mempercayaiNya sebagai pemimpin langkah hidup kita ?

HiMTquote :

Integritas adalah kesetiaan kepada yang benar. ( MTDB – trusted leader )

« Previous PageNext Page »