Show me the money ( 10 Agt 08 )
Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya ( Amsal 10 : 22 )
Mungkin sebagian dari pembaca pada beberapa bulan kedepan akan disibukkan untuk terlibat dengan pembuatan budget untuk tahun 2009. Memang manusia tidak tahu beberapa bulan kedepan akan seperti apa, bahkan besok akan terjadi apa pun kita belum tahu. Jadi yang penulis tangkap adalah bahwa budget lebih kepada persepsi mau jadi apa anggaran yang dibuat ini dengan ekspetasi pertumbuhan yang diinginkan. Bila nantinya ada penyimpangan, semoga tidak terlalu meleset dari target yang telah diinginkan.
Bukan, penulis bukan hendak mengajak pembaca berkalkulasi teknis soal neraca dan laporan keuangan, tetapi kepada rentetan slogan yang biasanya menyertai “tim sukses” untuk menyemangati bawahannya. Standar kalimat motivasi itu sebagai contoh : “Tantangan kedepan semakin berat, tapi bukan tidak mungkin untuk kita capai. Pastinya itu semua butuh kerja keras dari kita semua supaya berhasil melewati rintangan yang ada”. Ya, kali ini penulis mau sekilas mengupas soal : kerja keras.
Kerja keras ( work hard ) yang dimaksud topik ini tidak hanya sekedar olah fisik yang membutuhkan stamina kuat, melainkan juga bagi pekerja level staf keatas. Datang paling pagi, pulang paling malam, kalau perlu lembur demi mengejar deadline pekerjaan, tetapi hasil yang didapat hanya begitu2 saja. Adakah yang salah ? Lalu muncullah istilah baru yang tergolong populer belakangan ini : kerja cerdas ( work smart ).
Konsep ini biasanya diimbuhi slogan “bukan anda yang bekerja untuk uang, melainkan uang yang bekerja untuk anda”. Dan tentu saja ujungnya adalah soal investasi. Lha, tapi khan untuk modal investasi ini mesti kerja dulu dan tidak bisa sekonyong-konyong keuntungan itu datang. Warren Buffet saja yang bukunya sekarang marak direferensikan sebagai tokoh sukses dalam hal begini butuh waktu hingga puluhan tahun.
Dalam bentuk variasi lainnya, mungkin anda pernah mendengar istilah “money magnet”, secara sederhana maksudnya bagaimana membentuk karakter pribadi yang dapat menarik uang untuk datang sendiri kepada kita tanpa kita susah2 mencarinya. Wah, kalau gitu sich banyak karyawan yang mungkin tidak perlu mengeluh bahwa hanya tingkatan manajer atau direktur saja yang bisa kaya secara materi. Tapi kapan ?
Ketika kerja keras kita dianggap sebagai hal yang lumrah, bahkan kerja cerdas kita tidak dihargai dengan semestinya, maka level kerja kita harus dinaikkan lagi “jurusnya”, yakni menjadi kerja ikhlas. Maksudnya bukan digaji berapapun serelanya pemimpin perusahaan, tapi anda meyakini bahwa apa yang anda kerjakan tersebut menguntungkan banyak orang dan pihak lain. Orang akan kagum kepada anda yang gajinya kecil dan kerjanya baik, kok ada atasan yang tega membayar anda rendah. Bahkan bila anda mengimani dengan sungguh, Tuhan pun akan mengirimkan curahan berkatNya lewat jalan-jalan yang selama ini mungkin tidak pernah anda pikirkan. Jangan lupa untuk berdoa senantiasa untuk hal2 baik yang diharapkan untuk Tuhan kerjakan dalam kehidupan anda.
Berapa banyak dari anda yang merasa sudah memberi yang terbaik ? Tapi lebih banyak mana dari anda yang sudah memberi dari apa yang menjadi kekurangannya ? Memburu uang demi kesejahteraan anak- istri, tetapi kurang waktu untuk menanam kebersamaan bagi keluarga ? Demikian juga bila kita merenungkan hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta, berapa seringkah percakapan yang kita lakukan denganNya ?
Adakah Tuhan yang menginginkan anda hidup miskin ? Tuhan yang penulis percayai menghendaki umatNya hidup damai berkelimpahan. Jadi kalau begitu, mengapa dari kita masih “tertahan” untuk menikmati karuniaNya tersebut ? Not only the money, show me the miracle !
Kutipan ungkapan perasaan Ayub ini menginspirasi penulis untuk bertekun menantikan saat2 indah itu tiba, sehingga kita bisa berkata : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. ( Ayub 42 : 5 )
HiMTquote :
Merasa bangga karena melihat diri lebih dari orang lain, atau merasa tidak perlu memperhatikan karena diri ini telah mengetahui semua yang harus diketahui, atau merasa rendah karena diri tidak sekaya orang lain – adalah bibit dari semua keputusan yang tidak sehat. ( MTDB – Show me the money )